Tag: ulama

  • Berapa Jumlah Tiupan Sangkakala di Hari Kiamat? Ini Pendapat Para Ulama


    Jakarta

    Salah satu tanda besar dari datangnya kiamat adalah terdengarnya tiupan sangkakala. Tiupan ini menjadi perantara terjadinya kehancuran alam semesta dan kebangkitan seluruh makhluk.

    Sangkakala ciptaan Allah SWT ini dinamakan Ash-shur, yang akan mengeluarkan suara dahsyat di hari akhir nanti. Diriwayatkan dalam hadits shahih dari Abdullah bin ‘Amr, ia berkata, “Seorang Badui bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apa itu ash-shur?’ Beliau menjawab, ‘Tanduk yang akan ditiup.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Abu Dawud).

    Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya, Allah SWT semenjak menciptakan langit dan bumi, Dia ciptakan pula sangkakala. Lalu, Dia berikan kepada Israfil. Dan, diletakkannya sangkakala itu di mulutnya.” (HR. Thabrani).


    Secara pasti dan jelas bahwa sangkakala ini akan ditiupkan atas perintah Allah SWT dan tidak ada satu pun makhluk yang bisa membungkamnya. Namun, berapa jumlah tiupan sangkakala kiamat ini? apakah hanya satu kali? berikut penjelasannya.

    Berapa Jumlah Tiupan Sangkakala Kiamat?

    Mengutip buku Pintar Hari Akhir yang disusun oleh Abdul Muhsin Al-Muthairi, sebagian ulama yang berpendapat bahwa terdapat tiga kali tiupan. Pertama, nafkhatul faza (tiupan ketakutan). Kedua, nafkhatush sha’aqi (tiupan kematian). Ketiga, nafkhatul ihya wal ba’tsi (tiupan kebangkitan) untuk dihisab dan dibalas amalnya. . Ibnu al-‘Arabî, Ibnu Katsîr, Ibnu Taimiyah, al-Safârînî, dan dan sejumlah ulama lain menilai pendapat pertama ini râjih (yang paling mendekati kebenaran). Ketiga tiupan ini dicantumkan dalam Al-Qur’an berikut ini.

    1. Nafkhatul Faza’ (Tiupan Mengejutkan)

    Dijelaskan dalam buku Kekalkah Kita di Alam Akhirat yang ditulis oleh Rizem Aizid, tiupan sangkakala pertama disebut nafkhatul faza’, yang artinya “tiupan ketakutan”. Tiupan ini berfungsi sebagai peringatan yang mengejutkan dan menakutkan, dan menjadi pertanda atau awal dari datangnya hari kiamat. Mengenai tiupan sangkakala yang pertama ini, Allah SWT berfirman dalam surah An-Naml ayat 87, https://www.detik.com/hikmah/quran-online/an-naml/tafsir-ayat-87-3246

    وَيَوْمَ يُنْفَخُ فِى الصُّوْرِ فَفَزِعَ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَمَنْ فِى الْاَرْضِ اِلَّا مَنْ شَاۤءَ اللّٰهُۗ وَكُلٌّ اَتَوْهُ دٰخِرِيْنَ

    Artinya: “(Ingatlah) pada hari (ketika) sangkakala ditiup sehingga terkejutlah (Faza’) semua yang ada di langit dan semua yang ada di bumi, kecuali yang Allah kehendaki. Semuanya datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri.”

    Saat sangkakala pertama ditiup, seluruh alam semesta, termasuk langit dan bumi beserta segala isinya, akan mengalami guncangan yang dahsyat. Gunung-gunung akan meletus dan rata dengan tanah, laut-laut saling bertabrakan dan mengeluarkan api yang menyala, serta langit pecah dengan luar biasa.

    Hukum gravitasi bumi akan hilang, menyebabkan bintang-bintang berjatuhan dan planet-planet saling bertabrakan. Matahari dan bulan akan bersatu, dan cahaya akan menghilang. Setelah itu, keadaan alam semesta akan kembali seperti sebelum Allah SWT menciptakannya, yaitu berupa kabut dan gas (asap). Inilah kondisi yang akan terjadi pada alam semesta saat hari kiamat, tepat setelah tiupan sangkakala pertama.

    2. Nafkhatu ash-Sha’qi (Tiupan yang Mematikan, Membinasakan)

    Setelah tiupan pertama, Allah SWT memerintahkan peniupan sangkakala untuk kedua kalinya. Tiupan yang kedua dikenal dengan istilah nafkhatu ash-sha’qi, yang berarti tiupan yang mematikan dan membinasakan. Pada tiupan yang kedua ini, semua makhluk akan mati. Allah SWT berfirman dalam surah Az-Zumar ayat 68,

    وَنُفِخَ فِى الصُّوْرِ فَصَعِقَ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَمَنْ فِى الْاَرْضِ اِلَّا مَنْ شَاۤءَ اللّٰهُۗ ثُمَّ نُفِخَ فِيْهِ اُخْرٰى فَاِذَا هُمْ قِيَامٌ يَّنْظُرُوْنَ

    Artinya: “Sangkakala pun ditiup sehingga matilah semua (makhluk) yang (ada) di langit dan di bumi, kecuali mereka yang dikehendaki Allah. Kemudian, ia ditiup sekali lagi. Seketika itu, mereka bangun (dari kuburnya dan) menunggu (keputusan Allah).”

    Setelah semua makhluk di langit dan bumi binasa, kecuali yang dikehendaki oleh Allah SWT, Allah SWT akan memerintahkan malaikat maut untuk mencabut nyawa Jibril, Mikail, Israfil, dan empat malaikat pembawa Arsy. Setelah mereka dibinasakan, tidak ada lagi yang tersisa, kecuali Allah SWT dan malaikat maut.

    Kemudian, Allah SWT akan berkata kepada malaikat maut, “Wahai malaikat maut, kamu adalah salah satu makhluk-Ku, maka sekarang matilah kamu.” Dengan perintah tersebut, malaikat maut pun akan mati, dan yang tersisa hanyalah Allah Yang Maha Perkasa, Yang Hidup, Yang Tidak Pernah Mati, Yang Awal yang tidak ada sebelumnya, dan Yang Akhir yang tidak ada sesudahnya.

    3. . Nafkhatul Ba’tsi (Tiupan Yang Membangkitkan)

    Setelah 40 hari, Allah SWT menurunkan hujan dari langit yang berupa gerimis atau naungan. Dengan gerimis tersebut, semua jasad makhluk yang telah mati akan hidup kembali. Semua tubuh manusia akan hancur kembali kecuali ‘ajbu ad-dhanab (tulang ekor), yang menjadi asal mula tersusunnya kembali tubuh atau jasad mereka.

    Kemudian, Allah SWT menghidupkan kembali Malaikat Israfil dan memerintahkannya untuk berseru, “Wahai tulang-tulang yang hancur, sendi-sendiri yang terputus, bagian-bagian yang terpisah, dan rambut-rambut yang tercabik, sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk bersatu kembali untuk keputusan keadilan.”

    Allah SWT berfirman dalam surah Yasin ayat 53,

    إِن كَانَتْ إِلَّا صَيْحَةً وَاحِدَةً فَإِذَا هُمْ جَمِيعٌ لَّدَيْنَا مُحْضَرُونَ

    Artinya” “Teriakan itu hanya sekali saja, maka seketika itu mereka semua dihadapkan kepada Kami (untuk dihisab).”

    Setelah sangkakala ditiup untuk ketiga kalinya, manusia akan bangkit dari kuburnya dan menghadap Rabb semesta alam. Mereka bangkit tanpa alas kaki, tanpa pakaian, dan tanpa dikhitan. Semua umat manusia akan dikumpulkan di Padang Mahsyar untuk menjalani hisab (perhitungan amal).

    Namun, sebagian ulama lain juga berpendapat bahwa tiupan sangkakala pada hari kiamat hanya terjadi dua kali. Pertama, nafkhatush sha’qi (tiupan kematian). Kedua, nafkhatul ba’tsi (tiupan kebangkitan). Jumlah tiupan ini ditegaskan oleh pendapat Ibnu Abbas yang mengatakan, “Sangkakala ditiup dua kali, yaitu tiupan pertama dan tiupan kedua. Demikianlah pendapat Mujahid, al-Hasan, Qatâdah, al-Dhahhâk, dan selainnya.”

    Nabi SAW juga memberi isyarat yang mendukung pendapat ini. Diriwayatkan oleh Abu Hurairah, ia berkata,

    “Nabi pernah bersabda, ‘(Jarak waktu) antara dua tiupan itu empat-puluh.” Orang- orang lantas bertanya, “Wahai Abu Hurairah, empat-puluh hari?” Ia menjawab, “Saya tidak mau mengatakan.” Mereka bertanya lagi, “Empat-puluh bulan?” Ia menjawab, “Saya tidak mau mengatakan.” Mereka masih bertanya, “Empat-puluh tahun?” Abu Hurairah tetap menjawab, “Saya tidak mau mengatakan.”

    Di sisi lain, ada juga yang menyatakan bahwa tiupan ketakutan (Faza’) dan tiupan kematian (Sha’qi) adalah satu tiupan. Ibnu Hajar berkata, “Perbedaan kematian dan ketakutan tidak mengandaikan bahwa keduanya tidak terjadi secara bersama-sama pada tiupan pertama.” Dalam sebuah riwayat juga ditunjukkan bahwa tiupan pertama akan didengar oleh seluruh umat manusia, bahkan ke tempat yang jauh sekali pun. Begitu mendengar tiupan itu, mereka akan terkejut dan ketakutan, lalu mati.”

    Meskipun ada dua pendapat yang berbeda mengenai jumlah tiupan sangkakala kiamat ini, keduanya memiliki dasar yang kuat dan keduanya mendekati kebenaran. Perbedaan dari keduanya pun sangat tipis, dan jika ada yang menyatakan bahwa tiupan pertama menyebabkan manusia mati karena ketakutan, hal itu tidaklah bertentangan dengan pendapat yang pertama. Wallahua’lam.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Pemerintah dan DPR Harus Meringankan Jamaah



    Jakarta

    Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) menanggapi usulan biaya haji 2024 yang tengah ramai dibahas, khususnya dalam rapat Panitia Kerja (Panja) Haji DPR. Sebagai organisasi Islam dengan basis massa terbesar di Indonesia, NU memiliki perhatian besar terhadap kebijakan haji.

    Gus Yahya menjelaskan salah satu faktor utama yang mempengaruhi biaya haji adalah nilai tukar mata uang. Sebab, seluruh kegiatan ibadah haji berlangsung di Arab Saudi dan menggunakan mata uang riyal. Fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap riyal menjadi aspek yang sangat menentukan besaran biaya yang harus ditanggung jemaah.

    “Kalau dilihat dari harga-harga di sana, menurut teman-teman yang terlibat dalam pengelolaan haji, sebenarnya perubahan harga di Arab Saudi itu tidak terlalu signifikan. Harga-harga di sana relatif stabil. Masalahnya ada pada nilai tukar rupiah terhadap riyal yang berubah-ubah,” ujar Gus Yahya saat jumpa pers di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Jumat (3/1/2025).


    “Jadi, biaya dalam rupiah naik bukan karena harga di Arab Saudi, tetapi karena fluktuasi nilai tukar,” papar Gus Yahya.

    Ia menekankan persoalan ini bukan sekadar soal efisiensi manajemen dalam pengelolaan haji, tetapi juga terkait dengan kinerja ekonomi nasional secara lebih luas. Stabilitas nilai tukar, kata Gus Yahya, mencerminkan kondisi perekonomian secara keseluruhan yang berdampak pada biaya yang harus dikeluarkan jemaah haji. Pihaknya berharap pemerintah dan DPR bisa menetapkan biaya yang meringankan jemaah.

    “Kita harus memahami bahwa ini bukan hanya soal manajemen yang efisien, tetapi juga kinerja ekonomi nasional. Pemerintah dan DPR perlu bekerja sama untuk menetapkan biaya haji yang paling meringankan bagi jamaah, sejalan dengan situasi ekonomi yang ada,” tambahnya.

    Gus Yahya juga menyampaikan keyakinannya bahwa pemerintah bersama DPR akan berupaya sebaik mungkin dalam menentukan besaran biaya haji. Baginya, yang terpenting adalah memastikan kebijakan tersebut dapat memberikan keringanan bagi jemaah, mengingat ibadah haji adalah kewajiban bagi umat Islam yang mampu secara finansial.

    Diberitakan sebelumnya, Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam rapat kerja dengan Komisi VIII DPR RI mengusulkan rata-rata Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) sebesar Rp 93.389.684,99 atau sekitar Rp 93,3 juta.

    Usulan ini merujuk pada nilai tukar Dolar Amerika sebesar Rp 16.000 dan Riyal Arab Saudi sebesar Rp 4.266,67. Sementara itu, besaran yang dibayarkan oleh jemaah haji 2025 atau Biaya Perjalanan Ibadah Haji (Bipih) mencapai Rp 65,3 juta.

    Biaya yang harus dibayar jemaah mengalami kenaikan hampir Rp 10 juta dari tahun sebelumnya. Pada 2024, Bipih rata-rata Rp 56,04 juta.

    (hnh/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Bertemu BPKH, Menag Ingin Efektivitas Pengelolaan Dana Haji Ditingkatkan



    Jakarta

    Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, mendorong Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam mengelola dana haji. Hal ini disampaikan Menag dalam audiensi dengan Ketua Dewan Pengawas BPKH, Firmansyah N. Nazaroedin.

    Mengutip laman Kemenag, Menag Nasaruddin Umar menyoroti pentingnya target yang jelas dalam pengelolaan dana haji. Jika bekerja tanpa tujuan yang pasti, ia menilai sulit untuk mencapai hasil maksimal.

    “Dewan Pengawas perlu memberikan masukan strategis untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi kerja,” ujar Menag di Kantor Pusat Kementerian Agama RI, Jakarta, Senin (6/1/2025).


    Ia juga menekankan pentingnya penguatan manajemen risiko. Hal ini untuk menghindari kerugian akibat investasi.

    Selain itu, Menag juga menyoroti pentingnya komunikasi yang baik antara BPKH dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) terkait perbedaan persepsi mengenai konsep syariah dalam pengelolaan dana haji. Jika tidak, perbedaan ini akan terus menjadi masalah.

    “Komunikasi antara BPKH dan MUI juga perlu ditingkatkan. Ada perbedaan asumsi terkait konsep syariah yang harus dijembatani, sehingga semua pihak memiliki pemahaman yang sama,” papar Imam Besar Masjid Istiqlal itu.

    Ketua Dewan Pengawas BPKH, Firmansyah N. Nazaroedin, mengakui bahwa masih banyak PR yang harus mereka hadapi. Mulai dari koordinasi internal hingga pengelolaan investasi.

    “Saat ini, return investasi BPKH rata-rata hanya 6,6% hingga 6,7%, yang hampir setara dengan deposito. Padahal, yang diharapkan adalah investasi langsung yang memberikan return lebih tinggi,” tutur Firmansyah dalam kesempatan yang sama.

    (hnh/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Menag Upayakan Kambing Dam Haji Dapat Disembelih dan Dibagikan di Indonesia



    Jakarta

    Menteri Agama (Menag) RI saat ini tengah mengupayakan agar kambing Dam haji jemaah Indonesia nantinya dapat disembelih dan didistribusikan langsung untuk masyarakat Indonesia. Hal ini bahkan telah dibahas bersama Menteri Haji dan Umrah Arab Saudi Tawfiq F Al Rabiah.

    Niat baik ini juga disampaikan Menag Nasaruddin dalam Rapat Kerja Komisi VIII DPR RI bersama Kepala Badan Penyelenggara Haji (BPH) serta Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Kepala BPKH di Gedung DPR, Senayan Jakarta yang disiarkan langsung melalui YouTube DPR RI, Senin (6/1/2025).

    Menag Nasaruddin menyampaikan hal ini setelah pembahasan penetapan biaya haji 1446 H/2025 M.


    Perjuangan untuk menyembelih Dam haji di Indonesia merupakan salah satu langkah untuk memberi kebermanfaatan bagi masyarakat Indonesia.

    “Pembicaraan dengan menteri haji, kami menanyakan apakah boleh dam dilaksanakan di Tanah Air dengan berbagai macam pertimbangan dan dari segala sudut syariah untuk menghindari masalah-masalah,” ujar Menag Nasaruddin.

    Menag Nasaruddin telah menyampaikan hal ini pada Menteri Haji dan Umrah Arab Saudi Tawfiq dan ditanggapi dengan baik.

    “Itu telah dijawab oleh menteri haji, kami tidak perlu mengurus lagi pengalengan, mengurus penyembelihan. Karena 1/5 jemaah haji dari Indonesia dan pemerintah Saudi akan merasa terbantu,” jelas Menag Nasaruddin.

    Meskipun mendapat sambutan baik, namun Menag tetap harus mengkaji dan menunggu hasil keputusan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) selaku pemegang kewenangan yang mengeluarkan fatwa.

    “Kami sedang bernegosiasi dengan MUI selaku yang mempunyai kewenangan, selaku yang mempunyai fatwa,” tegas Menag Nasaruddin.

    Menag juga menyampaikan perkiraan, bahwa jika nantinya disetujui dan sesuai dengan syariat yang berlaku maka akan ada lebih dari 200 ribu kambing Indonesia yang akan disembelih di Indonesia dan dagingnya akan dinikmati untuk masyarakat Indonesia.

    “Semoga ini memberi kemanfaatan untuk kita. Mohon doanya agar kita diberi hidayah dari Allah SWT agar tidak melanggar syariah sekaligus mendapatkan kebermanfaatan,” pungkas Menag Nasaruddin.

    (dvs/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Prabowo Minta Ongkos Haji Turun Padahal Dollar Naik, Ini Respons Menag



    Jakarta

    Menteri Agama Nasaruddin Umar merespons permintaan Presiden Prabowo Subianto terkait penurunan biaya haji. Nasaruddin menyebut akan mengupayakan hal tersebut.

    “Kita usahakan,”ujar Nasaruddin Umar saat ditemui di Kongres Pendidikan Nahdlatul Ulama, di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Rabu (22/1/2025).

    Ia menjelaskan bahwa tantangan utama dalam menurunkan biaya haji adalah kenaikan kurs dolar AS terhadap rupiah. Selain itu, kontribusi dari Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), yang sebelumnya mencapai 40 persen, kini turun menjadi 38 persen.


    “Dollar kan tambah naik sekarang, dulu Rp15.000 sekarang Rp16.200. Dulu kontribusi BPKH itu 40 persen sekarang tinggal 38 persen. Harga di sana juga mahal, pajaknya mahal, tapi justru ongkos haji bisa turun. Itu luar biasa,” jelas Nasaruddin.

    Meski demikian, ia mengingatkan bahwa biaya haji yang telah disepakati bersama DPR melalui mekanisme pembahasan komprehensif sudah mempertimbangkan berbagai aspek, termasuk subsidi dan efisiensi operasional.

    “Kan sudah kesepakatan DPR kemarin,” tambahnya.

    Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan ketidakpuasannya terhadap biaya haji 2025. Ia berharap, ongkos haji bisa diturunkan lagi.

    “Mungkin pertama kali dalam sejarah Republik ini kita turunkan harga naik haji. Itu juga kita belum puas. Saya perintahkan cari lagi kesempatan dan peluang untuk turunkan harga terus. Efisiensi, efisiensi, efisiensi,” kata Prabowo usai meresmikan PLTA Jatigede, Sumedang, Jawa Barat, Senin (20/1/2025), dilansir detikFinance.

    Seperti diketahui, biaya perjalanan ibadah haji (Bipih) 2025 telah diupayakan untuk lebih terjangkau tanpa mengorbankan kualitas pelayanan kepada jemaah. Dari Rp 56.046.172, kini menjadi Rp 55.431.750. Biayanya turun sekitar Rp 600.000 dari ongkos haji 2024.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Fokus Membuat Jemaah Tiga Kali Tersenyum



    Jakarta

    Pelaksanaan ibadah haji semakin dekat, Kementerian Agama (Kemenag) sibuk mempersiapkan berbagai layanan agar dapat memberikan pengalaman ibadan yang baik bagi jemaah haji. Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar tengah mengusahakan agar para jemaah bisa tersenyum sepanjang menjalankan ibadah haji.

    Ditemui detikHikmah dalam acara Sarasehan Ulama, Menag Nasaruddin menegaskan bahwa saat ini fokus utama Kemenag bukan soal penambahan kuota, melainkan meningkatkan pelayanan.

    “Kami konsentrasinya bukan penambahan kuota, tapi bagaimana jemaah haji itu bisa tiga kali tersenyum,” kata Menag Nasaruddin di Jakarta, Selasa (4/2/2025).


    Menag Nasaruddin juga menjabarkan maksud tiga kali jamaah tersenyum.

    “Tersenyum di awal karena biayanya lebih murah, tersenyum kedua karena pelayanannya lebih bagus, tersenyum ketiga karena begitu dia pulang, mereka mendapatkan semangat untuk membangun negerinya dengan baik, nasionalisme-nya makin kuat,” beber Menag Nasaruddin.

    Dalam kesempatan ini, Menag Nasaruddin juga menjelaskan hubungan antara ibadah haji dan semangat nasionalisme. Para pahlawan dan aktivis kemerdekaan merupakan orang-orang yang juga jamaah haji.

    “Ingat Proklamasi Kemerdekaan kita itu, banyak sekali aktivis-aktivis dari jemaah haji. Maka itu Snouck Hurgronje itu sengaja datang diselipkan di Saudi Arabia untuk memahami, kok kenapa para haji ini paling getol untuk memerdekakan Indonesia,” jelas Menag Nasaruddin.

    Lebih lanjut, Menag juga berharap agar semua jemaah haji bisa kembali membangun bangsanya dengan baik, kembali menjadi pahlawan pembangunan bangsanya sendiri dengan baik.

    “Kita sangat yakin makin sejahtera bangsa Indonesia, makin enak beribadah. Kalau makin rusak alam semesta ini, makin tidak bisa khusyuk beribadah,” lanjut Menag.

    Untuk menjamin kualitas pelayanan bagi jemaah haji selama di Saudi, Menag menjelaskan sudah ada kontrak-kontrak yang ditandatangani sebagai bentuk kerjasama antara pemerintah Indonesia dengan Arab Saudi.

    “Insyaallah sudah jalan lancar kok semuanya,” pungkas Menag.

    (dvs/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • BPKH Kerja Sama dengan MUI, Tingkatkan Ekonomi Umat-Optimalisasi Keuangan Haji



    Jakarta

    Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) meneken Nota Kesepahaman (MoU) dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada Selasa (11/2) di kantor MUI Pusat Jakarta. Kerja sama tersebut bertujuan meningkatkan ekonomi umat Islam dan sumber daya manusia (SDM) hingga optimalisasi pengelolaan keuangan haji.

    Kepala Badan Pelaksana BPKH Fadlul Imansyah mengatakan bahwa MoU tersebut adalah perpanjangan dari nota kesepahaman sebelumnya yang berakhir pada Desember 2024. Nantinya, nota yang baru ditandatangani berlaku hingga 2027.

    “Kerja sama dengan MUI sangat penting bagi BPKH dalam menjalankan pengelolaan keuangan haji yang berprinsip syariah,” ujarnya dalam rilis yang diterima detikHikmah, Rabu (12/2/2025).


    MoU yang diteken antara BPKH dan MUI itu mencakup beberapa poin penting. Nota kesepahaman tersebut akan mendorong kerja sama di bidang pengelolaan keuangan haji, pemanfaatan hasil kajian dan penelitian untuk pengembangan keuangan haji, serta penyusunan dan penerbitan fatwa terkait pengelolaan keuangan haji dan produk jasa syariah.

    Tak sampai di situ, kerja sama ini juga mencakup pengkajian, pendidikan, pelatihan dan konsultasi terkait pengelolaan keuangan haji serta kemaslahatan umat Islam.

    Diharapkan, MoU tersebut dapat mendorong pengembangan ekonomi umat Islam serta meningkatkan kontribusi dana kemaslahatan bagi MUI dan ormas Islam lainnya. Peningkatan kapasitas SDM dan sarana prasaran MUI juga menjadi fokus dalam kerja sama ini.

    Ketua Umum MUI, K.H. Anwar Iskandar melalui sambutannya yang disampaikan secara daring menyampaikan apresiasi atas kerja sama BPKH dan MUI. Ia menekankan bahwa manfaat dari nota kesepahaman tersebut tak hanya bagi calon jemaah haji, tetapi juga umat Islam secara luas.

    “Hadirnya BPKH ini memberikan manfaat yang tidak kecil bagi jemaah haji, tapi ternyata juga di luar itu, yaitu umat Islam lainnya,” terang Anwar.

    Sebagai tindak lanjut dari MoU ini, BPKH dan MUI akan menyusun Perjanjian Kerja Sama (PKS) yang lebih detail dan teknis.

    Turut hadir dalam acara Anggota Badan Pelaksana BPKH Sulistyowati, Acep Riana Jayaprawira, Harry Alexander, dan Indra Gunawan. Ada juga Wakil Ketua Umum MUI Marsudi Syuhud, dan Sekjen MUI Amirsyah Tambunan juga turut menghadiri acara tersebut.

    (aeb/inf)



    Sumber : www.detik.com

  • BPKH Temui Ketum PBNU, Minta Dukungan Revisi UU Keuangan Haji



    Jakarta

    Kepala Badan Pelaksana Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) Fadlul Imansyah bersama Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf mengadakan pertemuan. Silaturahmi berlangsung di Gedung PBNU, Jakarta hari ini.

    “Alhamdulillah hari ini kami sudah melakukan silaturahmi dengan Ketum PBNU, ada beberapa hal yang kami diskusikan,” kata Fadlul kepada wartawan usai pertemuan, Rabu (19/2/2025).

    Lebih lanjut ia mengungkap pertemuan itu diadakan untuk meminta dukungan tambahan terkait rencana revisi undang-undang pengelolaan keuangan haji.


    “Karena saat ini seperti yang telah diketahui sebelumnya, kita sudah dalam proses untuk melakukan revisi atau perubahan undang-undang 34 tahun 2014 untuk menyelaraskan dengan penyelenggaraan ibadah haji di undang-undang nomor 8 tahun 2019,” paparnya.

    Ke depannya, terang Fadlul, ini menjadi satu pijakan untuk memberi peningkatan kualitas penyelenggaraan ibadah haji. Ia merasa dukungan dari PBNU sangat dibutuhkan untuk memperoleh opini yang menguatkan kelembagaan dalam penyelenggaraan ibadah haji.

    “Yang pasti kami butuh dukungan dan butuh beberapa support dari PBNU sebagai salah satu ormas terbesar di Indonesia agar mendapatkan pendapat atau opini yang menguatkan kelembagaan BPKH dalam penyelenggaraan ibadah haji,” urainya.

    Selain itu, BPKH juga meminta dukungan PBNU terkait porsi pembagian antara nilai manfaat dengan Bipih.

    “Karena seperti yang kita ketahui bersama, MUI sudah memberikan ijtima terkait dengan porsi yang disarankan untuk pembagian nilai manfaat. Ke depannya akan kita lakukan sesuai dengan roadmap,” lanjut Fadlul.

    Meski demikian, BPKH juga membutuhkan dukungan serta fatwa dari Bahtsul Masail terkait ketetapan MUI tersebut.

    “Namun kami butuh dukungan dan fatwa juga mungkin dari Bahtsul Masail terkait dengan ketetapan MUI sehingga semuanya bisa berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan oleh masyarakat,” tandasnya.

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Perumpamaan Ahli Ilmu dengan Ahli Ibadah Menurut Hadits Nabi



    Jakarta

    Ahli ilmu dan ahli ibadah memiliki keutamaan masing-masing. Rasulullah SAW pun menggambarkan kedudukan keduanya melalui sebuah perumpamaan yang diambil dari benda-benda langit.

    Diriwayatkan dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda,

    “Keutamaan ahli ilmu dibanding ahli ibadah sama seperti keutamaan bulan pada malam purnama dibanding bintang-bintang lainnya.” (HR Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan lainnya dari Abu Darda)


    Dalam redaksi lain dikatakan, “Sesungguhnya keutamaan seorang alim (ulama) dibandingkan seorang ahli ibadah seperti keutamaan bulan atas seluruh bintang.”

    Menurut Prima Ibnu Firdaus al-Mirluny dalam buku Seri Syarah Hadits Nabi: Keutamaan Menuntut Ilmu, hadits tersebut mengandung maksud bahwa keutamaan orang yang ahli ilmu kemudian mengamalkan ilmunya itu jauh di atas keutamaan ahli ibadah yang bukan ahli ilmu.

    Ia menjelaskan, Rasulullah SAW memberikan perumpamaan bagi ahli ilmu bagaikan bulan karena cahaya bulan menerangi penjuru bumi dan meluas ke seluruh arah sehingga manusia dapat mengambil manfaat dari cahaya tersebut.

    Sedangkan ahli ibadah yang diibaratkan bintang-bintang di langit, ini didasarkan karena cahaya bintang tidak melewati dirinya sendiri atau hanya menjangkau sesuatu yang dekat darinya.

    “Seperti itulah ibadah seorang ahli ibadah, yang mana ibadah tersebut hanya bermanfaat bagi dirinya sendiri, dan orang di sekitarnya,” jelas Ibnu Firdaus dalam bukunya.

    Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr dalam Kitab adz-Dzikru wa ad-Du`a` fi Dhau`il Kitab wa as-Sunnah menyebut bahwa perumpamaan antara ahli ilmu dan ahli ibadah dalam hadits tersebut mengandung rahasia yang sangat unik seperti ditegaskan oleh banyak ulama.

    Salah satunya Imam Ibnu Rajab rahimahullah. Ia mengatakan, rahasia dalam hal ini–Allah Mahatahu–adalah bahwa cahaya bintang-bintang itu hanya menyinari dirinya, sedangkan bulan pada malam purnama menerangi semua penduduk bumi.

    “Rasulullah menggunakan kata kawakib (atas semua planet), bukan nujum (atas semua bintang), karena kawakib adalah bintang yang berjalan dan tidak bisa dijadikan petunjuk. Ia sama kedudukannya dengan ahli ibadah yang manfaatnya terbatas pada dirinya sendiri,” jelas Ibnu Rajab dalam Syarh Hadits Abu Dzar fii Thalabil Ilmi.

    Para ulama menyimpulkan, hadits tersebut menunjukkan bahwa keutamaan ilmu lebih tinggi dari ibadah. Dalam Musnad Al-Bazzar, Al-Mustadrak Al-Hakim dan lainnya, dari Sa’id bin Abu Waqqash RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda,

    “Keutamaan ilmu itu lebih aku cintai daripada keutamaan ibadah. Dan sebaik-baik keagamaan kalian adalah wara.”

    Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr menjelaskan lebih lanjut, di antara perkara yang menunjukkan keutamaan ilmu atas seluruh amalan sunnah serta hal-hal yang disukai yang terdapat zikir di dalamnya, bahwa ilmu mengumpulkan semua keutamaan amal-amal yang terpencar.

    Telah banyak atsar-atsar yang menyebutkan tentang keutamaan ilmu. Ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Tidak ada sesuatu dimaksudkan untuk Allah SWT yang lebih utama daripada menuntut ilmu. Tidak ada ilmu dituntut dalam suatu masa yang lebih utama daripada hari ini.”

    Adapun, Al-Hasan Al-Bashri berkata, “Orang yang berilmu lebih baik daripada orang yang zuhud terhadap dunia, dan orang yang bersungguh-sungguh dalam ibadah, dia menebar hikmah Allah, jika diterima niscaya dia memuji Allah, dan jika ditolak niscaya dia memuji Allah.”

    Perumpamaan keutamaan ahli ilmu dengan ahli ibadah juga disebutkan dalam riwayat dengan redaksi berikut,

    “Kelebihan ahli ilmu (‘alim) terhadap ahli ibadah (‘abid) adalah seperti kelebihanku terhadap orang yang paling rendah di antara kamu sekalian.”

    (kri/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Berapa Lama Doa Nabi Yunus Dikabulkan?


    Jakarta

    Nabi Yunus AS terkenal dengan kisah dan doanya saat ditelan paus. Kini, doa Nabi Yunus saat di dalam perut paus dapat diamalkan untuk mengabulkan hajat.

    Merangkum buku Dahsyatnya Doa Para Nabi oleh Syamsuddin Noor, Nabi Yunus AS adalah nabi yang diutus Allah SWT untuk berdakwah kepada penduduk di tempat bernama Ninawa. Sebab, penduduk di daerah ini masih dalam kegelapan, kebodohan dan kekafiran.

    Singkat cerita, perjalanan dakwah Nabi Yunus AS tidaklah mulus. Penduduk Ninawa adalah orang-orang yang keras kepala, mereka telah menutup mata dan telinga mereka dari ajaran Nabi Yunus AS.


    Sikap penduduk Ninawa membuat jengkel dan marah Nabi Yunus AS. Beliau memutuskan untuk pergi meninggalkan kewajiban dakwahnya kepada penduduk Ninawa untuk mengesahkan Allah SWT.

    Di tengah pelariannya, Nabi Yunus AS sampai di tepi dermaga dan dia mendapatkan sebuah kapal yang penuh dengan muatan siap untuk berangkat. Beliau akhirnya memutuskan untuk menumpang di kapal tersebut.

    Namun, saat mengarungi lautan keadaan memburuk karena kapal yang ditumpangi Nabi Yunus AS hampir tenggelam karena badai. Awak kapal memutuskan untuk mengundi siapa di antara penumpang yang harus keluar dari kapal tersebut.

    Setelah dilakukan pengundian, ternyata nama Nabi Yunus AS yang keluar sebanyak 3 kali. Akibatnya, Nabi Yunus AS harus dikorbankan untuk dilempar ke laut.

    Saat terombang-ambing di tengah laut, datanglah seekor paus besar. Paus tersebut kemudian menelan Nabi Yunus AS, tapi tidak memakannya. Ini membuat tubuh Nabi Yunus AS terjebak di dalam perut paus.

    Selama di dalam perut paus, Nabi Yunus AS berdoa dan berdzikir tiada henti kepada Allah SWT. Setelah 40 hari berdoa dan berdzikir, akhirnya tobat Nabi Yunus AS diterima dan diampuni oleh Allah SWT.

    Atas izin Allah, Nabi Yunus AS disembur keluar dari perut paus ke sebuah dataran yang kering dan tandus. Di tempat tersebut, Nabi Yunus AS diberikan pertolongan berupa tumbuhnya pohon labu untuk berteduh, dan buahnya bisa dimakan sebagai karunia dari Allah SWT. Di sana, Nabi Yunus AS bertemu kembali dengan kaum yang telah bertobat setelah sebelumnya menolak ajarannya.

    Bacaan Doa Nabi Yunus AS

    Mengutip buku Doa Para Rasul dan Nabi yang disusun oleh Nurul Huda, berikut bacaan doa Nabi Yunus yang ada di dalam Al-Qur’an pada surat Al-Anbiyaa’ ayat 87:

    لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

    Lā ilaha illa anta sub-ḥanaka inni kuntu minaẓ-ẓalimin

    Artinya: “Tiada tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.”

    Ayat di atas adalah doa yang dipanjatkan oleh Nabi Yunus AS ketika berada di dalam perut ikan paus. Nabi Yunus AS mengakui kesalahannya karena meninggalkan umatnya tanpa ridha Allah.

    Setelah memanjatkan doa tersebut selama 40 hari, tobat Nabi Yunus AS diterima dan dikeluarkan dari dalam perut ikan paus atas seizin Allah SWT.

    Kini, ayat tersebut bisa diamalkan sebagai doa supaya mendapat keselamatan. Jika selalu membaca ayat ini selama 40 hari, insyaallah Allah SWT akan mengampuni dosa hamba-Nya, dihindarkan dari marabahaya, diberi kemurahan dan kelapangan rezeki, dan semua keinginan bisa terkabul.

    Cara Mengamalkan Doa Nabi Yunus

    Ustaz Ahmad Zacky El-Syafa dalam buku Doa-doa Terbaik Sepanjang Masa mengutip cerita dari Sa’ad bin Abi Waqqash, bahwa doa Nabi Yunus selain dikenal sebagai doa memohon pertolongan Allah SWT di tengah kesulitan, doa ini juga memiliki keutamaan sebagai doa agar meninggal dalam keadaan syahid dan meminta kesembuhan dari sakit.

    Sa’ad berkata bahwa Rasulullah SAW menyebut doa Nabi Yunus ini dapat dibaca sebanyak 40 kali. Berikut bunyi haditsnya:

    مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّى كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ – أَرْبَعِيْنَ مَرَّةً – فِي مَرَضِهِ فَمَاتَ فِيْهِ، أُعْطِيَ أَجْرَ شَهِيْدٍ، وَإِنْ بَرِئَ بَرِئَ مَغْفُورًا لَهُ

    Artinya: “Barang siapa yang berdoa dengannya kepada orang yang sakit sebanyak 40 kali maka jika ia mati, ia mati dalam keadaan membawa pahala mati syahid. Jika sembuh maka sembuh dalam keadaan dosanya terampuni.” (HR Imam Hakim)

    Untuk mengamalkannya, para ulama menganjurkan untuk membaca doa Nabi Yunus sebanyak 40 kali setelah salat Subuh. Adapun yang mengamalkan doa Nabi Yunus sebanyak 1000 kali untuk mohon ampunan.

    Demikian doa Nabi Yunus yang insyaallah dikabulkan jika diamalkan terus menerus selama 40 hari. Wallahu a’lam.

    (hnh/kri)



    Sumber : www.detik.com