Tag: urban farming

  • Manfaatkan Area Sempit Rumah di Perkotaan Jadi Ladang Cuan


    Jakarta

    Hidup di lingkungan kota besar seperti Jakarta adalah hal yang tidak mudah. Biaya hidup yang tinggi, serta terbatasnya lahan menjadikan peluang ide bisnis dan pemanfaatan lahan cukup terbatas.

    Bahkan tidak sedikit orang yang beranggapan bahwa melakukan aktivitas berkebun di daerah perkotaan adalah hal yang tidak mungkin. Namun, anggapan ini sudah tidak valid lagi dengan munculnya sistem perkebunan di tengah kota.

    Sistem perkebunan ini dikenal dengan istilah Urban Farming. Melakukan urban farming tidak semata hanya untuk memanfaatkan lahan saja, tetapi dengan melakukan ini, kamu juga ikut membantu memerangi perubahan iklim dan menjaga lingkungan kota besar agar tetap asri.


    Jika kamu tertarik, mari kita mengenal lebih dalam mengenai urban farming di bawah ini.

    Apa itu Urban Farming?

    Dikutip dari blog.eigeradventure.com, istilah urban farming ini adalah konsep berkebun yang dilakukan di lahan terbatas, seperti pekarangan rumah, teras, balkon, dan lainnya.

    Sebelum kamu melakukan urban farming, alangkah baiknya kita mengetahui dulu jenis-jenisnya. Melansir dari simplicable.com dan online.aurora.edu, urban farming memiliki beberapa jenis, seperti vertikultur, hidroponik, aquaponik, wall garden, dan masih banyak lagi. Tentukan tipe jenis urban farming yang ingin kamu coba sesuai dengan ketersediaan tempat dan media tanamnya.

    Tips Melakukan Urban Farming

    Kegiatan urban farming adalah kegiatan yang terbilang cukup mudah untuk dilakukan dibandingkan dengan berkebun dengan media tanah. Media yang digunakan untuk melakukan urban cenderung lebih mudah didapatkan di daerah perkotaan besar karena media yang digunakan biasanya berupa barang bekas, diantaranya yaitu botol air, kaleng, dan paralon bekas.

    Setelah kamu menentukan jenis urban farming yang cocok, selanjutnya kamu harus tahu tips-tips dalam melakukannya. Di bawah ini ada tips-tips dari beberapa jenis urban farming yang bisa kamu contoh.

    1. Aquaponik

    Jenis aquaponik adalah jenis konsep berkebun yang digabungkan dengan budidaya ikan sekaligus. Jenis ini memanfaatkan kotoran ikan sebagai pupuk organik. Tanaman yang biasa dipakai dalam metode ini diantaranya adalah kangkung, pakcoy dan selada. Untuk jenis ikan yang biasa digunakan diantaranya adalah ikan lele, nila, dan ikan mas.

    Keunggulan dari penggunaan metode aquaponik adalah produk yang dihasilkan ada 2 jenis, yaitu Ikan dan sayuran.

    2. Vertikultur

    Jenis vertikultur adalah jenis konsep yang memanfaatkan media tanam bertingkat ke arah atas, biasanya menggunakan paralon atau botol bekas yang disusun vertikal. Tanaman yang biasa dipakai dalam metode ini diantaranya adalah bayam, sawi, seledri, anggur, dan strawberry.

    Keunggulan dari metode ini adalah kemampuannya untuk bisa dilakukan pada lahan yang sangat sempit namun dapat menghasilkan produk yang melimpah.

    3. Hidroponik

    Sama seperti aquaponik, metode hidroponik memanfaatkan air sebagai media tanamnya. Namun, metode hidroponik menggunakan media air mengalir terpisah yang sudah dicampur dengan nutrisi dan disalurkan kepada tanaman.

    Keunggulan dari metode ini adalah perawatan yang lebih mudah dibandingkan dengan aquaponik.

    4. Wall Garden

    Metode wall garden sebenarnya cukup mirip dengan metode vertikultur. Bedanya, metode wall garden memanfaatkan media dinding sebagai media tanam. Beberapa tanaman yang cocok untuk metode ini diantaranya yaitu umbi-umbian, cabai, tomat, dan berbagai jenis tanaman hias.

    Keunggulan dari metode ini adalah sangat minimnya penggunaan lahan. hanya berbekalkan tembok rumah yang terpapar sinar matahari saja, sudah bisa menanam berbagai macam tanaman. Tidak hanya sayuran saja, tetapi tanaman hias untuk mempercantik rumah juga bisa.

    Itulah pengenalan dan beberapa tips dalam melakukan urban farming. Bagaimana teman-teman, setelah kalian mengenal urban farming yang penuh manfaat ini, apakah kalian tertarik untuk mencobanya?

    (dna/dna)



    Sumber : www.detik.com

  • 7 Langkah Memulai Berkebun di Halaman Rumah buat Pemula


    Jakarta

    Berkebun di rumah mempunyai banyak manfaat bagi penghuni rumah. Selain aktivitasnya baik untuk kesehatan, hasil dari berkebun bisa memperindah tampilan halaman rumah, bahkan bila dipetik bisa digunakan untuk konsumsi keluarga.

    Meski baru memulai berkebun dari awal bisa terkesan berat, kamu bisa menjadikannya lebih mudah dengan mengelolanya dalam beberapa langkah. Tentunya dengan berbekal tekad dan kesabaran juga, pada akhirnya kamu akan dapat menikmati hasil berkebun dari usaha sendiri.

    Melansir dari Better Homes and Gardens, berikut ini langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk mulai berkebun di halaman rumah bagi pemula.


    1. Pilih Tanaman

    Tentukan dari awal tanaman apa yang ingin ditumbuhkan, antara lain sayuran, herba, atau bunga. Jika ingin berkebun sayuran atau herba, coba pilih jenis tanaman yang akan sering dikonsumsi oleh keluarga. Sementara bila memilih bunga, tentukan warna dan aroma bunga macam apa yang diinginkan.

    2. Pilih Lokasi Kebun

    Hampir semua tanaman membutuhkan sinar matahari selama 6-8 jam setiap harinya. Untuk itu, pilihlah lokasi di halaman rumah yang bisa mendapat cahaya matahari yang paling optimal.

    3. Bersihkan Lahan

    Sebelum mulai berkebun, kamu perlu mempersiapkan lahan yang ingin ditanam dengan membersihkan rumput liar dan tanah.

    4. Siapkan Bedengan

    Lalu, siapkan bedengan terlebih dahulu untuk melonggarkan tanah supaya akar tanaman bisa lebih mudah tumbuh dan mendapat akses air dan nutrisi. Ada dua metode untuk melakukan ini, yakni menggunakan alat tiller tanah atau menggali dengan tanah.

    Sebenarnya akan lebih praktis menggali secara manual pada saat tanah lembab, terutama untuk bedengan yang kecil di halaman rumah.

    5. Mulai Menanam

    Pastikan kamu sudah membaca dan mengikuti instruksi penanaman benih untuk setiap jenis tanaman agar memahami waktu, kedalaman, dan jarak penanaman. Supaya lebih praktis, kamu bisa membeli bibit tanaman yang sudah jadi, sehingga tinggal dipindahkan ke kebun di halaman.

    6. Tutupi Tanaman dengan Mulsa

    Agar kelembapan kebun terjaga sekaligus mencegah tumbuhnya tanaman liar, kamu bisa menutupi area tanah dengan mulsa. Dengan begitu, kamu tidak perlu terlalu sering menyiram tanaman.

    Sedangkan tanaman liar akan jarang tumbuh karena kekurangan sinar matahari. Namun, perlu diingat agar mulsa tidak menutupi area benih dengan membuat lubang, supaya tetap bisa tumbuh.

    7. Rutin Menyiram dan Merawat Kebun

    Bibit tanaman tidak boleh sampai kering, sehingga perlu disiram dengan air setiap hari. Kurangi penyiraman air kalau tanaman sudah semakin besar, sebab bibit baru masih membutuhkan banyak air sampai akarnya sudah cukup tumbuh.

    Selanjutnya, jumlah air yang dibutuhkan tanaman akan tergantung pada kondisi tanah, kelembapan, dan curah hujan. Rawatlah kebun dengan membuat rutinitas berkebun yang baik. Siramlah kebun sebelum tanaman layu, hilangkan tanaman liar, hama, dan tanaman berpenyakit.

    (dna/dna)



    Sumber : www.detik.com