Tag: white house

  • Pakar Bocorkan Trik Cuci Seprai Putih yang Benar agar Tetap Terlihat Bersih


    Jakarta

    Seprai berwarna putih memberikan tampilan kamar yang bersih, elegan, dan sederhana. Sayangnya, memakai seprai putih mudah sekali kotor karena warnanya yang terang.

    Kasur dengan seprai putih juga sulit dibersihkan apalagi jika sudah ada noda yang menempel. Selain itu, warnanya bisa berubah menjadi agak kekuningan. Hal ini yang membuat banyak orang ragu untuk memakai seprai putih dan memilih warna yang agak gelap.

    Sebelum benar-benar memutuskan beralih dari seprai putih, ada lho trik membuat seprai tetap bersih dan warnanya tidak memudar. Dilansir Ideal Home, berikut tips yang bisa diikuti.


    1. Atur Suhu Air

    Seorang pakar sekaligus pemilik White House Hideaway Richard Edwards mengatakan kebanyakan orang salah kaprah bahwa seprai putih harus direndam di air yang panas dan sangat dingin. Padahal ketentuan yang paling tepat adalah rendam seprai putih di air bersuhu yang hangat seperti 40 derajat.

    Air panas dapat membuat noda menempel dan menguning. Sementara itu, air dingin membuat detergen tidak dapat bekerja dengan baik.

    2. Pakai Detergen Bubuk

    Richard mengatakan untuk mempertahankan warna dan tekstur seprai putih layaknya produk baru adalah dengan mencucinya menggunakan detergen bubuk.

    Syaratnya adalah jumlah detergen yang dipakai sesuai. Sebab, jika terlalu sedikit tidak akan membuat seprai bersih dan apabila terlalu banyak justru membuat kainnya kaku dan berubah warna jadi abu-abu.

    3. Hati-hati Saat Memakai Pemutih Pakaian

    Pemakaian pemutih pada pakaian yang asal-asalan dapat merusak serat kain dan membuat pakaian lebih kusam.

    Richard menegaskan hindari menggunakan pemutih klorin. Ganti produk tersebut dengan pemutih oksigen pada saat mencuci. Jenis pemutih tersebut lebih aman bagi kain.

    4. Jangan Cuci Seprai dengan Pakaian Lain

    Ketika mencuci seprai sebaiknya tidak digabung dengan pakaian lain. Seprai membutuhkan ruang yang besar agar semua sisinya benar-benar bersih. Selain itu, memisahkan seprai putih dari pakaian lain agar seprai tidak luntur karena pakaian lain.

    5. Jemur di Luar Ruangan

    Richard menyarankan untuk menjemur seprai putih di luar ruangan yang sedang panas. Hal ini agar tidak muncul bau apek atau lembap. Selain itu, sinar UV matahari juga menawarkan sifat pemutih alami yang dapat membantu menjaga kecerahan warna. Hal ini juga berlaku untuk semua pakaian putih.

    Itulah tips agar seprai putih tetap bisa tampak bersih dan baru, semoga bermanfaat.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (aqi/das)



    Sumber : www.detik.com

  • Buka Bersama di White House



    Jakarta

    Dekade terakhir kita sering menyaksikan Presiden AS mengundang tokoh-tokoh muslim atau imam berbuka bersama di Istana Kepresidenan AS, Gedung Putih, atau yang lebih populer dengan White House. Beberapa kali pernah dilakukan Presiden George Bust, Obama, dan bulan Ramadhan lalu Presiden Donald Trump juga melakukan hal yang sama. Dalam acara buka bersama ini, Presiden juga mengundang tokoh-tokoh agama lain untuk meramaikan acara buka bersama ini.

    Apa maksud pemerintah AS melakukan acara keagamaan Islam di Gedung Putih? Tentu kita masing-masing bisa memiliki interpretasi. Yang pasti bahwa buka puasa di Gedung Putih (White Hose Ramadhan Dinner), bagian dari upaya positif AS untuk merangkul seluruh warganya, termasuk warga muslim, jumlahnya semakin hari semakin bertambah. Acara ini juga sekaligus digunakan untuk mengakrabkan antara sesama tokoh-tokoh antar umat beragama dan tokoh agama dengan pemerintah. Hal ini mengingatkan kita dengan trilogi kerukunan di Indonesia, yaitu kerukunan internal umat beragama, kerukunan antar umat beragama, dan kerukunan antara umat beragama dengan pemerintah.

    Kerukunan internal umat beragama di AS sangat kondusif. Meskipun di sana banyak Syi’ah dan Sunny serta Ahmadiyah tetapi tetap rukun satu sama lain. Bahkan di beberapa negara bagian ada istilah Islam Susyi, yakni Islam Sunny dan Syi’ah. Mereka bisa menggunakan masjid yang sama dan sama-sama menjalankan keyakinan agamanya masing-masing menurut mazhab yang dianutnya, tanpa ada permasalahan. Demikian pula dengan agama-agama lain, denominasi dalam satu agama tidak menimbulkan persoalan. Dari segi ini negara-negara muslim perlu belajar di AS.


    Dalam acara buka puasa bersama itu tentu saja disuguhkan makanan halal, karena acara itu diperuntukkan kepada komunitas muslim. Waktu makan makan malamnya pun mengikuti waktu magrib, pertanda bolehnya seorang shaimin membuka puasa. Siapapun yang datang dalam acara itu tidak disuguhi makanan dan minuman sebelum waktu azan magrib. Otomatis di Gedung Putih pun sudah disiapkan ruang khusus untuk shalat dan salahseorang di antara umat Islam melantunkan azan. Pemandangan yang indah di Gedung Putih ini semakin menambah indahnya Gedung Putih. Meskipun AS bukan negara Islam, dan umat Islam minoritas di AS tetapi komunitas muslim bisa mendengarkan suara azan dan bersujud di hadapan kebesaran Allah di Gedung Putih.

    Sebetulnya Presiden ke tiga AS, Thomas Jefferson (1743-1826), sudah pernah melakukan hal yang sama, yaitu ketika ia mengundang negara-negara sahabatnya dari Afrika yang tentunya banyak di antaranya beragama Islam, menunda makan malamnya di Gedung Putih, sampai jam menunjukkan waktu buka puasa bagi umat Islam. Thomas Jefferson ini juga pernah diisukan sebagai seorang muslim, sebagaimana dikatakan oleh seorang penulis AS, Michael Rieger, yang mengatakan bukanlah hanya Obama orang pertama yang dituduh sebagai Muslim saat mencalonkan presiden, 200 tahun sebelumnya juga pernah terjadi pada Thomas Jefferson. Ia sudah memiliki sebuah Al-Qur’an yang dibelinya di sebuah toko buku saat ia masih menjadi mahasiswa di di Williamsburg, Virginia. Ia secara pribadi memiliki sejumlah sahabat intelektual dari warga muslim. Salah satu di antaranya yang tercatat dalam sejarah ialah Duta Besar Tunisia dan Duta Besar Tripoli, Sidi Haji Abdul Rahman Adja.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com