Tag Archives: volatilitas

Babak Belur Jelang Akhir Tahun, Bitcoin Masih Kuat Nanjak?


Jakarta

Harga Bitcoin (BTC) mengalami tekanan hebat jelang akhir tahun 2025. Berdasarkan data perdagangan Coinmarketcap hari ini (18/12/2025), BTC terkoreksi 4,04% pada perdagangan sepekan terakhir ke harga US$ 86.611 atau sekitar Rp 1,44 miliar (asumsi kurs Rp 16.733) pukul 12.45 WIB.

Angka ini tercatat menurun drastis dari level tertingginya di harga US$ 92.900 atau sekitar Rp 1,55 miliar pada Jumat (12/12/2025). Tekanan ini terjadi akibat ketidakpastian pasar, arus dana ETF, dan faktor makroekonomi global, yang membuat pelaku pasar mencermati level teknikal.

Pada 15 Desember 2025, BTC sendiri mengalami tekanan jual tajam dan memicu likuidasi posisi long senilai sekitar US$ 200 juta hanya dalam waktu satu jam. Namun, rendahnya volume jual mengindikasikan penurunan lebih menyerupai koreksi sehat dibandingkan perubahan tren besar.


Kemudian dari sisi fundamental, investor institusional tercatat menarik dana dari spot Bitcoin ETF. Akan tetapi terjadi akumulasi korporasi yang terus berlangsung dan menopang optimisme jangka panjang terhadap Bitcoin.

Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menjelaskan BTC memiliki area krusial di level US$ 88.000-US$ 89.000. Jika mampu menembus dan bertahan di atas level tersebut, BTC berpotensi melanjutkan penguatan menuju area US$ 90.000 hingga US$ 95.000.

Kondisi ini dianggap dapat mengembalikan sentimen bullish dan membuka peluang uji ulang level psikologis US$ 100.000 sebelum akhir tahun. “Selama Bitcoin mampu bertahan di atas US$86.000, peluang pemulihan masih terbuka,” ungkap Fyqieh dalam keterangan tertulisnya, Kamis (18/12/2025).

Meski begitu, terdapat risiko penurunan masih membayangi. Level support penting berada di US$ 85.000. Jika area ini gagal dipertahankan, BTC berpotensi turun lebih dalam ke US$ 83.000 bahkan hingga US$ 80.500.

Pasalnya, terdapat sejumlah tantangan yang dihadapi BTC, seperti kenaikan suku bunga oleh Bank of Japan. Pengetatan moneter Jepang kerap kali memicu volatilitas di aset berisiko seperti BTC yang berakibat kurangnya likuiditas dari yen carry trade.

“Kegagalan mempertahankan level tersebut bisa memicu fase konsolidasi lebih panjang dan menunda potensi reli hingga awal 2026,” jelasnya.

Fyqieh menjelaskan, level US$ 100.000 dipandang sebagai resistance kuat. Analis global seperti CEO Galaxy Digital, Mike Novogratz, menilai area tersebut menjadi zona jual bagi investor yang sebelumnya membeli di harga tinggi. Dengan begitu, terdapat potensi menahan laju kenaikan dalam jangka pendek.

Dengan kondisi saat ini, ungkap Fyqieh, proyeksi harga BTC berada pada fase netral ke bullish. Bertahan di atas US$ 86.000 menjaga skenario pemulihan tetap valid, sementara penembusan di atas US$ 92.000 berpotensi menggeser outlook pasar kembali ke arah bullish menjelang akhir tahun.

“Pasar masih membutuhkan katalis yang kuat untuk menembus resistance besar. Selama belum ada dorongan volume dan sentimen yang signifikan, pergerakan Bitcoin cenderung bergerak sideways dengan volatilitas tinggi,” tutupnya.

Simak juga Video BNN Ungkap Sulitnya Lacak Transaksi Narkoba Lewat Bitcoin-Kripto

(kil/kil)



Sumber : finance.detik.com

Bitcoin Cs Melempem Jelang Pidato Jerome Powell


Jakarta

Pasar aset mata uang kripto menghadapi tekanan pada perdagangan Selasa (19/8) pagi. Tekanan umumnya dialami oleh mata uang Bitcoin, Ethereum, hingga Dogecoin terpantau berada di zona merah.

Mengutip data perdagangan Coinmarketcap, Bitcoin (BTC) terkoreksi lebih dari 1,12% dalam 24 jam terakhir dan melemah 2,27% sepanjang sepekan. Saat ini, harga BTC menyentuh level US$ 113,000 atau sekitar Rp 1,83 miliar (asumsi kurs Rp 16.218).

Sementara untuk mata uang Ethereum (ETH) berada di harga US$ 4,200 atau sekitar Rp 68,24 juta. Cardano (ADA) tercatat anjlok 3,84% di harga US$ 0,92, Solana (SOL) di harga US$ 179, XRP di harga US$ 3, dan Dogecoin (DOGE) di harga US$ 0,21.


Secara keseluruhan, kapitalisasi pasar kripto global turun menjadi US$ 3,8 triliun atau sekitar Rp 61,74 kuadriliun, melemah dalam 24 jam terakhir. Indeks Sentimen Pasar Kripto (Crypto Fear and Greed Index) tercatat berada pada level 53, menunjukkan kondisi netral dengan kecenderungan waspada.

Indodax menilai, pelemahan harga kripto terjadi akibat sentimen pasar yang cenderung melemah jelang pidato Ketua The Fed Jerome Powell yang diperkirakan memberi sinyal arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS). Selain itu, regulator keuangan Korea Selatan baru saja memerintahkan bursa kripto lokal untuk menghentikan layanan pinjaman kripto.

Dua sentimen ini dinilai meningkatkan kecemasan investor terkait stabilitas pasar regional. Sementara dari sisi on-chain, tercatat adanya pergerakan signifikan dari investor whale dan institusi.

Data menunjukkan sebanyak 12.000 BTC dikirim ke bursa, indikasi aksi ambil untung oleh pemegang besar. Namun, akumulasi tetap terjadi di sisi treasury: Di sisi lain, Metaplanet menambah 775 BTC senilai sekitar US$ 93 juta, sementara MicroStrategy membeli tambahan 430 BTC.

Vice Presiden Indodax, Antony Kusuma menyebut, kombinasi sentimen ini menunjukkan dinamika pasar yang kompleks. Menurutnya, jika deposit whale terus meningkat, potensi kepanikan investor ritel bisa muncul.

Sebaliknya, akumulasi oleh perusahaan publik menjadi faktor penopang jangka panjang, meskipun efek jangka pendeknya terbatas. “Pasar kripto sering kali bergerak lebih cepat dalam merespons sinyal kebijakan makroekonomi dibanding instrumen lain. Tekanan harga yang terjadi saat ini mencerminkan sikap investor yang menahan posisi sambil menunggu kejelasan dari bank sentral Amerika,” jelas Antony dalam keterangan tertulisnya, Rabu (20/8/2025).

Antony menjelaskan, deposit besar ke bursa dari whale seringkali memicu volatilitas jangka pendek. Jika tren ini berlanjut, ia menilai investor ritel bisa terdorong melakukan aksi jual.

Namun, Antony menyebut akumulasi yang dilakukan institusi justru mencerminkan kuatnya keyakinan terhadap nilai BTC dalam jangka panjang. Perbedaan perilaku antara trader jangka pendek dan strategi perbendaharaan jangka panjang membuat dinamika pasar BTC semakin unik.

Antony menambahkan, meski pembelian oleh institusi memberikan fondasi jangka panjang, dampaknya terhadap harga tidak serta-merta langsung terasa dibandingkan dengan tekanan jual dari whale.

“Saat ini pasar berada di titik keseimbangan antara aksi ambil untung whale dan strategi akumulasi institusi. Investor perlu berhati-hati dalam jangka pendek, namun tetap melihat adanya struktur penopang yang terbentuk untuk jangka panjang,” ujarnya.

Meski demikian, Antony menekankan kondisi pasar saat ini justru bisa menjadi momentum bagi investor jangka panjang. Strategi seperti dollar-cost averaging dinilai dapat membantu menghadapi volatilitas yang tinggi. Menurutnya, pelemahan altcoin seperti ETH, ADA, maupun SOL saat ini bagian dari pola rotasi pasar.

“Investor cenderung mengalihkan likuiditas ke aset yang dianggap lebih aman ketika volatilitas meningkat. Pola ini bukan berarti altcoin kehilangan potensi, melainkan refleksi dari sikap konservatif sementara,” jelasnya.

Secara historis, menurut Antony, volatilitas kripto yang tinggi justru membuka ruang bagi inovasi. Di tengah tekanan harga, ia mengingatkan pentingnya disiplin manajemen risiko. Ia juga menekankan bahwa transparansi bursa menjadi kunci menjaga kepercayaan publik

“Setiap fase koreksi biasanya diikuti oleh lahirnya tren baru. Investor yang mampu melihat peluang di balik volatilitas akan lebih siap menghadapi perubahan siklus berikutnya,” ujar dia.

Tonton juga video “Harga Bitcoin Sentuh Rp 1,8 M, Apa Penyebabnya?” di sini:

(kil/kil)



Sumber : finance.detik.com

Gara-gara Trump, Aset Kripto Terjun Bebas & Bitcoin Melorot 14%


Jakarta

Aset kripto mengalami penurunan terbesar pada perdagangan Jumat lalu. Investor kini bersiap menghadapi volatilitas yang lebih tinggi dan penurunan lebih lanjut pada aset Bitcoin dan Ether.

Dilansir dari Reuters, Selasa (14/10/2025), pelaku pasar mengatakan sektor kripto pada hari Jumat mengalami likuidasi atau penjualan lebih dari US$ 19 miliar, karena aksi jual panik dan likuiditas yang rendah. Pada akhirnya hal ini memicu fluktuasi tajam aset-aset kripto.

Penurunan ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump pada Jumat malam mengumumkan tarif 100% untuk impor barang dari China dan mengancam kontrol ekspor pada perangkat lunak penting.


Para analis kripto mengatakan ini adalah penurunan terbesar dalam periode 24 jam dalam sejarah perdagangan kripto. Sembilan kali lebih besar dari kejatuhan kripto Februari 2025 dan 19 kali lebih besar dari kejatuhan Maret 2020, serta hancurnya bursa FTX pada November 2022.

Bitcoin jatuh hingga ke level terendah US$ 104.782,88 selama periode 10-11 Oktober, turun lebih dari 14% dari level tertingginya di US$ 122.574,46 pada hari Jumat.

Harga terakhir naik 0,6% ke US$ 115.718,13. Padahal, mata uang kripto terbesar di dunia ini mencapai rekor tertinggi di atas US$ 126.000 pada 6 Oktober.

Sementara itu, aset Ether, mata uang digital terbesar kedua setelah Bitcoin turun 12,2% ke level terendah US$ 3.436,29 pada hari Jumat. Harga terakhir diperdagangkan di US$ 4.254, naik 2,4% pada hari yang sama.

Trump sendiri nampan melunakkan pernyataannya terhadap China di akhir pekan. Hal itu membantu pemulihan kripto. Sementara itu, China pada hari Minggu menyalahkan AS atas eskalasi tersebut, tetapi tidak mengambil tindakan pencegahan lebih lanjut.

“Jumat lalu, volatilitas melonjak secara signifikan, tidak hanya untuk obligasi berjangka pendek, tetapi juga untuk obligasi berjangka panjang. Sentimen seputar volatilitas berjangka pendek adalah semakin banyak orang khawatir tentang penurunan harga,” kata Sean Dawson, kepala riset di Derive.xyz di Canberra.

Lihat juga Video: Nilai Transaksi Kripto September 2025 Turun 14,53 Persen

(kil/kil)



Sumber : finance.detik.com

Rencana Trump Caplok Greenland Bikin Harga Bitcoin Melorot!


Jakarta

Harga Bitcoin (BTC) kembali melemah dan turun ke bawah level psikologis US$ 90.000 atau sekitar Rp 1,52 miliar (kurs Rp 16.900) pada perdagangan Rabu (21/1). Penurunan bitcoin terjadi seiring dengan meningkatnya tensi geopolitik dan aksi jual di pasar aset berisiko.

Pelemahan terjadi di tengah kekhawatiran pasar terhadap eskalasi perang tarif Amerika Serikat (AS) terhadap Eropa, yang dikaitkan dengan tekanan Washington kepada Denmark agar mempertimbangkan kembali kendalinya atas Greenland, serta gejolak di pasar obligasi Jepang yang memicu sentimen risk-off secara luas.

Berdasarkan data CoinMarketCap, Bitcoin sempat menyentuh kisaran US$ 87.000 sebelum bergerak fluktuatif. Tekanan tidak hanya terjadi di pasar kripto, tetapi juga meluas ke pasar saham global.


Indeks utama Wall Street, termasuk S&P 500 dan Nasdaq, ditutup melemah lebih dari dua persen, sementara imbal hasil obligasi pemerintah bergejolak dan harga emas melonjak sebagai aset lindung nilai. Menanggapi kondisi ini, Vice President INDODAX, Antony Kusuma, menilai pergerakan ini mencerminkan keterkaitan kripto yang semakin erat dengan dinamika makroekonomi dan geopolitik global.

“Dalam situasi seperti ini, Bitcoin tidak berdiri sendiri. Ketika pasar global masuk ke fase risk-off akibat ketegangan geopolitik, kebijakan perdagangan, dan tekanan di pasar obligasi, aset berisiko cenderung mengalami koreksi secara bersamaan akibat aksi jual,” ujar Antony dalam keterangan tertulis, Rabu (21/1/2026).

Menurut Antony, kepanikan jangka pendek kerap muncul ketika investor global berusaha menyeimbangkan ulang portofolio investasi mereka di tengah ketidakpastian. Hal ini terlihat dari meningkatnya volatilitas, lonjakan volume perdagangan, serta tekanan di pasar derivatif kripto.

“Yang perlu dicermati adalah bahwa pergerakan ini lebih didorong oleh faktor eksternal, bukan perubahan fundamental di ekosistem Bitcoin dan kripto. Dinamika suku bunga, likuiditas global, dan arah kebijakan geopolitik saat ini menjadi variabel utama yang memengaruhi harga,” lanjutnya.

Ia menambahkan bahwa sejarah pasar kripto menunjukkan fase koreksi tajam seringkali beriringan dengan guncangan makro, terutama ketika Bitcoin semakin diperlakukan sebagai bagian dari aset global oleh investor institusional.

“Partisipasi institusi membuat Bitcoin lebih responsif terhadap isu global. Ini adalah konsekuensi dari maturasi pasar, di mana kripto semakin terintegrasi dengan sistem keuangan global,” sebut Antony.

Meski demikian, Antony menekankan bahwa volatilitas tetap menjadi karakter inheren pasar kripto. Investor, menurutnya, perlu memahami konteks pergerakan harga secara menyeluruh dan tidak semata melihat fluktuasi jangka pendek.

“Periode seperti ini menegaskan pentingnya perspektif jangka panjang dan pemahaman risiko. Pasar kripto akan terus bergerak mengikuti arus global, dan ketahanan investor diuji justru saat ketidakpastian meningkat,” tutup Antony.

Antony menekankan bahwa volatilitas tinggi seringkali memicu perilaku fear of missing out (FOMO) di kalangan investor. Dalam situasi seperti ini, ia menilai penting bagi pelaku pasar untuk tetap disiplin melakukan do your own research (DYOR), memahami risiko, serta tidak mengambil keputusan investasi berdasarkan tekanan emosi jangka pendek di tengah ketidakpastian global.

Tonton juga Video: Trump Kumpulkan Juragan Kripto di Gedung Putih, Apa Tujuannya?

(ily/hns)



Sumber : finance.detik.com

Harga Bitcoin Ambyar, Tapi Para ‘Pemain Besar’ Malah Borong


Jakarta

Bitcoin (BTC) bergerak di zona merah sepanjang perdagangan sepekan terakhir. Berdasarkan data CoinMarketCap harga BTC tercatat sempat terjun ke level terendahnya pada perdagangan Kamis (22/1) di posisi US$ 87.563,4 atau sekitar Rp 1,4 miliar (asumsi kurs Rp 16.777).

Kemudian hari ini, Sabtu (24/1), harga aset kripto itu kembali naik kendati terkoreksi 5,94% ke harga US$ 89.479,88 atau sekitar Rp 1,5 miliar. Kondisi ini terjadi seiring meredanya tekanan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Eropa terkait Greenland serta penundaan ancaman tarif.

Saat itu, Indeks Fear & Greed kripto juga naik tipis ke level 34 meski berada di area fear. Sejalan dengan hal tersebut, tercatat juga aksi borong BTC yang dilakukan oleh individu beraset besar atau whale dalam jumlah besar, yakni sebanyak 1.000 BTC pada saat koreksi.


Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, mengatakan pola ini kerap terjadi menjelang fase rebound di tengah aksi jual investor ritel. Menurutnya, akumulasi whale memberikan sinyal kepercayaan terhadap BTC di tengah volatilitas jangka pendek masih tinggi.

“Ketika whale aktif membeli di bawah US$ 90.000, itu biasanya mengindikasikan area tersebut dianggap menarik untuk akumulasi. Namun rebound ini masih perlu konfirmasi lanjutan karena tekanan dari sisi makro dan arus dana institusional belum sepenuhnya mereda,” ujarnya dalam keterangan tertulis, dikutip Sabtu (24/1/2026).

Dari sisi teknikal, BTC masih menghadapi resistensi jangka pendek di area rata-rata pergerakan sepekan pada level US$ 92.864. Fyqieh menilai, harga BTC kembali menguat jika mampu bertahan dan menembus level tersebut.

Namun penguatan BTC masih dibatasi beberapa faktor, utamanya tekanan arus keluar ETF Bitcoin yang mencapai sekitar US$ 707,3 juta atau sekitar Rp 11,8 triliun pada 21 Januari lalu. Selain itu, hambatan teknikal lebih besar pada pergerakan 200 hari sekitar US$ 105.541 yang masih jauh dari harga saat ini.

Ke depan, pelaku pasar akan mencermati langkah akumulasi whale dan spot exchange outflows sebagai sinyal suplai yang kian ketat. Sementara dari pasar global, sentimen positif datang dari pernyataan mantan Presiden AS Donald Trump yang memuji penasihat ekonominya, Kevin Hassett.

Akan tetapi, sentimen ini disebut akan tertahan data tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan. Kondisi ini membuat ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed mundur hingga sekitar Juni 2026 meski pelaku pasar memperkirakan adanya dua kali pemangkasan suku bunga tahun ini.

“Hal ini dinilai meredakan kekhawatiran pasar karena menutup potensi Hassett menjadi Ketua The Fed. Hassett sebelumnya dipandang sebagai figur yang paling tidak independen dan cenderung dovish, sejalan dengan keinginan Trump untuk memangkas suku bunga secara agresif,” pungkasnya.

(ahi/fdl)



Sumber : finance.detik.com

Bitcoin Terpeleset ke Level Kritis, Investor Ramai-ramai Kabur


Jakarta

Harga Bitcoin sempat menyentuh level terendah dalam 16 bulan dan menguji level psikologis US$ 60.000. Pelemahan ini terjadi seiring aksi jual besar-besaran di saham teknologi global yang membuat investor menjauh dari aset-aset berisiko.

Mengutip Reuters, Jumat (6/2/2026), mata uang kripto terbesar di dunia itu terakhir tercatat naik 1,64% ke level US$ 64.153,24. Sepanjang sesi perdagangan, harga Bitcoin sempat naik-turun setelah sebelumnya jatuh ke posisi terendah US$ 60.008,52.

Level tersebut menjadi yang terlemah sejak Oktober 2024, atau sebulan sebelum Donald Trump memenangkan pemilihan presiden Amerika Serikat. Sebelumnya Trump menyatakan dukungan terhadap aset kripto dalam masa kampanye.


Kepala Riset Pepperstone Melbourne, Chris Weston, menilai penurunan Bitcoin sudah terjadi sejak Oktober 2025. Menurutnya, kondisi ini bisa menjadi sinyal awal tekanan pasar atau sekadar kebetulan. “Banyak posisi besar yang selama ini dipadati investor kini dilepas dengan sangat cepat,” ujar Weston.

Tak hanya Bitcoin, Ethereum juga ikut tertekan. Harga Ether terakhir naik 2,4% ke US$ 1.891,27, setelah sebelumnya merosot ke level terendah 10 bulan di US$ 1.751,94.

Data CoinGecko menunjukkan, nilai pasar kripto global telah menyusut sekitar US$ 2 triliun sejak mencapai puncak US$ 4,379 triliun pada awal Oktober. Bahkan, lebih dari US$ 1 triliun nilai pasar hilang hanya dalam satu bulan terakhir.

Bitcoin diperkirakan turun sekitar 16% sepanjang pekan ini, sehingga total penurunan sepanjang tahun berjalan mencapai 27%. Sementara itu, Ether mengarah ke penurunan mingguan 17% dan telah anjlok 36% sepanjang tahun ini.

Sentimen pasar kripto ikut tertekan oleh aksi jual di pasar logam mulia dan saham. Harga emas dan perak belakangan menjadi lebih volatil akibat aksi beli berbasis utang dan spekulasi berlebihan.

Sejak beberapa waktu terakhir, pergerakan Bitcoin juga kerap sejalan dengan saham teknologi. Harga kripto ini sebelumnya terdongkrak oleh antusiasme investor terhadap kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Co-chair Hong Kong Web3 Association, Joshua Chu, menilai pelemahan Bitcoin ke arah US$ 60.000 bukan berarti kripto akan runtuh. Menurutnya, ini lebih mencerminkan risiko yang selama ini diabaikan investor.

“Mereka yang bertaruh terlalu besar, berutang berlebihan, atau menganggap harga akan terus naik, kini merasakan langsung kerasnya volatilitas pasar dan pentingnya manajemen risiko,” katanya.

Meski begitu, pasar kripto memang sudah mengalami tekanan selama beberapa bulan terakhir sejak kejatuhan tajam pada Oktober lalu yang menyeret Bitcoin dari level tertingginya. Kondisi ini membuat minat investor terhadap aset digital perlahan mendingin.

Analis Deutsche Bank mencatat, dana kelolaan ETF Bitcoin spot di AS mengalami arus keluar lebih dari US$ 3 miliar pada Januari. Sebelumnya, arus keluar juga terjadi pada Desember dan November masing-masing sekitar US$ 2 miliar dan US$ 7 miliar.

(fdl/fdl)



Sumber : finance.detik.com

Waspada! 5 Analis Peringatkan Harga Bitcoin Bisa Anjlok Sedalam Ini


Jakarta

Mata uang kripto terbesar di dunia, Bitcoin, anjlok lebih dari 12% dan sempat turun ke bawah level US$ 64.000. Penurunan ini membuat nilai Bitcoin hampir terpangkas setengahnya sejak mencapai puncak harga sekitar empat bulan lalu.

Mengutip Business Insider, Jumat (6/2/2026), sejumlah analis dan pengamat kripto menilai tekanan di pasar belum berakhir. Bahkan, ada kekhawatiran kondisi akan makin memburuk.

Kekhawatiran akan pelemahan yang lebih panjang mulai mencuat di kalangan investor setelah aksi jual besar-besaran menyeret Bitcoin ke level terendah dalam 15 bulan terakhir.


Selama beberapa bulan terakhir, pasar bearish Bitcoin telah memangkas hampir 50% harga aset kripto tersebut sejak mencetak rekor tertinggi di kisaran US$ 126.000. Para analis memperingatkan potensi penurunan lanjutan.

Analis Coin Bureau, Nic Puckrin, memperkirakan harga Bitcoin bisa turun hingga US$ 55.700 jika gagal bertahan di atas level US$ 70.000. Ia menilai penurunan ini dipicu oleh aksi jual besar-besaran dari pemilik Bitcoin bermodal besar (whales), serta penjualan oleh investor institusional.

“Ketika Bitcoin terus melorot menembus batas psikologis US$ 70.000, terlihat jelas pasar kripto kini masuk fase kapitulasi penuh,” tulis Puckrin dalam catatannya.

Menurut Puckrin, jika melihat pola siklus sebelumnya, kondisi ini bukan sekadar koreksi jangka pendek, melainkan fase transisi menuju penyesuaian ulang pasar yang biasanya berlangsung berbulan-bulan, bukan hitungan minggu.

Sementara itu, Kepala Kebijakan Bitcoin Policy Institute, Zack Shapiro, menilai prospek jangka panjang Bitcoin sebenarnya masih cukup kuat, terutama karena mulai banyak dipakai investor besar. Namun dalam waktu dekat, ia memperkirakan harga Bitcoin masih bisa turun hingga mendekati US$ 58.000 sebelum akhirnya stabil. Jika itu terjadi, penurunan dari harga saat ini bisa mencapai sekitar 15%. Banyak penjual merupakan investor awal Bitcoin yang mulai merealisasikan keuntungan.

“Ini jelas ada unsur panic selling. Ada juga aksi ambil untung. Saat ini, jumlah penjual masih lebih banyak daripada pembeli,” katanya.

Analis teknikal senior, Katie Stockton, juga memperkirakan Bitcoin bisa turun sampai US$ 57.800 jika tekanan jual berlanjut.

“Untuk jangka panjang, tembusnya indikator teknikal mingguan menunjukkan tren kenaikan siklikal mulai kehilangan kekuatan, yang berpotensi memicu volatilitas tinggi dalam beberapa bulan ke depan,” tulis Stockton.

Bahkan, proyeksi yang lebih suram juga mulai bermunculan. Dalam catatan kepada klien, Stifel memperkirakan Bitcoin masih berpotensi turun hingga 45% dari level saat ini, atau ke kisaran US$ 38.000, berdasarkan analisis pola pasar bearish Bitcoin selama 15 tahun terakhir.

Sementara itu, Kepala Strategi Ekuitas Zacks Investment Research, John Blank, memperkirakan harga Bitcoin bisa melorot hingga US$ 40.000 dalam enam hingga delapan bulan ke depan. Ia menilai tekanan tersebut bisa dipicu oleh lamanya siklus musim dingin kripto serta potensi aksi jual dari pembeli korporasi.

Analis sekaligus investor legendaris Michael Burry, yang dikenal lewat film The Big Short, juga memperingatkan kemungkinan Bitcoin masuk ke fase kematian jika tekanan harga terus berlanjut.

(fdl/fdl)



Sumber : finance.detik.com

Harga Bitcoin Anjlok!


Jakarta

Harga Bitcoin (BTC) kembali bergerak di zona merah hingga Kamis (19/2) sore ini. Berdasarkan data perdagangan Coinmarketcap, harga BTC melemah 1,95% sepanjang perdagangan 24 jam terakhir ke level US$ 66.834 atau sekitar Rp 1,12 miliar (asumsi kurs Rp 16.910).

Padahal sebelumnya, harga BTC sempat menguat level US$ 68.332 atau sekitar Rp 1,15 miliar. Melemahnya harga BTC disebut menjadi respons pelaku pasar terhadap risalah rapat Federal Reserve (The Fed) atau Bank Sentral Amerika Serikat (AS), yang dinilai lebih agresif dari ekspektasi pasar.

“Nada minutes yang hawkish membuat pelaku pasar kembali menghitung ulang peluang penurunan suku bunga dalam waktu dekat. Ketika ekspektasi pemangkasan mundur, aset berisiko seperti Bitcoin cenderung ikut tertekan,” ujar Analis Tokocrypto Fyqieh Fachrur, dalam keterangan tertulis. Kamis (19/2/2026).


Sebagai informasi, dalam risalah rapat The Fed sejumlah pejabat gubernur The Fed menilai belum ada urgensi untuk memangkas suku bunga. Bahkan terdapat suara anggota yang menyarankan untuk menaikan suku nunga jika inflasi AS bertahan di atas 2%. Adapun The Fed menahan suku bunga acuan di kisaran 3,5%-3,75% berdasarkan Federal Open Market Committee (FOMC).

Selain risalah rapat The Fed, meningkatnya ketegangan geopolitik AS-Iran disebut menjadi sentimen negatif terhadap harga BTC. Terlebih adanya kenaikan harga minyak lebih dari 4% imbas meningkatnya tensi kedua negara tersebut.

Di sisi lain, kembalinya likuiditas pasar Asia usai libur Tahun Baru Imlek juga membuat pergerakan harga lebih tajam. Peningkatan volume dan perputaran perdagangan dinilai memperbesar tekanan jual terhadap BTC terjadi dalam jangka pendek.

“Ketika risiko geopolitik naik dan harga minyak melonjak, pasar cenderung masuk mode risk-off. Itu biasanya membuat volatilitas kripto meningkat karena investor mengurangi eksposur,” jelasnya.

Secara teknikal, Fyqieh menyebut BTC masih berada dalam fase konsolidasi di area krusial dengan zona support jangka pendek di level US$ 66.200 hingga US$ 67.800. Selama BTC dapat bertahan pada level tersebut, ia menilai potensi kenaikan harga masih tetap terbuka meski terbatas.

“Jika mampu menembus level tersebut, harga berpotensi menguji area berikutnya di US$ 69.250 hingga US$ 70.800. Namun jika tekanan jual kembali meningkat dan support gagal dipertahankan, risiko koreksi lanjutan tetap ada,” tutup Fyqieh.

(ahi/hns)



Sumber : finance.detik.com