Tag: vitamin

  • Telur Tidak Boleh Dimakan dengan Pisang, Benarkah? Ini Faktanya


    Jakarta

    Telur dikenal sebagai salah satu sumber protein hewani yang praktis dan bernutrisi tinggi. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam salah satu unggahan di media sosial, bahkan menganjurkan sarapan 2 butir telur rebus setiap hari.

    Di Indonesia, popularitas telur sebagai lauk maupun campuran makanan sudah tidak diragukan lagi. Namun begitu, ada beberapa anggapan yang keliru yang membuat sebagian orang membatasi diri atau bahkan menghindari sumber nutrisi murah meriah ini.

    Salah satunya terkait kombinasinya dengan bahan makanan atau minuman yang lain. Misalnya dalam beberapa konten viral di media sosial, telur tidak disarankan untuk dikonsumsi bersama dengan pisang, daging, dan gula.


    Benarkah kombinasi telur dengan makanan tertentu bisa menyebabkan efek berbahaya? Ini faktanya.

    1. Telur Tidak Boleh Dimakan dengan Gula?

    Mitos.

    Faktanya, telur yang dicampur gula kemudian dikocok adalah teknik yang umum dalam banyak resep masakan, terutama pada kue dan dessert. Tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa mencampur telur dan gula dapat menghasilkan senyawa berbahaya dalam tubuh.

    Justru, yang perlu diperhatikan adalah asupan gula harian, bukan kombinasinya dengan telur. Kementerian Kesehatan merekomendasikan batas konsumsi gula tambahan tidak lebih dari 10 persen dari total energi harian (4 sendok makan/50 gram).

    Konsumsi gula berlebih dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko obesitas, diabetes tipe 2, dan gangguan metabolik, tetapi risiko ini bersifat kumulatif, bukan muncul dari satu kali makan tinggi gula.

    Jadi, telur dan gula tidak berbahaya saat dikonsumsi bersamaan, yang perlu dijaga adalah jumlah gula yang digunakan.

    2. Telur Tidak Boleh Dimakan bersama Daging?

    Mitos.

    fried bacon and eggs in iron skillet shot with selective focusMasalahnya bukan pada kombinasi telur dan daging, tapi bagaimana cara mengolahnya. Foto: Getty Images/iStockphoto/rez-art

    Mengombinasikan telur dan daging sebenarnya bukan masalah dari sisi keamanan atau penyerapan nutrisi. Keduanya sama-sama sumber protein yang baik

    Yang perlu diperhatikan sebenarnya adalah total asupan lemak jenuh dalam satu kali makan, terutama bila daging yang digunakan adalah daging berlemak seperti sosis, bacon, daging giling berlemak, atau daging olahan.

    Selain itu, cara memasak seperti menggoreng dalam minyak banyak dapat menambah kalori total dan memengaruhi kadar kolesterol dalam darah bila dilakukan sering dan dalam jangka panjang.

    Telur sendiri mengandung lemak, tetapi sebagian besar berupa lemak tak jenuh yang relatif lebih ramah untuk kesehatan dalam menurunkan kadar kolesterol jahat. Sementara daging olahan cenderung mengandung lemak jenuh lebih tinggi.

    Jadi, konteks kesehatannya bukan pada konsumsi telur dan daging secara bersamaan, melainkan pada pemilihan jenis daging, cara pengolahan, dan frekuensi konsumsinya dalam pola makan harian.

    3. Telur Tidak Boleh Dimakan dengan Pisang?

    Mitos.

    Healthy food. Boiled eggs and sliced bananas on a plate.Kombinasi telur dan pisang sering menjadi pilihan dalam menu diet yang sehat. Foto: Getty Images/Muhamad Zulkarnaen

    Pisang adalah sumber karbohidrat dan telur merupakan sumber protein. Menggabungkan telur dan pisang tidak menimbulkan beban pencernaan yang berlebih. Keduanya kaya zat gizi, dan tubuh dapat mencerna protein dari telur serta karbohidrat dan serat dari pisang secara bersamaan tanpa masalah.

    Tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa kombinasi keduanya dapat memperlambat pencernaan atau memberatkan lambung.

    Pisang memberikan karbohidrat, serat, kalium, dan vitamin B6, sementara telur menyediakan protein lengkap dan lemak sehat. Saat dimakan bersamaan, keduanya bisa membantu memberikan rasa kenyang lebih lama, sehingga kerap digunakan sebagai menu sarapan atau camilan setelah olahraga.

    Jika seseorang merasa kembung atau berat setelah mengonsumsi keduanya, kondisi tersebut umumnya lebih berkaitan dengan sensitivitas pencernaan masing-masing individu, bukan kombinasi makan pisang dan telur. Pada orang dengan gangguan lambung atau GERD (Gastro Esofagheal Reflux Disease) yang sensitif, konsumsi makanan padat dalam satu waktu memang bisa membuat perut terasa tidak nyaman.

    4. Telur Tidak Boleh Dikonsumsi bersama Susu Kedelai?

    Pada kebanyakan orang, ini mitos.

    Source of Protein : Soy milk ,tofu and egg  on soy beans backgroundSusu kedelai (sari kedelai) dan telur sama-sama merupakan sumber protein yang baik. Foto: Getty Images/PeoGeo

    Protein kedelai memiliki nilai cerna yang baik dan dapat menjadi sumber asam amino esensial. Journal of Nutrition tahun 2022 menunjukkan bahwa kualitas protein kedelai bahkan sebanding dengan protein hewani tertentu, terutama jika dikonsumsi dalam pola makan beragam.

    Sementara itu, protein telur memiliki Protein Digestibility Corrected Amino Acid Score (PDCAAS) mendekati 1,0, yang berarti hampir seluruh asam amino yang terkandung di dalamnya dapat diserap dan dimanfaatkan oleh tubuh.

    Keduanya tidak saling menghambat penyerapan maupun kerja enzim pencernaan ketika dikonsumsi bersamaan. Kombinasi telur dan susu kedelai (sari kedelai) bahkan sudah lama menjadi bagian dari pola makan di Jepang, Korea, dan China tanpa adanya bukti klinis yang menunjukkan gangguan pencernaan atau penurunan kualitas protein.

    Di Indonesia, Pedoman Gizi Seimbang dan konsep Isi Piringku justru menganjurkan konsumsi protein hewani dan nabati dalam satu kali waktu makan untuk melengkapi kebutuhan asam amino dan mendukung keragaman pangan. Mengkombinasikan telur dengan susu kedelai termasuk pola makan yang aman, seimbang, dan bernilai gizi baik.

    5. Telur Tidak Boleh Dikonsumsi dengan Teh?

    Ada benarnya.

    Teh memang sebaiknya tidak diminum bersamaan dengan makanan sumber zat besi, termasuk telur. Alasannya berkaitan dengan kandungan tanin dalam teh. Tanin dapat membentuk ikatan dengan zat besi di saluran cerna, sehingga tubuh lebih sedikit menyerap zat besi dari makanan.

    Tinjauan dalam American Journal of Clinical Nutrition tahun 2021 menunjukkan bahwa konsumsi teh saat makan dapat menurunkan penyerapan zat besi hingga 70 persen, terutama jika tehnya diseduh pekat atau diminum setiap kali makan.

    (mal/up)



    Sumber : health.detik.com

  • Macam-macam Warna Sayuran dan Manfaatnya

    Jakarta

    Masing-masing buah dan sayur kalau dilihat punya warna yang unik. Ada yang merah, oranye, hijau, sampai ungu.

    Variasi warna pada buah dan sayur tidak hanya membuat makanan terlihat menarik, tapi ternyata juga memberi petunjuk mengenai kandungan gizinya. Tumbuhan secara alami membentuk pigmen warna sebagai cara melindungi diri dari cahaya, panas, hingga hama.

    Menariknya, pigmen yang membantu tumbuhan bertahan hidup ini justru memberi manfaat kesehatan ketika dikonsumsi manusia. Jadi, makin berwarna isi piring, makin beragam nutrisi yang masuk ke dalam tubuh.


    1. Oranye

    Warna oranye pada wortel, labu, pepaya, dan ubi jalar menunjukkan adanya kandungan beta-karoten yang tinggi. Di dalam tubuh, beta-karoten diubah menjadi vitamin A menggunakan enzim khusus dalam usus dan hati, proses ini terjadi hanya saat tubuh membutuhkan.

    Uniknya tubuh tidak akan mengubah beta-karoten menjadi vitamin A lebih dari yang diperlukan. Inilah sebabnya pigmen oranye dari makanan lebih aman dibanding konsumsi vitamin A dosis tinggi dari suplemen yang berisiko memberi efek toksik pada hati.

    Studi ilmiah di jurnal Nutrients tahun 2021 menunjukkan bahwa beta-karoten meningkatkan kekebalan tubuh dan mendukung kesehatan retina mata.

    2. Merah

    Tomat, semangka, paprika merah, hingga jambu biji merah mendapatkan warnanya dari likopen, pigmen yang muncul intens ketika buah mencapai tingkat kematangan penuh di bawah sinar matahari. Pada tumbuhan, likopen melindungi jaringan buah dari kerusakan akibat paparan cahaya.

    Pada tubuh manusia, likopen bekerja dengan cara menetralkan radikal bebas yang dapat merusak DNA sel. Senyawa ini adalah salah satu antioksidan yang aktif di jaringan lemak, terutama pada prostat, kulit, dan jantung.

    Konsumsi buah merah kerap dikaitkan dengan kesehatan kardiovaskular dan kulit yang lebih tahan terhadap paparan sinar UV. Menariknya, likopen lebih mudah diserap tubuh setelah dipanaskan. Jadi, sambal tomat rumahan atau sup tomat sebenarnya memiliki kandungan likopen lebih besar daripada tomat segar.

    Sementara stroberi, ceri, dan raspberry justru kaya antosianin merah, pigmen yang sensitif terhadap keasaman. Antosianin memperkuat struktur kolagen dan membantu pembuluh darah tetap elastis, sehingga mendukung tekanan darah yang stabil.

    3. Ungu

    Buah dan sayur seperti blueberry, anggur hitam, kol ungu, terong, dan ubi ungu kaya antosianin dalam bentuk yang lebih pekat. Semakin gelap warnanya, semakin tinggi konsentrasi antosianinnya. Pigmen ini terbentuk pada tanaman sebagai pelindung dari suhu dingin dan radiasi ultraviolet.

    Beda antosianin ungu dari merah adalah kemampuannya melintasi sawar darah-otak (Blood-Brain Barrier), ini terdapat pada penelitian yang terbit di Journal of Agricultural and Food Chemistry tahun 2021. Itulah sebabnya konsumsi buah ungu dikaitkan dengan peningkatan memori, konsentrasi, dan menurunkan risiko penurunan fungsi otak seiring usia.

    4. Kuning

    Jagung, semangka kuning, dan nanas mengandung xanthophyll, pigmen karotenoid yang lebih stabil terhadap oksidasi. Buah dan sayur yang berwarna kuning juga banyak kandungan vitamin C.

    Pada manusia, xanthophyll seperti lutein dan zeaxanthin terfokus di retina bagian makula (titik pusat penglihatan). Hal ini yang membuat buah dan sayur kuning sangat penting untuk membantu mencegah degenerasi makula dan kelelahan mata akibat paparan cahaya dari gadget.

    Selain itu, nanas mengandung bromelain yang tinggi, yaitu enzim pemecah protein yang bisa meredakan pembengkakan jaringan yang sedang dialami. Bromelain tidak dimiliki oleh kelompok warna lainnya, menjadikan warna kuning unik karena selain perannya pada mata, juga baik untuk sistem pencernaan dan pemulihan otot setelah aktivitas berat.

    5. Hijau

    Sayuran hijau seperti bayam, brokoli, sawi, kangkung, dan kale mendapatkan warnanya dari klorofil, pigmen utama fotosintesis yang membantu mengubah cahaya menjadi energi. Namun, warna hijau ini hampir selalu ada bersama folat, vitamin K, magnesium, dan sulfur.

    Senyawa sulfur inilah, terutama sulforaphane pada brokoli dan kale, yang memberikan manfaat detoksifikasi alami. Sulforaphane terbentuk ketika sayuran dihancurkan/dikunyah. Senyawa ini mengaktifkan gen yang membantu hati memecah zat-zat yang tidak diperlukan tubuh. Karena itu, sayuran hijau sangat identik dengan keseimbangan metabolisme dan daya tahan tubuh yang stabil.

    Vitamin K di sayuran hijau juga memainkan peran penting dalam mineralisasi tulang dan pembekuan darah, dua hal yang sering terlupakan tapi sangat penting untuk kesehatan jangka panjang.

    (mal/up)



    Sumber : health.detik.com

  • Minum Vitamin C saat Banyak Orang Sakit, Perlu Nggak Sih?

    Jakarta

    Beberapa hari terakhir banyak yang terjangkit batuk, pilek, dan badan meriang. Data di DKI Jakarta mengkonfirmasi adanya peningkatan pasien dengan gejala mirip flu. Kebutuhan untuk meningkatkan daya tahan tubuh mulai jadi sorotan. Tak heran, banyak orang mulai rajin minum suplemen vitamin C demi mencegah penularan.

    Sebenarnya, sebagian besar kebutuhan vitamin C bisa dipenuhi dari makanan sehari-hari, asal pola makan seimbang dan asupan buah serta sayur tercukupi. Namun, ada juga kondisi tertentu di mana suplemen bisa jadi solusi praktis untuk memenuhi kebutuhan vitamin C harian.

    Apakah Cukup dari Sumber Alami?

    Vitamin C bukan cuma penting untuk daya tahan tubuh, tapi juga berperan besar dalam pembentukan kolagen, penyerapan zat besi, serta menjaga kesehatan kulit dan pembuluh darah. Vitamin C bermanfaat sebagai antioksidan yang melindungi sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas.


    Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi (AKG), kebutuhan vitamin C untuk orang dewasa Indonesia ditetapkan sekitar 75 mg per hari untuk perempuan dan 90 mg per hari untuk laki-laki. Angka ini bisa sedikit lebih tinggi untuk ibu hamil dan menyusui karena kebutuhan tubuh terhadap antioksidan meningkat.

    Tubuh manusia tidak bisa memproduksi vitamin C sendiri, jadi harus dipenuhi melalui asupan makanan. Kabar baiknya, kebutuhan ini sangat mudah dipenuhi lewat makanan sehari-hari seperti buah dan sayur. Berdasarkan Tabel Komposisi Pangan Indonesia (TKPI), buah jambu biji berat 100 gram dapat mengandung sekitar 87 mg vitamin C, buah jeruk manis berat 100 gram mengandung sekitar 49 mg vitamin C, sementara 100 gram pepaya matang menyediakan sekitar 104 mg vitamin C.

    Jika pola makan harian sudah mencakup minimal dua hingga tiga porsi buah dan sayur segar sesuai dengan Pedoman Gizi Seimbang atau Isi Piringku, asupan vitamin C biasanya sudah tercukupi dengan baik. Selain itu, vitamin dari sumber alami lebih mudah diserap tubuh karena dibantu zat gizi lain seperti serat, air, dan flavonoid alami dari buah.

    Kapan Perlu Suplemen?

    Suplemen vitamin C sebaiknya digunakan saat tubuh memang membutuhkan asupan ekstra, misalnya ketika sistem imun sedang turun, sedang masa penyembuhan luka, banyak terpapar radikal bebas, atau sedang berada dalam kondisi stres yang tinggi.

    Beberapa kelompok juga cenderung membutuhkan suplemen tambahan, seperti:

    1. Orang dengan pola makan rendah buah dan sayur

    Orang yang makan sedikit sayur-buah rentan mengalami defisiensi vitamin C ringan yang menurunkan imunitas. Pekerja dan mahasiswa yang jadwalnya padat dan pola makan tidak teratur seringkali jarang mengonsumsi makanan sumber vitamin C. Pada kelompok ini, suplemen bisa menjadi solusi asupan sementara sebelum pola makan dapat diperbaiki.

    2. Pengidap luka atau sakit berat

    Menurut penelitian di Jurnal Antioxidants tahun 2022, suplementasi vitamin C membantu mempercepat pembentukan kolagen dan regenerasi jaringan. Penelitian lain yang dipublikasikan di Indian Journal of Surgery juga mendukung bahwa vitamin C dapat meningkatkan penyembuhan luka. Melalui suplemen vitamin C, orang yang sedang sakit umumnya sulit makan atau nafsu makan berkurang, kebutuhan vitamin C dapat terpenuhi.

    3. Lansia

    Studi The Journal of Physiological Sciences menjelaskan bahwa proses penuaan menurunkan efisiensi penyerapan vitamin C di usus dan meningkatkan kebutuhan harian karena stres oksidatif lebih tinggi. Selain itu, lansia juga mengalami penurunan nafsu makan. Jadi dalam kondisi ini, suplemen bisa membantu menjaga kadar vitamin C tetap optimal dalam tubuh.

    Asupan Vitamin C Rendah karena Diet yang Buruk

    Hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 menunjukkan fakta yang cukup mengkhawatirkan. Sebanyak 96,7 persen penduduk Indonesia masih kurang makan buah dan sayur. Artinya, hanya sedikit orang yang benar-benar rutin memenuhi anjuran konsumsi lima porsi buah dan sayur setiap hari. Kondisi ini menyebabkan risiko kekurangan vitamin dan mineral, termasuk vitamin C yang berperan menjaga daya tahan tubuh.

    Kebiasaan atau pola makan sehari-hari juga ikut berpengaruh. Banyak yang lebih memilih makanan cepat saji, tidak tersedianya buah tiap makan, atau bahkan tidak terbiasa menyertakan sayur di menu harian. Di sisi lain, ketersediaan bahan pangan segar di beberapa daerah belum merata, sehingga asupan buah dan sayur masih jauh dari ideal. Padahal, kebutuhan vitamin C sebenarnya bisa dipenuhi dengan mudah dari makanan yang dikonsumsi setiap hari. Satu buah jambu biji ukuran sedang saja sudah cukup untuk mencukupi kebutuhan vitamin C harian, sementara jeruk dan pepaya juga termasuk sumber yang mudah didapat.

    Melihat kebiasaan makan yang belum seimbang, suplemen vitamin C dapat menjadi pilihan yang masuk akal. Bagi yang memiliki aktivitas padat, tinggal di daerah dengan akses yang jauh dari penjual buah, suplemen bisa membantu memenuhi Angka Kecukupan Gizi (AKG) vitamin C yang tidak tercapai dari makanan.

    Selama ini, banyak artikel kesehatan menyoroti risiko konsumsi vitamin C berlebihan. Padahal, batas maksimal konsumsi vitamin C yang masih ditoleransi tubuh menurut National Institutes of Health mencapai 2.000 mg per hari. Sementara itu, suplemen vitamin C dosis tinggi di Indonesia hanya mengandung sekitar 500 mg per tablet. Jadi, selama dikonsumsi sesuai anjuran, suplemen vitamin C tetap aman dan justru membantu memenuhi kebutuhan tubuh di tengah rendahnya konsumsi buah dan sayur di Indonesia.

    (mal/up)



    Sumber : health.detik.com

  • Menkes Sarankan 2 Butir Telur Rebus untuk Sarapan, Cukupkah Nutrisinya?


    Jakarta

    Belakangan ini ajakan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin (BGS) tentang sarapan sehat dan murah ramai diperbincangkan. Dalam sebuah unggahan di media sosial, Menkes menyebutkan bahwa dua butir telur rebus bisa menjadi pilihan sarapan praktis dengan biaya hanya sekitar Rp 5.000.

    Pesannya sederhana, sarapan tidak harus mahal, dan lebih baik memulai hari dengan sesuatu yang bergizi daripada tidak sarapan sama sekali. Namun, muncul juga diskusi di masyarakat. Ada yang mengapresiasi idenya karena praktis dan ramah di kantong, tapi ada pula yang mengingatkan bahwa sarapan sebaiknya mengandung gizi seimbang, bukan hanya protein dari telur.

    Lantas, bagaimana sebaiknya kita menyikapi ajakan ini?


    Nutrisi dalam 2 Butir Telur Rebus

    Menteri Kesehatan dalam videonya yang memiliki hastag Budi Gemar Sharing menyampaikan pesan yang sederhana dan mudah dipahami masyarakat. Dengan mencontohkan 2 telur rebus, ia ingin menunjukkan bahwa sarapan sehat itu bisa murah, cepat, dan bergizi.

    Dua butir telur sudah mengandung:

    • sekitar 12 gram protein
    • vitamin B kompleks
    • vitamin D
    • selenium
    • serta kolin yang penting untuk fungsi otak.

    Konsumsi telur di pagi hari dapat membantu memenuhi kebutuhan protein harian tubuh yaitu 0,8 gram/kgBB. Dari sisi praktis, telur rebus juga mudah disiapkan: cukup direbus beberapa menit, tidak butuh bumbu khusus, dan bisa dibawa ke mana-mana.

    Selain itu, ajakan ini juga punya pesan kalau sarapan tidak harus dengan karbohidrat kompleks atau makanan yang manis-manis seperti sereal, lontong, dan nasi uduk. Karena dapat menaikkan gula darah secara mendadak (glucose spike). Telur adalah bahan makanan yang sangat familiar di hampir semua rumah tangga Indonesia. Dengan harga terjangkau dan ketersediaan luas, pesan ini bisa menyentuh berbagai lapisan masyarakat.

    Kebiasaan sarapan di Indonesia

    Data Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan 2023 menunjukkan bahwa prevalensi tidak terbiasa sarapan pada anak dan remaja sekitar 16,9 persen – 59 persen dan 31,2% persen pada orang dewasa. Alasan untuk meninggalkan dan mengabaikan sarapan sangat beragam, takut terlambat, terburu-buru, tidak terbiasa, dan tidak ada waktu.

    Survei Kemenkes juga menemukan alasan utama orang melewatkan sarapan adalah tidak sempat menyiapkan makanan pagi. Artinya, faktor praktis memang sangat dominan. Dalam konteks ini, ide sarapan dengan dua telur rebus bisa menjadi solusi sederhana dan realistis.

    Apakah cukup sarapan dengan telur saja?

    Apabila sedang terburu-buru atau aktivitas fisik di pagi hari yang tidak terlalu berat, dua butir telur rebus tentu lebih baik daripada tidak sarapan sama sekali, yang bisa membuat tubuh lemas, sulit konsentrasi, dan cepat lapar. Telur rebus mengandung protein yang tinggi, lemak yang baik, dan berbagai vitamin.

    Sarapan hanya dengan kopi manis atau camilan gorengan juga tidak baik untuk kesehatan, karena tinggi kalori tapi rendah gizi. Sarapan dengan kopi manis dan gorengan bisa menyebabkan lonjakan gula mendadak (glucose spike). Jika setiap hari dilakukan dapat meningkatkan risiko terkena diabetes tipe-2.

    Menu sarapan tinggi kalori namun kurang seimbang, seperti nasi uduk atau lontong yang sering kali minim sayuran juga sering dijadikan menu sarapan masyarakat Indonesia. Nasi uduk dan lontong mungkin bisa buat cepat merasa kenyang. Namun, rasa kenyang yang dirasakan tidak akan bertahan lama, sehingga satu hingga dua jam kemudian tubuh akan merasa lapar dan ingin makan lagi. Hal ini dapat meningkatkan asupan kalori harian meningkat, sehingga dapat meningkatkan risiko obesitas.

    Kalau dilihat dari angka kecukupan gizi (AKG), kebutuhan energi orang dewasa rata-rata 2.000 kalori per hari. Dua telur rebus hanya menyumbang sekitar 140 kalori. Jadi, secara energi masih jauh dari cukup. Tetapi, dari sisi kualitas gizi, telur termasuk makanan padat gizi (nutrient-dense). Dengan kata lain, meski kalorinya tidak banyak, kandungan proteinnya tinggi , sehingga membuat tubuh merasa kenyang lebih lama dan sangat bermanfaat untuk membangun jaringan tubuh serta menjaga fungsi otot.

    Namun menurut Pedoman Gizi Seimbang, melalui kampanye Isi Piringku, sarapan yang baik seharusnya mengandung nutrisi yang lengkap, setiap kali makan dianjurkan ada:

    • 1/3 porsi karbohidrat
    • 1/3 porsi sayur
    • 1/6 porsi lauk berprotein
    • dan 1/6 porsi buah.

    WHO (2020) juga menekankan pentingnya kombinasi zat gizi pada sarapan untuk menunjang konsentrasi belajar maupun bekerja.

    Kenapa penting ada karbohidrat, lemak, dan serat?

    Sarapan memberikan banyak manfaat berupa energi untuk memulai hari dan meningkatkan produktivitas. Sarapan yang sehat harus mencakup kandungan utama seperti protein, serat, lemak, karbohidrat kompleks. Karbohidrat kompleks (nasi, ubi, roti gandum, oatmeal) adalah bahan bakar utama tubuh dan otak. Tanpa karbohidrat yang cukup, seseorang bisa cepat lelah, pusing, atau sulit fokus. Tubuh saat bangun membutuhkan karbohidrat karena sudah berpuasa selama tidur.

    Serat dari sayur dan buah membantu pencernaan, menjaga rasa kenyang, serta melengkapi kebutuhan vitamin dan mineral. Lemak sehat (dari alpukat, kacang, biji-bijian) memberi energi lebih tahan lama dan baik untuk fungsi sel tubuh.

    Risiko jika sering melewatkan sarapan

    Pada anak sekolah, studi ilmiah menemukan hubungan antara kebiasaan tidak sarapan dengan penurunan nilai ujian matematika dan membaca. Pada orang dewasa, tidak sarapan dapat meningkatkan kecenderungan makan berlebihan di siang atau malam hari. Kondisi ini bisa memperburuk pola makan dan mengganggu metabolisme tubuh. Dengan kata lain, sarapan bukan hanya soal mengisi perut, tetapi juga mengatur ritme biologis tubuh (circadian rhythm) agar energi lebih stabil sepanjang hari.

    Bagaimana cara menyiasati kalau cuma sempat telur rebus?

    Tidak masalah sesekali sarapan sederhana hanya dengan 2 butir telur rebus. Prinsip gizi seimbang bisa tetap dijaga dengan menyesuaikan makan siang dan malam. Misalnya, jika pagi hanya telur, maka saat jam 10 dan jam 15 (jam ngemil) bisa konsumsi sayur dan buah. Jika tidak, saat siang bisa dipenuhi kebutuhan gizi yang belum terpenuhi di pagi hari dengan menambah sayuran dan buah lebih banyak sebagai pencuci mulut. Siang dan malam hari, tetap makan sesuai porsi Isi Piringku atau Pedoman Gizi Seimbang.

    Prinsipnya, kalau tidak bisa lengkap dalam satu waktu, maka seimbangkan asupan gizi dalam 24 jam.

    Jadi, bagaimana sebaiknya?

    Intinya, tidak ada yang salah dengan ajakan Menkes. Dua telur rebus jelas lebih baik daripada melewatkan sarapan atau mengonsumsi makanan cepat saji yang tidak bergizi.

    Namun, penting diingat bahwa tubuh butuh variasi. Kalau ada waktu, siapkan sarapan yang lebih lengkap dengan tambahan karbohidrat, sayur, dan buah. Kalau tidak sempat, imbangi kebutuhan gizi di waktu makan lain.

    Salah satu strategi yang bisa dilakukan adalah meal preparation sederhana. Misalnya, pada malam hari sudah menyiapkan buah seperti pisang atau buah lainnya yang dipotong dalam wadah, atau merebus ubi sekaligus untuk stok beberapa hari. Dengan begitu, pagi hari bisa langsung dikombinasikan dengan telur rebus tanpa perlu banyak waktu terpakai.

    Dengan begitu, ajakan Menkes bisa dimaknai sebagai pesan sederhana yang mudah diikuti, sementara masyarakat tetap bisa menyesuaikan dengan prinsip gizi seimbang sesuai kondisi masing-masing.

    (mal/up)



    Sumber : health.detik.com

  • Telur Rebus, Ceplok, Dadar: Samakah Nutrisinya?


    Jakarta

    Telur merupakan salah satu lauk favorit yang hampir selalu tersedia di meja makan. Rasanya enak, mudah diolah, dan harganya relatif terjangkau. Selain itu, telur juga dikenal sebagai sumber protein hewani berkualitas tinggi dengan kandungan vitamin dan mineral penting.

    Namun, banyak orang bertanya-tanya: apakah kandungan gizi telur sama saja ketika dimasak dengan cara berbeda, seperti direbus, diceplok, atau didadar?

    Jawabannya tak sesimpel itu. Meski nilai gizinya tetap tinggi, ada beberapa perbedaan yang perlu diperhatikan. Cara memasak ternyata bisa memengaruhi jumlah kalori, kadar lemak, serta kestabilan vitamin dan antioksidan dalam telur.


    Kandungan Gizi Telur Rebus

    Boiled eggs are placed in a serving dish.Telur rebus. Foto: Getty Images/iStockphoto/prayong kotjuk

    Telur rebus dianggap sebagai cara paling sehat untuk menikmati telur. Pada Tabel Komposisi Pangan Indonesia (TKPI) tahun 2017, kalori yang ada di dalam telur rebus sekitar 70 kkal per butir. Kandungan proteinnya sekitar 6-7 gram, dengan lemak 5 gram yang berasal murni dari kuning telur.

    Vitamin dan mineral dalam telur rebus relatif lebih stabil. Vitamin larut lemak seperti A dan D tidak banyak berkurang, sementara vitamin B kompleks, termasuk folat dan B12, juga tetap terjaga karena pemasakan dengan air biasanya tidak mencapai suhu setinggi minyak panas.

    Selain itu, telur rebus memiliki keunggulan pada kandungan antioksidan lutein dan zeaxanthin. Studi dalam Journal of Agricultural and Food Chemistry (2015) menunjukkan bahwa bioaksesibilitas lutein dan zeaxanthin lebih baik pada telur rebus dibanding telur dadar. Senyawa ini penting untuk kesehatan mata dan pencegahan degenerasi makula terkait usia.

    Bagi kelompok usia lanjut, telur rebus juga lebih mudah dicerna. Penelitian tahun 2021 dalam Foods Journal menemukan bahwa telur rebus lebih ramah bagi sistem pencernaan lansia dibanding telur dadar.

    Kandungan Gizi Telur Ceplok

    Two eggs frying in a pan with oilTelur ceplok. Foto: Getty Images/Miguel Angel Flores

    Telur ceplok atau telur mata sapi menjadi salah satu pilihan praktis. Meski kandungan proteinnya mirip telur rebus, kalori dan lemaknya dapat berbeda signifikan. Penggunaan minyak dalam menggoreng telur, menambah sekitar 40-50 kkal dan 4-5 gram lemak. Akibatnya, satu butir telur ceplok bisa mengandung sekitar 110-120 kkal dan 9 gram lemak.

    Proses penggorengan dengan panas tinggi juga bisa memengaruhi kestabilan vitamin. Vitamin A, B kompleks, dan E, serta antioksidan lutein dan zeaxanthin dapat berkurang. Selain itu, kolesterol alami dalam telur dapat mengalami oksidasi saat terkena panas tinggi, menghasilkan senyawa oxysterol yang dalam beberapa studi dikaitkan dengan risiko kesehatan jantung bila dikonsumsi berlebihan.

    Meski begitu, kandungan mineral seperti zat besi, fosfor, dan selenium tetap stabil karena mineral lebih tahan terhadap panas.

    Kualitas ceplok juga bisa dipengaruhi jenis minyak. Jika menggunakan minyak sehat seperti canola atau zaitun, risiko oksidasi lebih rendah dibanding minyak jelantah atau margarin. Jadi, telur ceplok tetap bisa menjadi pilihan sehat asal dimasak dengan minyak yang baik dan tidak terlalu lama.

    Kandungan Gizi Telur Dadar

    Thai rice with omelet and chili, socalled kao kai teow in ThailandNasi telur dadar. Foto: Getty Images/justhavealook

    Telur dadar umumnya lebih lezat karena bisa ditambahkan garam, bawang, cabai, atau bahkan keju. Namun, tambahan bahan ini membuat kalori lebih tinggi. Satu telur dadar di dalam TKPI mengandung 125 kkal, dan dapat meningkat lagi jika diberi tambahan lain seperti keju.

    Kandungan protein tetap sekitar 7 gram dan kandungan lemak meningkat menjadi 9 gram. Studi dalam Food Research International (2020) menunjukkan bahwa metode dadar (omelet atau scrambled) membuat bioaksesibilitas karotenoid lebih rendah dibanding telur rebus.

    Vitamin B kompleks, terutama B12 dan folat, lebih rentan hilang dalam proses pemanasan panjang. Antioksidan lutein dan zeaxanthin juga lebih rendah pada telur dadar dibanding rebus. Meski begitu, sama seperti ceplok, mineral di dalamnya relatif tidak berubah. Kelebihan telur dadar adalah rasanya lebih variatif dan bisa menambah nafsu makan, terutama untuk anak-anak yang sulit makan.

    Kesimpulan

    Telur tetap menjadi pangan padat gizi, apa pun cara memasaknya. Namun, bagi yang sedang menjaga berat badan atau asupan lemak, telur rebus bisa jadi pilihan utama karena lebih rendah kalori dan nutrisi lebih terjaga.

    Telur ceplok dan dadar tetap kaya kandungan gizi, tetapi harus lebih diperhatikan karena lebih tinggi kalori dan lemak akibat adanya tambahan minyak. Pilih minyak sehat dan masak dengan api sedang untuk mengurangi risiko oksidasi. Untuk variasi rasa, telur dadar bisa membantu meningkatkan selera makan, khususnya anak-anak.

    Dengan memahami perbedaan ini, pilihan cara memasak bisa disesuaikan dengan kebutuhan gizi, kesehatan, dan gaya hidup sehari-hari.

    (mal/up)



    Sumber : health.detik.com

  • Telur Rebus, Ceplok, Dadar: Samakah Nutrisinya?


    Jakarta

    Telur merupakan salah satu lauk favorit yang hampir selalu tersedia di meja makan. Rasanya enak, mudah diolah, dan harganya relatif terjangkau. Selain itu, telur juga dikenal sebagai sumber protein hewani berkualitas tinggi dengan kandungan vitamin dan mineral penting.

    Namun, banyak orang bertanya-tanya: apakah kandungan gizi telur sama saja ketika dimasak dengan cara berbeda, seperti direbus, diceplok, atau didadar?

    Jawabannya tak sesimpel itu. Meski nilai gizinya tetap tinggi, ada beberapa perbedaan yang perlu diperhatikan. Cara memasak ternyata bisa memengaruhi jumlah kalori, kadar lemak, serta kestabilan vitamin dan antioksidan dalam telur.


    Kandungan Gizi Telur Rebus

    Boiled eggs are placed in a serving dish.Telur rebus. Foto: Getty Images/iStockphoto/prayong kotjuk

    Telur rebus dianggap sebagai cara paling sehat untuk menikmati telur. Pada Tabel Komposisi Pangan Indonesia (TKPI) tahun 2017, kalori yang ada di dalam telur rebus sekitar 70 kkal per butir. Kandungan proteinnya sekitar 6-7 gram, dengan lemak 5 gram yang berasal murni dari kuning telur.

    Vitamin dan mineral dalam telur rebus relatif lebih stabil. Vitamin larut lemak seperti A dan D tidak banyak berkurang, sementara vitamin B kompleks, termasuk folat dan B12, juga tetap terjaga karena pemasakan dengan air biasanya tidak mencapai suhu setinggi minyak panas.

    Selain itu, telur rebus memiliki keunggulan pada kandungan antioksidan lutein dan zeaxanthin. Studi dalam Journal of Agricultural and Food Chemistry (2015) menunjukkan bahwa bioaksesibilitas lutein dan zeaxanthin lebih baik pada telur rebus dibanding telur dadar. Senyawa ini penting untuk kesehatan mata dan pencegahan degenerasi makula terkait usia.

    Bagi kelompok usia lanjut, telur rebus juga lebih mudah dicerna. Penelitian tahun 2021 dalam Foods Journal menemukan bahwa telur rebus lebih ramah bagi sistem pencernaan lansia dibanding telur dadar.

    Kandungan Gizi Telur Ceplok

    Two eggs frying in a pan with oilTelur ceplok. Foto: Getty Images/Miguel Angel Flores

    Telur ceplok atau telur mata sapi menjadi salah satu pilihan praktis. Meski kandungan proteinnya mirip telur rebus, kalori dan lemaknya dapat berbeda signifikan. Penggunaan minyak dalam menggoreng telur, menambah sekitar 40-50 kkal dan 4-5 gram lemak. Akibatnya, satu butir telur ceplok bisa mengandung sekitar 110-120 kkal dan 9 gram lemak.

    Proses penggorengan dengan panas tinggi juga bisa memengaruhi kestabilan vitamin. Vitamin A, B kompleks, dan E, serta antioksidan lutein dan zeaxanthin dapat berkurang. Selain itu, kolesterol alami dalam telur dapat mengalami oksidasi saat terkena panas tinggi, menghasilkan senyawa oxysterol yang dalam beberapa studi dikaitkan dengan risiko kesehatan jantung bila dikonsumsi berlebihan.

    Meski begitu, kandungan mineral seperti zat besi, fosfor, dan selenium tetap stabil karena mineral lebih tahan terhadap panas.

    Kualitas ceplok juga bisa dipengaruhi jenis minyak. Jika menggunakan minyak sehat seperti canola atau zaitun, risiko oksidasi lebih rendah dibanding minyak jelantah atau margarin. Jadi, telur ceplok tetap bisa menjadi pilihan sehat asal dimasak dengan minyak yang baik dan tidak terlalu lama.

    Kandungan Gizi Telur Dadar

    Thai rice with omelet and chili, socalled kao kai teow in ThailandNasi telur dadar. Foto: Getty Images/justhavealook

    Telur dadar umumnya lebih lezat karena bisa ditambahkan garam, bawang, cabai, atau bahkan keju. Namun, tambahan bahan ini membuat kalori lebih tinggi. Satu telur dadar di dalam TKPI mengandung 125 kkal, dan dapat meningkat lagi jika diberi tambahan lain seperti keju.

    Kandungan protein tetap sekitar 7 gram dan kandungan lemak meningkat menjadi 9 gram. Studi dalam Food Research International (2020) menunjukkan bahwa metode dadar (omelet atau scrambled) membuat bioaksesibilitas karotenoid lebih rendah dibanding telur rebus.

    Vitamin B kompleks, terutama B12 dan folat, lebih rentan hilang dalam proses pemanasan panjang. Antioksidan lutein dan zeaxanthin juga lebih rendah pada telur dadar dibanding rebus. Meski begitu, sama seperti ceplok, mineral di dalamnya relatif tidak berubah. Kelebihan telur dadar adalah rasanya lebih variatif dan bisa menambah nafsu makan, terutama untuk anak-anak yang sulit makan.

    Kesimpulan

    Telur tetap menjadi pangan padat gizi, apa pun cara memasaknya. Namun, bagi yang sedang menjaga berat badan atau asupan lemak, telur rebus bisa jadi pilihan utama karena lebih rendah kalori dan nutrisi lebih terjaga.

    Telur ceplok dan dadar tetap kaya kandungan gizi, tetapi harus lebih diperhatikan karena lebih tinggi kalori dan lemak akibat adanya tambahan minyak. Pilih minyak sehat dan masak dengan api sedang untuk mengurangi risiko oksidasi. Untuk variasi rasa, telur dadar bisa membantu meningkatkan selera makan, khususnya anak-anak.

    Dengan memahami perbedaan ini, pilihan cara memasak bisa disesuaikan dengan kebutuhan gizi, kesehatan, dan gaya hidup sehari-hari.

    (mal/up)



    Sumber : health.detik.com

  • 7 Hal yang Terjadi pada Tubuh Jika Makan Telur Rebus Tiap Hari


    Jakarta

    Telur rebus banyak menjadi pilihan sarapan bagi masyarakat Indonesia, dikarenakan cepat, murah, dan bergizi. Namun, banyak orang masih ragu apakah makan telur setiap hari baik untuk kesehatan? Atau malah sebaliknya, punya dampak merugikan?

    Untuk menjawabnya, mari kupas manfaat telur rebus satu persatu.

    1. Fungsi Kognitif Otak Membaik

    Telur adalah salah satu sumber kolin terbaik. Zat gizi ini penting untuk pembentukan asetilkolin, neurotransmitter yang berperan dalam konsentrasi dan memori. Menurut studi dalam jurnal Behavioural Neurology, asupan kolin yang cukup dapat menurunkan risiko gangguan kognitif pada orang dewasa.


    Selain itu, sebuah studi kohort menemukan bahwa konsumsi telur lebih dari satu butir per minggu dikaitkan dengan penurunan risiko Demensia Alzheimer sebesar 47 persen, dengan kolin menjadi salah satu faktor utama dalam hubungan tersebut.

    Dengan ini, konsumsi telur tiap hari tidak hanya memberikan efek kesehatan langsung, tapi juga memberikan efek kesehatan jangka panjang yaitu terhindar dari risiko Demensia Alzheimer. Demensia Alzheimer adalah penurunan daya ingat, perubahan dalam cara berpikir, berbicara, atau beraktivitas dan jenis demensia paling umum yang terjadi seiring dengan bertambahnya usia.

    2. Kolesterol Baik (HDL) Meningkat

    Selama ini, kolesterol dalam telur sering disalahpahami sebagai penyebab utama tingginya kadar kolesterol dalam darah. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa konsumsi rutin telur tidak meningkatkan kadar kolesterol jahat dalam darah pada orang sehat. Sebaliknya, malah mengalami peningkatan kadar High Density Lipoprotein (HDL) atau orang awam mengenalnya sebagai kolesterol baik, yang dapat melindungi pembuluh darah.

    Dikutip dari Jurnal Agriculture 2025, hal ini dikarenakan kandungan omega-3, lemak tak jenuh dan lecithin yang ada di dalam telur sangat baik dalam memperbaiki keseimbangan kolesterol dan menurunkan trigliserida dalam darah.

    3. Terlindungi dari Kerusakan Retina Mata

    Telur yang direbus mempertahankan bentuk kuning telur dan cenderung lebih aman dalam menghindari kerusakan antioksidan lutein dan zeaxanthin. Studi pada jurnal National Institutes of Health menunjukkan kedua antioksidan yang penting dalam menjaga kesehatan retina dari radikal bebas. Senyawa ini mampu menyaring cahaya biru yang berbahaya serta mencegah kerusakan oksidatif pada retina.

    Menariknya, meski kandungan lutein telur lebih sedikit dibanding sayuran hijau, bioavailabilitasnya jauh lebih tinggi karena larut dalam lemak yang terkandung dalam kuning telur. Itu berarti tubuh lebih mudah menyerapnya, sehingga konsumsi telur rebus bisa efektif melindungi kesehatan mata.

    4. Rambut dan Kulit Makin Sehat

    Telur kaya akan asam amino sulfur, terutama metionin dan sistein. Zat ini berperan penting dalam pembentukan keratin yang menjaga kekuatan rambut dan kuku. Selain itu, sulfur juga diperlukan untuk metabolisme protein di seluruh tubuh.

    Selain itu, menurut Jurnal Antioxidant 2023, sulfur mendukung produksi glutation, antioksidan alami yang berfungsi sebagai “perisai” sel tubuh dari kerusakan. Jadi, makan telur rebus setiap hari tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan protein, tetapi juga mendukung kesehatan kulit, rambut, dan daya tahan tubuh.

    5. Massa Otot Meningkat

    Dikutip dari Everyday Health protein telur dikenal sebagai “protein sempurna” karena mengandung sembilan asam amino esensial yang dibutuhkan oleh tubuh. Studi membuktikan bahwa konsumsi telur utuh setelah olahraga mampu merangsang sintesis protein otot lebih efektif dibanding hanya putih telur saja.

    Hal ini menjadikan telur rebus sebagai pilihan ideal untuk atlet maupun orang yang sedang menjalani program latihan kekuatan. Dengan kandungan protein tinggi namun rendah kalori, telur rebus membantu memperbaiki jaringan otot sekaligus mempertahankan massa otot.

    6. Berat Badan Turun

    Telur kaya protein dan relatif rendah kalori, sehingga bisa membantu membuat rasa kenyang lebih lama. Menurut penelitian International Journal of Environmental Research and Public Health, makan telur untuk sarapan membuat sekelompok orang dewasa yang kelebihan berat badan merasa lebih puas makan (kenyang) dan bisa mengurangi asupan kalori saat makan siang

    Hal ini membuat telur rebus cocok dijadikan menu diet sehat, terutama bila dipadukan dengan sayur dan sumber karbohidrat kompleks.

    7. Produksi Sel Darah Meningkat

    Hasil penelitian Jurnal Wacana Kesehatan 2020 menunjukkan bahwa konsumsi telur dapat meningkatkan kadar hemoglobin darah. Telur mengandung vitamin B12, folat, zat besi, dan protein yang berperan penting dalam pembentukan sel darah merah. Kekurangan nutrisi ini dapat memicu anemia dan menurunkan kapasitas tubuh mengangkut oksigen.

    Kesimpulan

    Makan telur rebus setiap hari dapat memberi banyak manfaat, mulai dari meningkatkan fungsi otak, melindungi mata, hingga mendukung kesehatan jantung dan otot. Meski demikian, bagi penderita diabetes atau kolesterol tinggi, jumlah konsumsi sebaiknya disesuaikan dan dikonsultasikan dengan tenaga kesehatan.

    (mal/up)



    Sumber : health.detik.com

  • 7 Hal yang Terjadi pada Tubuh Jika Makan Telur Rebus Tiap Hari


    Jakarta

    Telur rebus banyak menjadi pilihan sarapan bagi masyarakat Indonesia, dikarenakan cepat, murah, dan bergizi. Namun, banyak orang masih ragu apakah makan telur setiap hari baik untuk kesehatan? Atau malah sebaliknya, punya dampak merugikan?

    Untuk menjawabnya, mari kupas manfaat telur rebus satu persatu.

    1. Fungsi Kognitif Otak Membaik

    Telur adalah salah satu sumber kolin terbaik. Zat gizi ini penting untuk pembentukan asetilkolin, neurotransmitter yang berperan dalam konsentrasi dan memori. Menurut studi dalam jurnal Behavioural Neurology, asupan kolin yang cukup dapat menurunkan risiko gangguan kognitif pada orang dewasa.


    Selain itu, sebuah studi kohort menemukan bahwa konsumsi telur lebih dari satu butir per minggu dikaitkan dengan penurunan risiko Demensia Alzheimer sebesar 47 persen, dengan kolin menjadi salah satu faktor utama dalam hubungan tersebut.

    Dengan ini, konsumsi telur tiap hari tidak hanya memberikan efek kesehatan langsung, tapi juga memberikan efek kesehatan jangka panjang yaitu terhindar dari risiko Demensia Alzheimer. Demensia Alzheimer adalah penurunan daya ingat, perubahan dalam cara berpikir, berbicara, atau beraktivitas dan jenis demensia paling umum yang terjadi seiring dengan bertambahnya usia.

    2. Kolesterol Baik (HDL) Meningkat

    Selama ini, kolesterol dalam telur sering disalahpahami sebagai penyebab utama tingginya kadar kolesterol dalam darah. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa konsumsi rutin telur tidak meningkatkan kadar kolesterol jahat dalam darah pada orang sehat. Sebaliknya, malah mengalami peningkatan kadar High Density Lipoprotein (HDL) atau orang awam mengenalnya sebagai kolesterol baik, yang dapat melindungi pembuluh darah.

    Dikutip dari Jurnal Agriculture 2025, hal ini dikarenakan kandungan omega-3, lemak tak jenuh dan lecithin yang ada di dalam telur sangat baik dalam memperbaiki keseimbangan kolesterol dan menurunkan trigliserida dalam darah.

    3. Terlindungi dari Kerusakan Retina Mata

    Telur yang direbus mempertahankan bentuk kuning telur dan cenderung lebih aman dalam menghindari kerusakan antioksidan lutein dan zeaxanthin. Studi pada jurnal National Institutes of Health menunjukkan kedua antioksidan yang penting dalam menjaga kesehatan retina dari radikal bebas. Senyawa ini mampu menyaring cahaya biru yang berbahaya serta mencegah kerusakan oksidatif pada retina.

    Menariknya, meski kandungan lutein telur lebih sedikit dibanding sayuran hijau, bioavailabilitasnya jauh lebih tinggi karena larut dalam lemak yang terkandung dalam kuning telur. Itu berarti tubuh lebih mudah menyerapnya, sehingga konsumsi telur rebus bisa efektif melindungi kesehatan mata.

    4. Rambut dan Kulit Makin Sehat

    Telur kaya akan asam amino sulfur, terutama metionin dan sistein. Zat ini berperan penting dalam pembentukan keratin yang menjaga kekuatan rambut dan kuku. Selain itu, sulfur juga diperlukan untuk metabolisme protein di seluruh tubuh.

    Selain itu, menurut Jurnal Antioxidant 2023, sulfur mendukung produksi glutation, antioksidan alami yang berfungsi sebagai “perisai” sel tubuh dari kerusakan. Jadi, makan telur rebus setiap hari tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan protein, tetapi juga mendukung kesehatan kulit, rambut, dan daya tahan tubuh.

    5. Massa Otot Meningkat

    Dikutip dari Everyday Health protein telur dikenal sebagai “protein sempurna” karena mengandung sembilan asam amino esensial yang dibutuhkan oleh tubuh. Studi membuktikan bahwa konsumsi telur utuh setelah olahraga mampu merangsang sintesis protein otot lebih efektif dibanding hanya putih telur saja.

    Hal ini menjadikan telur rebus sebagai pilihan ideal untuk atlet maupun orang yang sedang menjalani program latihan kekuatan. Dengan kandungan protein tinggi namun rendah kalori, telur rebus membantu memperbaiki jaringan otot sekaligus mempertahankan massa otot.

    6. Berat Badan Turun

    Telur kaya protein dan relatif rendah kalori, sehingga bisa membantu membuat rasa kenyang lebih lama. Menurut penelitian International Journal of Environmental Research and Public Health, makan telur untuk sarapan membuat sekelompok orang dewasa yang kelebihan berat badan merasa lebih puas makan (kenyang) dan bisa mengurangi asupan kalori saat makan siang

    Hal ini membuat telur rebus cocok dijadikan menu diet sehat, terutama bila dipadukan dengan sayur dan sumber karbohidrat kompleks.

    7. Produksi Sel Darah Meningkat

    Hasil penelitian Jurnal Wacana Kesehatan 2020 menunjukkan bahwa konsumsi telur dapat meningkatkan kadar hemoglobin darah. Telur mengandung vitamin B12, folat, zat besi, dan protein yang berperan penting dalam pembentukan sel darah merah. Kekurangan nutrisi ini dapat memicu anemia dan menurunkan kapasitas tubuh mengangkut oksigen.

    Kesimpulan

    Makan telur rebus setiap hari dapat memberi banyak manfaat, mulai dari meningkatkan fungsi otak, melindungi mata, hingga mendukung kesehatan jantung dan otot. Meski demikian, bagi penderita diabetes atau kolesterol tinggi, jumlah konsumsi sebaiknya disesuaikan dan dikonsultasikan dengan tenaga kesehatan.

    (mal/up)



    Sumber : health.detik.com

  • Sayuran Lebih Sehat Dimasak atau Dimakan Mentah? Cek Faktanya di Sini


    Jakarta

    Banyak orang percaya sayuran paling sehat adalah yang dimakan mentah karena kandungan vitamin, mineral dan enzimnya dianggap lebih banyak. Perdebatan tentang apakah sayur lebih bermanfaat dimakan mentah atau matang terus membuat penasaran dan seperti tidak ada habisnya.

    Melansir berbagai sumber, artikel ini akan membahas lebih dalam kandungan nutrisi sayur yang dimasak dan mentah untuk memberikan wawasan yang luas dalam menentukan pilihan yang related dengan kebutuhan tubuh.

    Nutrisi di dalam Sayuran

    Sayuran mengandung berbagai nutrisi esensial:


    • Antioksidan, yaitu senyawa yang melindungi dan memperbaiki sel dari radikal bebas yang dihasilkan dari proses oksidasi di dalam tubuh.
    • Vitamin, termasuk vitamin A, vitamin C dan beberapa vitamin B.
    • Mineral, termasuk kalium, zat besi, kalsium dan magnesium.
    • Serat, karbohidrat kompleks yang tidak dapat dicerna tetapi penting untuk kelancaran pencernaan.

    Kenapa cara memasak berpengaruh?

    Beberapa sayuran yang dimasak dapat kehilangan nutrisi, sedangkan yang lain ada yang meningkatkan kandungan nutrisi. Hal ini jadi sedikit rumit tergantung dari jenis sayurannya.

    Memasak mengubah struktur sel tumbuhan, melunakkan dinding sel dan mempengaruhi ketersediaan nutrien. Pemanasan dapat menghilangkan antinutrien (seperti lektin, fitat, oksalat) dan toksin alami, tetapi juga dapat mengurangi vitamin larut air seperti vitamin C dan beberapa vitamin B.

    Sayur lebih baik dimakan mentah

    Beberapa sayuran kaya vitamin C, folat, dan enzim yang sensitif panas sehingga nutrisi itu lebih utuh saat mentah. Contoh sayuran:

    • Selada
    • Kubis
    • Mentimun
    • Paprika
    • Tomat segar
    • Brokoli muda (sprout)
    • Lobak.

    Dikutip dari Jurnal Heliyon, metode memasak tertentu, terutama merebus lama, mengakibatkan kehilangan ascorbic acid (vitamin C) yang signifikan, sehingga jika tujuan utama adalah mendapat vitamin C, konsumsi sayuran dengan cara memasak menggunakan metode lain atau konsumsi mentah lebih menguntungkan.

    Serat yang ada di dalam sayuran mentah lebih utuh, yang dapat meningkatkan rasa kenyang bertahan lama dan mengandung kalori yang lebih rendah. Sehingga sangat baik untuk diet penurun berat badan.

    Selain itu, sayuran mentah kaya akan nutrisi penting, antioksidan, dan enzim yang mendukung berbagai fungsi tubuh dan kesehatan secara keseluruhan.

    Sayur lebih baik dimasak lebih dulu

    Beberapa nutrien yang terkandung dalam sayuran malah meningkat setelah dimasak:

    • Tomat: kandungan likopen (antioksidan kuat) menjadi lebih banyak dan lebih mudah diserap setelah dipanaskan karena pemecahan dinding sel, sehingga tomat yang dimasak seringkali lebih bernutrisi daripada tomat mentah pada likopen yang terkandung.
    • Wortel, labu, ubi: beta-karoten lebih mudah diekstrak dan diserap oleh tubuh setelah dimasak.
    • Bayam, sawi, kale: memasak singkat mengurangi antinutrien (oksalat) sehingga meningkatkan penyerapan kalsium dan zat besi dari makanan tersebut.

    Secara umum, metode memasak yang singkat (steam/kukus, tumis cepat) sering menyeimbangkan antara mempertahankan dan meningkatkan kandungan nutrien.

    Sayur yang telah dimasak juga menjadi lebih mudah dicerna dan mengurangi kerja saluran cerna menjadi lebih ringan. Hal ini disebabkan oleh terurainya dinding sel dari sayuran setelah dimasak.

    Memasak sayuran dapat meningkatkan keamanan makanan dari kontaminasi agen infeksi. Memasak sayuran juga mungkin memberikan daya tarik visual yang lebih cerah dan menarik.

    Ada Sayur yang Wajib dimasak

    Beberapa sayuran jika dikonsumsi mentah, berisiko menyebabkan keracunan atau gangguan pencernaan:

    • Kacang merah: mengandung lectin/phytohaemagglutinin yang bisa menyebabkan mual, muntah dan diare. Rebus hingga matang dapat menghancurkan toksin ini.
    • Singkong dan daun singkong: mengandung glikosida sianogenik yang bisa melepaskan sianida. Rebus hingga matang dapat menurunkan kadar racun ini.
    • Kentang: mengandung solanin, zat berbahaya yang dapat menyebabkan gangguan pencernaan dan sistem saraf.
    • Pare dan terong mentah dalam jumlah banyak: bisa menimbulkan rasa tidak nyaman di perut karena adanya kandungan alkaloid.

    Oleh karena itu, penting untuk tidak sembarangan mengkonsumsi sayuran mentah hanya karena dianggap lebih “sehat”.

    Kesimpulan

    Jadi, apakah sayur lebih sehat dimakan mentah atau dimasak? Sampai saat ini belum ada studi ilmiah yang membandingkan hal tersebut. Tergantung jenisnya, ada sayuran yang lebih baik mentah, ada pula yang lebih bermanfaat setelah dimasak, dan beberapa yang harus dimasak demi keamanan.

    Sayur kaya vitamin C dan enzim seperti paprika, selada, mentimun, dan brokoli muda lebih baik dimakan mentah agar nutrisinya tetap dipertahankan, lebih renyah dan praktis.

    Sayur kaya karotenoid seperti wortel, labu, dan tomat justru lebih bermanfaat setelah dimasak karena nutrisinya lebih mudah dicerna dan diserap tubuh, serta mendapatkan keamanan makanan dari kontaminasi.

    Beberapa sayuran seperti singkong, kacang merah, dan kentang harus dimasak karena bisa beracun bila dimakan mentah.

    Baik dimasak atau mentah, sayuran tetap memberikan efek kesehatan yang berharga. Dengan variasi yang tepat, menggabungkan sayur mentah dan matang dalam menu sehari-hari adalah cara terbaik untuk mendapatkan manfaat maksimal dan mengarah pada gaya hidup yang lebih sehat.

    (mal/up)



    Sumber : health.detik.com

  • Mau Coba Diet TWS yang Viral? Ini Menu Makan dan Latihannya

    Jakarta

    Diet TWS adalah singkatan dari “two weeks” diet atau program penurunan berat badan. Tagar #TWSProgram pun sempat heboh di media sosial beberapa waktu lalu.

    Hasil diet ini dianggap menawarkan berat badan bak pramugari. Kenali lebih dalam mengenai diet TWS ini yuk!

    Kenapa Program Diet TWS Mahal?

    Dari catatan detikHealth, alasan program diet TWS mahal adalah karena wajib untuk minum suplemen protein. Itulah yang jadi salah satu alasan yang membuat program diet ini terkenal mahal. Tak heran, jika diet TWS disebut juga sebagai diet sultan.


    Pada dasarnya, diet TWS adalah program diet yang menekankan keseimbangan antara asupan nutrisi yang tepat dengan aktivitas fisik yang rutin.

    Berikut adalah rekomendasi menu makanan diet TWS:

    1. Perbanyak Makan Sayuran Hijau dan Buah

    Perbanyak konsumsi sayuran hijau atau suplemen serat. Dilansir MedicineNet, sayuran dan buah kaya akan serat akan membuat kita merasa kenyang lebih lama.

    Selain itu, sayuran dan buah juga mengandung banyak vitamin dan mineral yang memberi efek positif bagi tubuh.

    2. Makan Sumber Protein

    Protein menjadi komponen utama dalam diet TWS, karena protein memberikan rasa kenyang.

    Dalam hal ini, tubuh akan mengeluarkan lebih banyak energi untuk mencerna protein daripada karbohidrat. Makannya, tubuh menggunakan lebih banyak kalori untuk mencerna serta menyerap protein. Unggas dan ikan direkomendasikan.

    3. Makan Ikan

    Telah disinggung sebelumnya bahwa program TWS menekankan pada protein. Maka dari itu konsumsilah ikan, karena merupakan sumber protein yang baik.

    Selain itu, ikan juga kaya akan lemak omega-3. Ikan sarden, salmon, dan trout bisa jadi pilihannya.

    4. Hindari Makanan Manis

    Makanan dan minuman manis sangat berkontribusi pada penambahan berat badan. Alternatifnya, ganti dengan pemanis alami seperti madu atau buah.

    5. Kurangi Makan Lemak Jenuh

    Lemak jenuh dapat meningkatkan kolesterol dalam darah sehingga meningkatkan risiko penyakit jantung. Rata-rata pria tidak boleh mengkonsumsi lemak jenuh sebanyak 30 gram sehari, sedangkan wanita tidak lebih dari 20 gram.

    Lemak jenuh ditemukan pada makanan seperti potongan daging merah berlemak, sosis, mentega, keju, krim.

    6. Beralih ke Produk Biji-bijian Utuh

    Cobalah untuk menghindari produk gandum, karena tubuh mengubah gandum menjadi gula. lebih cepat daripada biji-bijian lainnya. Maka beralihlah ke produk biji-bijian utuh.

    7. Konsumsi Cairan yang Cukup

    Air jadi salah satu asupan terbaik dalam upaya menurunkan berat badan. Air bermanfaat dalam membantu membersihkan racun dari tubuh dan meningkatkan fungsi saluran pencernaan.

    8. Rutin Melakukan Sarapan

    Sarapan berperan penting untuk membuat tubuh tetap bugar. Saat sarapan, pilihlah makanan tinggi serat, rendah lemak, gula, dan garam.

    9. Kurangi Konsumsi Garam

    Kelebihan garam akan menyebabkan retensi air dalam tubuh. Di mana, air membentuk sekitar 55-60 % dari berat tubuh.

    Jadi, saat sedang berusaha menurunkan berat badan hindari mengkonsumsi garam selama minggu.

    Selain menjaga pola makanan yang sehat, diet TWS perlu dibarengi dengan olahraga. Berikut adalah rekomendasi latihan yang bisa dilakukan saat menjalankan diet TWS:

    • Latihan push up
    • Latihan tuck-ups
    • Skipping (lompat tali).

    Perlu diingat, sebelum memutuskan untuk menjalani program diet, kamu mungkin ingin berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi untuk mengetahui berapa banyak bb yang perlu diturunkan. Ahli yang berkualifikasi akan memberikan cara terbaik untuk mencapainya.

    (khq/fds)



    Sumber : health.detik.com