Tag: tempe

  • Perjalanan Diet Food Blogger Bekasi yang Sukses Pangkas 20 Kg, Tetap Makan Enak


    Jakarta

    Seorang food blogger di Bekasi Adhe Tora menceritakan pengalamannya berhasil menurunkan berat badan 20 kg. Awalnya dia bertekad menurunkan berat badan karena bobotnya sempat berada di angka 100 kg.

    “Gue sempat kena asam urat tinggi, bengkak tangan kanan dan di check sama adik di rumah hasilnya nggak normal,” kata Adhe Tora saat berbincang dengan detikcom, Minggu (26/1/2025).

    Di umurnya yang masih 30-an, Tora sudah mengalami sejumlah keluhan kesehatan. Bukan cuma asam urat tinggi, dia juga mengalami debar dan detak jantung tidak normal padahal tak beraktivitas berat.


    Perjalanan dietnya dimulai di November 2023. Di tiga bulan pertama, Tora menjalani diet intermitten fasting yang membuatnya berhasil turun 15 kg di tahap awal.

    Diet menurut Tora bukan berarti membatasi makanan tertentu, terlebih profesinya sebagai food blogger yang biasa mengonsumsi makanan tinggi kalori.

    “Gue nggak ada pantangan sama sekali. Makan secukupnya ya apalagi keseharian gue emang suka bikin konten kuliner jadi nggak jauh dari makanan tinggi gula, tepung,”

    “Tapi kalau lagi nggak konten, gue emang clean food. Makan tinggi protein misal 3-5 telur, 2-3 potong ayam, tahu, tempe, sayur dan buah,” jelas dia.

    Program penurunan berat badannya juga tak akan sukses jika tidak dibarengi aktivitas fisik. Tora rutin berolahraga di rumah dan menggunakan smartwatch untuk memantau pembakaran kalori tubuhnya.

    “Gue mau menerapkan fun diet yang bikin gue nggak males untuk olahraga yang berulang terus dan jadi lifestyle,” tutur Tora.

    (kna/kna)

    Sumber : health.detik.com

    Alhamdulillah sehat wal afiyat اللهم صل على رسول الله محمد
    image : unsplash.com / Jonas Weckschmied
  • Tren Rebusan-Kukusan Diklaim Lebih Sehat, Ini Saran Dokter Gizi agar Manfaatnya Optimal


    Jakarta

    Sarapan dengan menu rebusan dan kukusan belakangan sedang digemari kalangan Gen Z. Tren ini bahkan mendorong banyak pelaku usaha mulai menjual pilihan makanan yang lebih sehat.

    Spesialis gizi klinik dr Ardian Sandhi Pramesti, SpGK, mengatakan metode memasak dengan cara direbus atau dikukus memang dikenal lebih sehat karena minim penggunaan minyak dan lemak tambahan.

    Menurutnya, cara memasak tersebut dapat membantu mengurangi asupan kalori ekstra serta mencegah terbentuknya lemak trans yang kerap muncul pada makanan hasil penggorengan.


    “Di Indonesia, gorengan bisa mengandung lemak trans karena minyak digoreng ulang atau menggunakan minyak hidrogenasi parsial, yang meningkatkan risiko penyakit jantung jika dikonsumsi berlebih,” ucapnya saat dihubungi detikcom, Rabu (12/11/2025).

    Sebaliknya, masakan kukus justru lebih baik dalam mempertahankan vitamin dan mineral yang larut air, seperti vitamin C dan vitamin B. Proses ini tidak melibatkan suhu tinggi atau pembakaran yang bisa merusak nutrisi.

    Sementara itu, metode merebus memiliki sedikit kekurangan karena sebagian nutrisi bisa larut ke dalam air, terutama jika air rebusannya dibuang.

    “Kalau dilihat bahan utama yang sering dipakai untuk rebusan dan kukusan, seperti ubi, singkong, kentang, atau pisang yang kaya serat, ini semua dapat membantu pencernaan dan menstabilkan gula darah karena mengandung indeks glikemik sedang dan membuat kenyang lebih lama hingga sangat cocok untuk pencegahan dan penanganan obesitas serta diabetes tipe 2 asal dikombinasi dengan makronutrien lengkap lainnya,” tuturnya.

    Agar manfaat sarapan rebusan dan kukusan lebih optimal, dr Ardian mengatakan penting untuk memperhatikan variasi bahan, porsi, dan cara pengolahannya. Menu sehat pun bisa kehilangan nilai gizinya jika tidak diatur dengan baik.

    Upayakan untuk memasak secukupnya, sekitar 10-20 menit saja, agar tekstur tetap lembut dan vitamin yang sensitif terhadap panas tidak banyak hilang. Hindari merebus terlalu lama karena proses pemanasan berlebihan dapat menurunkan kadar vitamin C dan B.

    Selain itu, batasi porsi makan, meski bahan rebusan tergolong sehat, konsumsi karbohidrat berlebih tetap dapat menyebabkan kenaikan berat badan atau kadar gula darah.

    Begitu juga bagi orang dengan kondisi tertentu seperti diabetes, penting untuk tetap memperhatikan total asupan karbohidrat, dengan kisaran 45-65 persen dari kebutuhan kalori harian. Untuk menambah cita rasa, boleh menambahkan sedikit garam atau rempah alami seperti bawang putih, jahe, atau daun salam. Sebisa mungkin hindari tambahan gula, kecap manis, atau saus tinggi kalori yang bisa mengurangi manfaat sehatnya.

    “Menu rebusan dan kukusan yang tampaknya dominan karbohidrat kompleks yang memang baik sebagai sumber energi, tapi kurang seimbang jika tanpa tambahan sumber lainnya. Untuk nutrisi lengkap, ikuti pedoman “Isi Piringku” dari Kemenkes: 1/3 piring untuk karbohidrat (umbi-umbian rebus), 1/3 untuk protein, dan 1/2 untuk sayur-buah,” tuturnya lagi.

    Berikut kombinasi menu yang disarankan.

    • Tambah protein: Telur rebus 1-2 butir untuk 12 gram protein dan rendah kalori, tahu atau tempe kukus, ikan kukus (seperti pepes tanpa minyak), atau kacang rebus (edamame, kacang tanah). Ini untuk bangun dan menjaga massa otot serta menjaga imunitas.
    • Tambah sayur dan buah: Sayur rebus seperti bayam, wortel, atau brokoli untuk vitamin dan serat tambahan. Buah segar seperti pepaya atau apel untuk antioksidan.
    • Lemak sehat: Sedikit kacang atau alpukat jika perlu.
    • Contoh menu seimbang: Ubi rebus + telur rebus + bayam kukus + pisang. Ini bisa penuhi sekitar 300-500 kkal sarapan dengan gizi lengkap, termasuk protein untuk perbaikan sel dan serat untuk kesehatan usus juga mengenyangkan dan memberikan energi yang lama hingga siang.

    (suc/up)



    Sumber : health.detik.com

  • Diet Sambil Tetap Makan Nasi Putih? Bisa Kok, Begini Caranya

    Jakarta

    Nasi putih sering dianggap sebagai ‘musuh’ saat diet. Pasalnya, banyak orang yang beranggapan makan nasi putih dapat menggagalkan diet dan bahkan memicu kenaikan berat badan yang tidak diinginkan.

    Nasi putih mengandung karbohidrat sederhana, yaitu jenis karbohidrat yang mudah dicerna oleh tubuh. Hal ini membuat tubuh cepat lapar, sehingga mendorong keinginan untuk makan lebih banyak.

    Nasi putih juga memiliki indeks glikemik yang tinggi, sehingga dapat dengan mudah menyebabkan kenaikan gula darah. Kedua faktor inilah yang dapat mengganggu program diet dan menghambat penurunan berat badan.


    Lantas, apakah seseorang yang sedang diet benar-benar harus stop makan nasi?

    Spesialis gizi dr Davie Muhamad, SpGK, mengungkapkan makan nasi putih selama diet tetap diperbolehkan. Pasalnya, nasi putih menyediakan karbohidrat yang dibutuhkan tubuh sebagai sumber energi.

    Menurutnya, yang perlu diperhatikan adalah porsi dan defisit kalori. Jadi, porsi nasi putih disesuaikan agar mencapai defisit kalori, sehingga mempercepat penurunan berat badan.

    “Jadi, nasi masih nggak masalah asal porsinya disesuaikan, tergantung tiap orang. Karena setiap orang itu kebutuhan kalorinya berbeda-beda,” ujar dr Davie kepada detikcom beberapa waktu lalu.

    Apa itu defisit kalori? Dikutip dari Healthline, defisit kalori adalah kondisi ketika tubuh membakar lebih banyak kalori dibandingkan jumlah yang masuk ke dalam tubuh.

    Jadi jika seseorang biasanya membutuhkan 1.800 kalori per hari, bisa dikurangi secara perlahan agar kebutuhan kalorinya menjadi 1.500 dan seterusnya.

    Tingkatkan Asupan Protein

    Selain memerhatikan jumlah karbohidrat dan kalori, dr Davie juga menekankan pentingnya asupan protein dan serat. Protein dibutuhkan untuk mempertahankan massa otot, sedangkan serat membantu melancarkan pencernaan.

    Keduanya juga dapat meningkatkan rasa kenyang dan menekan nafsu makan, dua hal yang berkontribusi dalam penurunan berat badan.

    Berikut contoh pola diet seimbang dengan tetap makan nasi untuk sarapan, makan siang, dan malam:

    • Karbohidrat, seperti nasi setengah porsi (setengah centong nasi atau 5-6 sendok makan)
    • Protein, bisa ayam atau ikan dengan ukuran setengah telapak tangan 2 potong, bisa juga diganti dua butir telur (bisa dikombinasikan)
    • Lauk nabati, seperti tahu atau tempe sebanyak satu potong atau sekitar 50 gram
    • Serat, seperti sayur-mayur yang bervariasi sebanyak satu piring kecil atau mangkuk sedang penuh

    dr Davie menambahkan untuk mengurangi konsumsi makanan yang digoreng. Sebab, makanan tersebut cenderung tinggi kalori sehingga bisa menyebabkan peningkatan berat badan.

    “Kalau dari saya boleh saja ada yang digoreng tapi nggak semuanya,” imbuhnya.

    Ia juga menyarankan untuk mengonsumsi makanan tinggi serat, seperti buah-buahan, sebagai selingan untuk mengontrol rasa lapar.

    (ath/naf)



    Sumber : health.detik.com

  • 6 Makanan Tinggi Protein untuk Pangkas Perut Buncit, Sehat dan Mudah Didapat

    Jakarta

    Seseorang yang sedang diet kerap dianjurkan untuk mengonsumsi makanan tinggi protein. Pasalnya, selain menunjang kesehatan secara keseluruhan, protein juga berperan penting dalam proses penurunan berat badan.

    Protein adalah salah satu dari tiga nutrisi makro yang dibutuhkan oleh tubuh. Protein berfungsi untuk membangun dan memperbaiki jaringan tubuh, membentuk antibodi, memicu reaksi biokimia, serta sebagai sumber energi bagi tubuh.

    Tak hanya itu, protein juga dapat meningkatkan metabolisme dan mengurangi asupan kalori. Hal inilah yang membuat nutrisi satu ini sangat dibutuhkan oleh pejuang diet yang tengah menurunkan berat badan.


    Protein dapat diperoleh dengan mudah dari berbagai jenis makanan. Lantas, apa saja makanan tinggi protein yang paling cocok dikonsumsi saat diet?

    Dikutip dari berbagai sumber, berikut daftar makanan tinggi protein untuk diet yang bisa didapat dengan mudah.

    1. Telur

    Telur mungkin menjadi yang pertama terlintas saat berbicara tentang makanan tinggi protein yang murah. Telur dikenal sebagai salah satu makanan yang tinggi akan protein hewani.

    Kandungan protein pada telur terletak pada bagian putihnya. Sementara, bagian kuning telur lebih banyak mengandung lemak sehat, vitamin, mineral, dan antioksidan.

    Selain kaya akan protein, telur juga memiliki kalori yang rendah. Satu butir telur berukuran besar bahkan hanya memiliki 74 kalori.

    2. Dada ayam

    Selain tinggi protein, dada ayam merupakan bagian daging yang paling rendah lemak dan kalori. Inilah yang membuat dada ayam menjadi menu diet yang sering dikonsumsi.

    Dikutip dari Nutritionix, 100 gram dada ayam mengandung sekitar 31 gram protein. Tak hanya itu, dada ayam juga mengandung vitamin B6 dan berbagai jenis mineral.

    3. Daging ikan

    Sudah bukan rahasia lagi kalau ikan termasuk makanan tinggi protein. Bahkan, hampir semua jenis ikan mengandung protein yang cukup tinggi.

    Adapun jenis ikan yang paling kaya akan protein adalah salmon (20 gram), kod (20 gram), dan tuna (28 gram).

    4. Kacang kedelai

    Kacang kedelai adalah salah satu makanan nabati yang memiliki kandungan protein paling tinggi. Dikutip dari laman resmi Kementerian Pertanian Amerika Serikat, 100 gram kacang kedelai mentah mengandung hingga 36 gram protein.

    Makanan olahan kacang kedelai, seperti tempe dan tofu, juga mengandung protein yang cukup tinggi, sehingga bisa berkontribusi terhadap proses penurunan berat badan.

    5. Selai kacang

    Selai kacang tak hanya kaya akan protein, tapi juga mengandung lemak sehat, serat, serta berbagai jenis vitamin dan mineral. Kombinasi nutrisi ini tak hanya menjadikan selai kacang ideal untuk diet, tapi juga membantu menjaga massa otot dan memelihara kesehatan secara keseluruhan.

    Beberapa studi juga mengungkapkan menambahkan selai kacang ke makanan dapat meningkatkan rasa kenyang dan membantu menekan nafsu makan.

    6. Kacang almond

    Kacang almond adalah salah satu makanan tinggi protein yang cocok dijadikan camilan saat diet. Sekitar 100 gram kacang almond dapat mengandung hingga 21 gram protein. Selain itu, kacang almond juga mengandung serat yang dapat membantu melancarkan pencernaan.

    Namun, jangan mengonsumsi kacang almond secara berlebihan. Kacang almond mengandung asam oksalat, yang jika dikonsumsi secara berlebihan dapat meningkatkan risiko batu ginjal.

    (ath/suc)



    Sumber : health.detik.com