Tag: tips renovasi rumah

  • Hindari 6 Hal Ini Kalau Mau Renovasi Rumah Lancar Tanpa Drama


    Jakarta

    Renovasi rumah memang menjanjikan perubahan yang menyenangkan. Banyak orang membayangkan prosesnya akan berjalan lancar selama ada tukang, waktu, dan anggaran yang disiapkan.

    Tapi di balik prosesnya sering muncul drama yang bisa memicu perdebatan dengan tukang yang mengerjakannya. Mulai dari biaya yang tiba-tiba berubah, hasil pekerjaan yang kurang sesuai harapan, hingga jadwal yang terus mundur. Semua ini biasanya berawal dari titik konflik yang kurang diperhatikan.

    Sebagian besar persoalan muncul bukan karena kesalahan satu pihak tetapi karena komunikasi yang kurang jelas, detail pekerjaan yang tidak dirinci sejak awal, dan keputusan yang terlambat diberikan. Jika tidak diatur sejak awal, proyek renovasi bisa mudah bergeser dari rencana ideal menjadi kendala yang sebenarnya bisa saja dicegah.


    Dilansir dari situs Today’s Homeowner, Sabtu (15/11/2025), berikut beberapa konflik yang membuat proyek berantakan, namun sebenarnya bisa dicegah sejak awal.

    1. Komunikasi yang Buruk

    Penyebab terbesar proyek renovasi melebihi anggaran adalah komunikasi yang buruk antara pemilik rumah dan kontraktor. Jika apa yang dibicarakan berbeda dari apa yang dipahami, proyek bisa langsung kacau.

    Di lapangan, situasi seperti ini sering memicu konflik antara pemilik rumah dan tukang. Daftar pekerjaan tidak pernah benar-benar jelas. Pemilik rumah membayangkan hasil (A) sementara tukang mengerjakan (B), lalu harga tiba-tiba berubah karena item pekerjaan ternyata lebih banyak dari perkiraan awal.

    Untuk mencegah kekacauan seperti itu, solusi paling efektif adalah membuat daftar pekerjaan secara rinci, mulai dari volume, bahan, hingga spesifikasi teknis. Serta, pemilik rumah juga harus memastikan pihak kontraktor memahami dan menyetujui.

    2. Tidak Ada Perhitungan yang Detail

    Banyak pemilik rumah menetapkan anggaran hanya berdasarkan perkiraan kasar tanpa menghitung volume pekerjaan, harga material, atau risiko munculnya pekerjaan tambahan. Maka dari itu, membuat daftar yang juga menyertakan anggaran realistis itu penting.

    Dengan begitu, estimasi biaya tidak diserahkan kepada tukang yang terkadang berbeda pemahaman dengan pemilik rumah. Pemilik rumah perlu menghitung volume pekerjaan secara detail melalui rancangan anggaran biaya (RAB), meneliti harga material dan biaya tenaga kerja, serta menyiapkan anggaran sekitar 10-20 persen untuk mengantisipasi biaya tak terduga.

    3. Perubahan Mendadak

    Perubahan yang terjadi di tengah proyek adalah penyebab utama biaya membengkak. Setiap perubahan, sekecil apapun, bisa mempengaruhi jumlah material, tenaga kerja, dan waktu penyelesaian.

    Masalah ini sering muncul dari konflik hasil awal yang kurang sesuai ekspektasi. Banyak pemilik rumah memulai renovasi hanya dengan mengandalkan foto inspirasi, lalu merasa hasil awal tidak sesuai ekspektasi dan meminta perubahan. Solusinya adalah membuat gambar kerja lengkap, menentukan material sejak awal, dan sebisa mungkin menghindari perubahan yang tidak mendesak.

    4. Detail Teknis yang Terlewat

    Saat proyek berlangsung, sering muncul temuan tak terduga seperti pipa bocor, rangka dinding keropos, instalasi listrik usang, atau jamur yang tersembunyi. Masalah-masalah ini baru terlihat ketika pekerjaan sudah berjalan, sehingga bisa mengganggu jadwal dan menambah biaya.

    Hal ini berkaitan juga dengan masalah detail teknis yang terlewat. Stop kontak meleset, titik lampu salah, atau drainase miring kerap baru terlihat ketika proyek sudah setengah jalan. Solusinya adalah melakukan inspeksi awal pada plumbing, kelistrikan, dan struktur, dan membuat denah mekanikal elektrikal yang lengkap, serta menyiapkan anggaran biaya untuk keadaan tak terduga.

    5. Adanya Keterlambatan Stok Material

    Keterlambatan pengiriman barang, stok habis, atau perubahan harga material kerap membuat jadwal proyek bergeser. Masalah ini bisa menunda pekerjaan dan mempengaruhi keseluruhan timeline proyek.

    Namun, masalah timeline bukan hanya soal material. Persetujuan pemilik rumah yang molor, revisi terlambat, atau keputusan mendadak juga bisa menghentikan pekerjaan sementara. Solusinya adalah memesan material lebih awal, menetapkan batas waktu persetujuan misalkan 1×24 jam, dan membuat jadwal kerja mingguan sambil memantau progres secara rutin.

    6. Inflasi dan Kenaikan Harga

    Kenaikan harga material dan biaya tenaga kerja bisa membuat anggaran awal cepat habis. Jika proyek berjalan lama karena perubahan atau keterlambatan, biaya akan terus naik dan anggaran semakin membengkak.

    Masalah ini juga terhubung dengan permasalahan lain, seperti timeline molor membuat harga material naik, komunikasi memburuk, dan proyek pun semakin kacau. Solusinya adalah memesan material lebih awal untuk stok, tidak menunda keputusan penting, dan memastikan timeline tetap berjalan tanpa terkendala persetujuan yang lambat.

    Itulah beberapa permasalahan yang kerap memicu perdebatan dengan tukang. Cegah dan atasi sekarang agar proyek renovasi berjalan dengan lancar. Semoga membantu.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (abr/abr)

    Sumber : www.detik.com

    Alhamdulillah  Allohumma Sholli Ala Rosulillah Muhammad wa ahlihi wa ash habihi. ilustrasi gambar properti : unsplash.com / kenny eliason
    ilustrasi gambar : unsplash.com / kenny eliason
  • Mau Pasang Kanopi Kaca? Cek Dulu Plus dan Minusnya


    Jakarta

    Kanopi kerap dipasang untuk melindungi teras hingga carport di rumah-rumah. Ada banyak material yang dapat digunakan untuk kanopi, salah satunya kaca.

    Sama seperti material lain, penggunaan kaca sebagai kanopi memiliki kelebihan dan kekurangan. Faktor-faktor ini perlu dipertimbangkan saat hendak memasang kanopi kaca di rumah atau bangunan lain. Lantas, apa saja plus-minus pasang kanopi kaca?

    Kekurangan Kanopi Kaca

    Dikutip dari situs Awnings.com, berikut sederet kekurangan kanopi dari kaca yang bisa dipertimbangkan:


    1. Biaya Produksi dan Pemeliharaan Tinggi

    Kanopi kaca membutuhkan biaya pembuatan mahal karena suhu tinggi yang diperlukan untuk memproses bahan baku. Materialnya juga bernilai tinggi sehingga biaya produksinya melejit.

    Kanopi kaca juga memerlukan pelindung dari benda-benda yang mungkin terjatuh atau terlempar. Sehingga biaya pasangnya kanopi rentan melonjak.

    Selain itu, material kaca mudah kotor dengan debu yang mudah menempel. Hal ini membuat perawatannya yang berkala membutuhkan biaya mahal.

    2. Material Rapuh dan Tajam

    Kaca termasuk material rapuh yang gampang terpecah belah. Bahannya mudah sekali pecah bahkan dengan sedikit tekanan. Kanopi dari material ini sulit menahan beban terlalu berat.

    Potongan-potongan kaca pecah yang tercipta juga sangat tajam dan bisa menyebabkan cedera. Sehingga perlu hati-hati saat terpecah.

    3. Sulit Dipasang

    Bukan hanya materialnya yang sulit diproses, kanopi kaca membutuhkan sistem pendukung yang kuat dan bagus. Pemasangan kaca pada kanopi perlu ekstra hati-hati dan membutuhkan tenaga ahli.

    4. Bikin Suhu Panas

    Indonesia termasuk negara tropis. Kaca yang transparan dapat menyerap terik sehingga membuat hunian panas dan gerah. Hal ini bisa menaikkan penggunaan listrik untuk menyalakan kipas atau AC.

    Jenis kanopi via My CanopyIlustrasi kanopi kaca Foto: Jenis kanopi via My Canopy

    Kelebihan Kanopi Kaca

    Selain kekurangan, kanopi kaca punya sejumlah kelebihan yang patut dipertimbangkan:

    1. Memberi Kesan Unik

    Kanopi kaca mampu mempercantik visual rumah. Bagian ini dapat menjadi titik daya tarik bagi siapa saja yang melihatnya. Hal ini dapat menguntungkan saat berniat menjual rumah.

    Kanopi kaca yang dipasang di bangunan komersial juga bisa menarik pengunjung. Apabila dimanfaatkan dengan baik, area di bawah atap ini dapat menjadi spot yang memikat.

    2. Sumber Pencahayaan Maksimal

    Kaca memungkinkan cahaya matahari tembus sepenuhnya. Atap transparan ini memudahkan banyak cahaya alami masuk dan menyorot interior rumah.

    Jika ingin rumah selalu terang dengan pencahayaan alami, kanopi kaca adalah pilihan yang tepat. Cahaya matahari yang menyorot juga bisa membuat warna dan dekorasi hunian menjadi lebih menonjol.

    3. Menghemat Energi

    Pintu masuk cahaya matahari menjadi maksimum dengan dipasangnya kanopi kaca dan membuat rumah selalu terang. Hal ini membuat pencahayaan buatan dari lampu tidak terlalu diperlukan sehingga meminimalisasi penggunaan listrik.

    4. Daya Tahan Lama

    Meski harga produksi dan pemasangannya agak mahal, material kaca punya daya tahan lebih lama dibanding plastik atau fiberglass. Hal ini mampu mengurangi biaya pemeliharaan jangka panjang alias tidak cepat diganti karena materialnya yang awet.

    5. Perlindungan dari Cuaca Buruk

    Kaca kuat bisa menahan hujan lebat dan angin kencang. Jika digunakan pada kanopi tentunya dapat melindungi hunian dari cuaca buruk. Halaman rumah maupun teras juga tetap kering dan tidak terkena cipratan air hujan.

    Dengan penjelasan kelebihan dan kekurangan kanopi kaca, detikers bisa mempertimbangkan kembali jika hendak menggunakan material tersebut. Sebagai pengingat, kanopi kaca perlu perawatan dan perlindungan ekstra agar tetap terlihat estetik.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (azn/row)



    Sumber : www.detik.com

  • Awas Jangan Sampai Salah! Ini 5 Kesalahan Umum Saat Pasang Ubin



    Jakarta

    Ubin kerap menjadi pilihan untuk mempercantik tampilan rumah. Namun, salah memilih dan memasang ubin bisa berakibat fatal, mulai dari lantai yang mengangkat, ubin retak, hingga ruangan tampak kurang menarik.

    Kesalahan kecil dalam proses pemasangan bahkan dapat berujung pada perombakan ulang yang memakan biaya besar. Karena itu, pemilik rumah perlu lebih cermat sebelum menentukan desain, corak, kualitas, dan cara pemasangan ubin.

    Mengutip Ideal Home, ada lima kesalahan umum saat memasang ubin yang sebaiknya dihindari:


    1. Tidak Melihat Sampel Ubin

    Banyak orang langsung membeli ubin tanpa melihat sampelnya terlebih dahulu. Padahal, melihat potongan kecil atau sampel penuh sangat penting untuk memastikan desain dan warna sesuai dengan tampilan ruangan.

    2. Tidak Menentukan Jumlah Ubin yang Dibutuhkan

    Sering kali pemasangan terkendala karena jumlah ubin yang kurang. Hal ini membuat pemilik rumah repot membeli tambahan dalam jumlah kecil, padahal biasanya ubin dijual dalam satu paket.

    3. Membeli Ukuran yang Salah

    Ubin tersedia dalam berbagai ukuran, mulai dari kecil 7,5 x 15 cm hingga besar 60 x 120 cm. Pemilihan ukuran yang tidak sesuai bisa membuat hasil pemasangan terlihat kurang proporsional dan merusak estetika ruangan.

    4. Tidak Merencanakan Layout

    Tanpa perencanaan layout, jumlah ubin dan potongan yang dibutuhkan akan sulit diprediksi. Akibatnya, bisa terjadi kekurangan stok atau pemotongan yang tidak rapi. Layout yang matang membantu efisiensi sekaligus mempercantik hasil akhir.

    5. Tidak Menentukan Jenis Ubin yang Cocok

    Desain ubin yang cantik belum tentu cocok untuk kebutuhan ruang. Finishing dan ketahanan ubin perlu diperhatikan agar tidak mudah retak atau licin, terutama untuk area seperti kamar mandi dan dapur.

    Memilih ubin memang terlihat sederhana, tetapi jika salah perhitungan, biaya dan tenaga yang dikeluarkan bisa jauh lebih besar. Jadi, pastikan kamu teliti sebelum membeli dan memasangnya di rumah.

    (das/das)



    Sumber : www.detik.com

  • Hindari 6 Hal Ini Kalau Mau Renovasi Rumah Lancar Tanpa Drama


    Jakarta

    Renovasi rumah memang menjanjikan perubahan yang menyenangkan. Banyak orang membayangkan prosesnya akan berjalan lancar selama ada tukang, waktu, dan anggaran yang disiapkan.

    Tapi di balik prosesnya sering muncul drama yang bisa memicu perdebatan dengan tukang yang mengerjakannya. Mulai dari biaya yang tiba-tiba berubah, hasil pekerjaan yang kurang sesuai harapan, hingga jadwal yang terus mundur. Semua ini biasanya berawal dari titik konflik yang kurang diperhatikan.

    Sebagian besar persoalan muncul bukan karena kesalahan satu pihak tetapi karena komunikasi yang kurang jelas, detail pekerjaan yang tidak dirinci sejak awal, dan keputusan yang terlambat diberikan. Jika tidak diatur sejak awal, proyek renovasi bisa mudah bergeser dari rencana ideal menjadi kendala yang sebenarnya bisa saja dicegah.


    Dilansir dari situs Today’s Homeowner, Sabtu (15/11/2025), berikut beberapa konflik yang membuat proyek berantakan, namun sebenarnya bisa dicegah sejak awal.

    1. Komunikasi yang Buruk

    Penyebab terbesar proyek renovasi melebihi anggaran adalah komunikasi yang buruk antara pemilik rumah dan kontraktor. Jika apa yang dibicarakan berbeda dari apa yang dipahami, proyek bisa langsung kacau.

    Di lapangan, situasi seperti ini sering memicu konflik antara pemilik rumah dan tukang. Daftar pekerjaan tidak pernah benar-benar jelas. Pemilik rumah membayangkan hasil (A) sementara tukang mengerjakan (B), lalu harga tiba-tiba berubah karena item pekerjaan ternyata lebih banyak dari perkiraan awal.

    Untuk mencegah kekacauan seperti itu, solusi paling efektif adalah membuat daftar pekerjaan secara rinci, mulai dari volume, bahan, hingga spesifikasi teknis. Serta, pemilik rumah juga harus memastikan pihak kontraktor memahami dan menyetujui.

    2. Tidak Ada Perhitungan yang Detail

    Banyak pemilik rumah menetapkan anggaran hanya berdasarkan perkiraan kasar tanpa menghitung volume pekerjaan, harga material, atau risiko munculnya pekerjaan tambahan. Maka dari itu, membuat daftar yang juga menyertakan anggaran realistis itu penting.

    Dengan begitu, estimasi biaya tidak diserahkan kepada tukang yang terkadang berbeda pemahaman dengan pemilik rumah. Pemilik rumah perlu menghitung volume pekerjaan secara detail melalui rancangan anggaran biaya (RAB), meneliti harga material dan biaya tenaga kerja, serta menyiapkan anggaran sekitar 10-20 persen untuk mengantisipasi biaya tak terduga.

    3. Perubahan Mendadak

    Perubahan yang terjadi di tengah proyek adalah penyebab utama biaya membengkak. Setiap perubahan, sekecil apapun, bisa mempengaruhi jumlah material, tenaga kerja, dan waktu penyelesaian.

    Masalah ini sering muncul dari konflik hasil awal yang kurang sesuai ekspektasi. Banyak pemilik rumah memulai renovasi hanya dengan mengandalkan foto inspirasi, lalu merasa hasil awal tidak sesuai ekspektasi dan meminta perubahan. Solusinya adalah membuat gambar kerja lengkap, menentukan material sejak awal, dan sebisa mungkin menghindari perubahan yang tidak mendesak.

    4. Detail Teknis yang Terlewat

    Saat proyek berlangsung, sering muncul temuan tak terduga seperti pipa bocor, rangka dinding keropos, instalasi listrik usang, atau jamur yang tersembunyi. Masalah-masalah ini baru terlihat ketika pekerjaan sudah berjalan, sehingga bisa mengganggu jadwal dan menambah biaya.

    Hal ini berkaitan juga dengan masalah detail teknis yang terlewat. Stop kontak meleset, titik lampu salah, atau drainase miring kerap baru terlihat ketika proyek sudah setengah jalan. Solusinya adalah melakukan inspeksi awal pada plumbing, kelistrikan, dan struktur, dan membuat denah mekanikal elektrikal yang lengkap, serta menyiapkan anggaran biaya untuk keadaan tak terduga.

    5. Adanya Keterlambatan Stok Material

    Keterlambatan pengiriman barang, stok habis, atau perubahan harga material kerap membuat jadwal proyek bergeser. Masalah ini bisa menunda pekerjaan dan mempengaruhi keseluruhan timeline proyek.

    Namun, masalah timeline bukan hanya soal material. Persetujuan pemilik rumah yang molor, revisi terlambat, atau keputusan mendadak juga bisa menghentikan pekerjaan sementara. Solusinya adalah memesan material lebih awal, menetapkan batas waktu persetujuan misalkan 1×24 jam, dan membuat jadwal kerja mingguan sambil memantau progres secara rutin.

    6. Inflasi dan Kenaikan Harga

    Kenaikan harga material dan biaya tenaga kerja bisa membuat anggaran awal cepat habis. Jika proyek berjalan lama karena perubahan atau keterlambatan, biaya akan terus naik dan anggaran semakin membengkak.

    Masalah ini juga terhubung dengan permasalahan lain, seperti timeline molor membuat harga material naik, komunikasi memburuk, dan proyek pun semakin kacau. Solusinya adalah memesan material lebih awal untuk stok, tidak menunda keputusan penting, dan memastikan timeline tetap berjalan tanpa terkendala persetujuan yang lambat.

    Itulah beberapa permasalahan yang kerap memicu perdebatan dengan tukang. Cegah dan atasi sekarang agar proyek renovasi berjalan dengan lancar. Semoga membantu.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (abr/abr)



    Sumber : www.detik.com