Tag: ya

  • Gaya Berpakaian Rasulullah dan Baju yang Beliau Sukai


    Jakarta

    Rasulullah SAW memiliki gaya pakaian yang khas. Ada dua pakaian yang paling beliau sukai.

    Gaya berpakaian Rasulullah SAW diceritakan dalam kitab as-Syamail al-Muhammadiyah karya Imam at-Tirmidzi. Kitab ini berisi sejumlah bab yang menggambarkan pribadi Nabi Muhammad SAW, mulai cara beliau makan, berpakaian, hingga keteladanan dan sifat rendah hati beliau.

    Dalam kitab edisi Indonesia terbitan AQWAM, At-Tirmidzi memaparkan satu bab khusus pakaian Rasulullah SAW. Hal ini mengacu pada sejumlah hadits shahih.


    Menurut riwayat dari Abu Sa’id Al-Khudri, “Apabila Rasulullah SAW mengenakan pakaian baru, beliau menamakan pakaian itu dengan namanya, seperti sorban, baju, atau selendang. Setelah itu beliau berdoa, ‘Ya Allah, segala puji hanya bagi-Mu, sebagaimana Engkau telah memberi aku pakaian. Aku memohon kepada-Mu kebaikan pakaian ini, serta kebaikan sesuatu yang diciptakan untuknya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan pakaian ini, serta keburukan sesuatu yang diciptakan untuknya.” (HR At-Tirmidzi, Ahmad, dan Abu Dawud. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Misykatul Mashabih)

    Dalam riwayat lain, saat Rasulullah SAW mengenakan qithr, sejenis pakaian yang terbuat dari katun dan ada warna merah di dalamnya, beliau meletakkannya di pundak. Hal ini dikatakan Anas bin Malik,

    “Suatu hari, Nabi SAW keluar rumah dengan bersandar kepada Usamah bin Zaid dengan mengenakan pakaian qithr yang diletakkan di pundak beliau. Kemudian beliau melakukan salat berjamaah bersama para sahabat.” (HR Ahmad dalam Musnad-nya dan Abu Ya’la dalam Musnad-nya. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Mukhtashar Asy-Syama’il)

    Menurut riwayat lain yang berasal dari Asma’ binti Yazid, Rasulullah SAW biasa mengenakan baju dengan lengan panjang. “Panjang lengan baju Rasulullah SAW adalah sampai pergelangan tangan.” (HR At-Tirmidzi)

    Namun, hadits yang dikeluarkan At-Tirmidzi dalam Sunan-nya itu dinilai dhaif oleh Al-Albani. Sementara At-Tirmidzi menyatakannya hasan gharib.

    Rasulullah Paling Suka Pakai Gamis dan Hibarah

    Rasulullah SAW paling suka memakai gamis. Hal ini dijelaskan dalam hadits yang berasa; dari Ummu Salamah, ia berkata, “Pakaian yang paling disukai oleh Rasulullah SAW adalah baju gamis.” (HR At-Tirmidzi dan Abu Dawud. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud dan Mukhtashar Asy-Syama’il. At-Tirmidzi sendiri menyatakan hadits ini hasan gharib)

    Selain gamis, Rasulullah SAW juga suka memakai hibarah, jenis pakaian katun dari Yaman. Anas bin Malik berkata, “Pakaian yang paling disukai Rasulullah SAW adalah hibarah.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Aun bin Abi Juhaifah turut meriwayatkan dari ayahnya, ia mengatakan melihat Rasulullah SAW mengenakan pakaian berwarna merah. Terkait hadits ini, Sufyan berkata, “Menurut pendapatku yang dimaksud dengan pakaian berwarna merah itu adalah hibarah.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Anjuran Mengenakan Pakaian Putih

    Rasulullah SAW menganjurkan umatnya mengenakan pakaian putih. Menurut beliau, pakaian dengan warna ini lebih suci dan lebih baik. Hal ini bersandar pada hadits yang diriwayatkan Muhammad bin Basyar dari Abdurrahman bin Mahdi, dari Sufyan, dari Habib bin Abi Tsabit, dari Maimun bin Abi Syaib, dari Samurah bin Jundab yang mengatakan Rasulullah SAW bersabda,

    “Pakailah pakaian yang berwarna putih, karena ia lebih suci dan lebih baik, dan gunakanlah untuk mengkafani orang-orang yang sudah meninggal di antara kalian.” (HR At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Ibnu Majah, dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak. An-Nasa’i dan Ahmad turut meriwayatkannya dari jalur Samurah bin Jundab. Hadits shahih)

    Anjuran mengenakan pakaian putih juga disebutkan dalam riwayat Ibnu Abbas, ia berkata Rasulullah SAW bersabda, “Hendaklah kalian berpakaian putih untuk dipakai oleh orang-orang yang hidup di antara kalian, dan gunakanlah untuk mengkafani orang-orang yang meninggal di antara kalian. Sebab, ia adalah sebaik-baik pakaian bagi kalian.” (HR At-Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’)

    (kri/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Cara agar Doa Cepat Terkabul walaupun Mustahil, Baca di Waktu Ini


    Jakarta

    Urusan dikabulkan atau tidaknya doa merupakan kehendak Allah SWT. Meski demikian, seorang hamba tetap bisa berusaha jika ingin doa cepat terkabul walaupun tampaknya mustahil.

    Perintah berdoa kepada Allah SWT disebutkan langsung dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam surah Gafir (Al Mu’min) ayat 60,

    وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ ࣖࣖࣖ ٦٠


    Artinya: Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan). Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk (neraka) Jahanam dalam keadaan hina dina.”

    Menurut Tafsir Ibnu Katsir, ayat tersebut adalah sebagian dari karunia dan kemurahan Allah SWT. Dia menganjurkan hamba-Nya untuk meminta kepada-Nya dan Dia menjamin akan mengabulkan doa-doa itu.

    Doa merupakan perkara antara hamba dan Rabbnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits qudsi. Imam Al-Hafiz Abu Ya’la meriwayatkan dalam kitabnya dari hadits Anas bin Malik RA dari Nabi SAW dari Tuhannya yang mengatakan,

    أَرْبَعُ خِصَالٍ، وَاحِدَةٌ مِنْهُنَّ لِي، وَوَاحِدَةٌ لَكَ، وَوَاحِدَةٌ فِيمَا بَيْنِي وَبَيْنِكَ، وَوَاحِدَةٌ فِيمَا بَيْنِكَ وَبَيْنَ عِبَادِي: فَأَمَّا التِي لِي فَتَعْبُدُنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا، وَأَمَّا الَّتِي لَكَ عليَّ فَمَا عَمِلْتَ مِنْ خَيْرٍ جَزَيْتُكَ بِهِ، وَأَمَّا التِي بَيْنِي وَبَيْنَكَ: فَمِنْكَ الدُّعَاءُ وَعَلِيَّ الْإِجَابَةُ، وَأَمَّا الَّتِي بَيْنَكَ وَبَيْنَ عِبَادِي فَارْضَ لَهُمْ مَا تَرْضَى لِنَفْسِكَ

    Artinya: “Ada empat perkara, yang satu darinya untuk-Ku dan yang satu untukmu, dan yang satunya lagi antara Aku dan kamu, sedangkan yang terakhir antara kamu dan hamba-hamba-Ku. Adapun mengenai yang untuk-Ku ialah hendaknya engkau menyembah-Ku, tidak mempersekutukan Aku dengan sesuatu pun. Adapun yang untukmu dari-Ku ialah amal kebaikan apa pun yang engkau lakukan, Aku akan membalasnya untukmu. Dan adapun yang antara Aku dan kamu ialah engkau berdoa dan Aku yang memperkenankannya. Adapun yang antara engkau dan hamba-hamba-Ku ialah retakanlah untuk mereka apa yang engkau relakan untuk dirimu sendiri.”

    Cara agar Doa Cepat Terkabul

    Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam kitab Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’ edisi Indonesia terbitan Pustaka Imam Asy-Syafii memaparkan sejumlah cara agar doa terkabul. Kata Ibnu Qayyim, doa akan terkabul jika ia hadir dalam hati, konsentrasi penuh, khusyuk, merendahkan diri di hadapan Allah SWT, serta dipanjatkan pada waktu-waktu mustajab.

    Cara agar doa terkabul lainnya hendaknya dilakukan dengan memperhatikan hal berikut:

    1. Menghadap kiblat.
    2. Dalam keadaan suci.
    3. Mengangkat kedua tangan ke langit.
    4. Memulai berdoa dengan hamdalah, memuji Allah SWT dan bersholawat atas Nabi Muhammad SAW.
    5. Mendahulukan tobat dan istighfar sebelum menyebutkan hajatnya.
    6. Menghadirkan diri di hadapan Allah SWT.
    7. Bersikap memelas dalam doanya.
    8. Menyeru-Nya dengan ucapan lembut diiringi rasa harap dan cemas.
    9. Memohon (tawassul) kepada Allah SWT dengan nama-nama, sifat-sifat, dan keesaan-Nya.
    10. Melakukan sedekah sebelum memanjatkan doa.

    Menurut Ibnu Qayyim, memanjatkan doa dengan cara di atas hampir tidak akan pernah tertolak. Terlebih jika doa itu termasuk doa-doa yang bersumber dari Nabi Muhammad SAW.

    Waktu-waktu Mustajab untuk Berdoa

    Beberapa waktu mustajab untuk berdoa sebagaimana disebutkan Ibnu Qayyim antara lain:

    1. Sepertiga malam terakhir.
    2. Saat azan.
    3. Antara azan dan ikamah.
    4. Setelah menunaikan salat wajib.
    5. Saat imam naik ke mimbar pada hari Jumat hingga selesainya salat Jumat.
    6. Penghujung waktu ‘Ashar.

    Contoh Pengantar Doa Mustajab

    Dalam as-Sunan dan Shahih Ibnu Hibban terdapat hadits tentang doa yang mustajab. Hadits ini diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Buraidah dari ayahnya bahwa Rasulullah SAW pernah mendengar seseorang berdoa:

    اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَنِّي أَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الْأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ.

    Artinya: “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu atas dasar persaksianku bahwa Engkau adalah Allah. Tiada yang berhak disembah melainkan Engkau semata. Yang Mahatunggal, yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu, tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, serta tiada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.”

    Nabi SAW lalu bersabda,

    لَقَدْ سَأَلَ اللَّهَ بِالْاِسْمِ الْأَعْظَمِ الَّذِي إِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى، وَإِذَا دُعِيَ بِهِ أَجَابَ

    Artinya: “Laki-laki tadi telah memohon kepada Allah dengan menggunakan nama-Nya yang paling agung. Jika nama itu digunakan untuk meminta, niscaya akan diberi dan apabila digunakan untuk berdoa, niscaya akan dikabulkan.”

    Wallahu a’lam.

    (kri/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Saat Nabi Isa Salat Berjamaah Bersama Imam Mahdi


    Jakarta

    Menjelang datangnya hari kiamat, Nabi Isa AS akan turun dari langit untuk menyelesaikan misinya di bumi. Disebutkan pula dalam beberapa hadits, Nabi Isa AS akan salat berjamaah bersama Imam Mahdi. Ia sebagai makmum.

    Menurut penjelasan dalam buku Dua Puluh Lima Nabi Banyak Bermukjizat sejak Adam A.S Hingga Muhammad SAW karya Usman bin Affan bin Abul As bin Umayyah bin Abdu Syams, Nabi Isa AS akan mengenakan pakaian dua lapis berwarna merah ketika turun ke bumi.

    Sebagaimana yang diterangkan pada sebuah hadits berikut. Rasulullah SAW bersabda,


    “Tidak ada seorang Nabi pun antara aku dan Isa AS. Sesungguhnya, ia benar-benar akan turun dari langit. Ketika kamu melihatnya, ketahuilah bahwa ia adalah seorang pria dengan tubuh berperawakan sedang dan kulit putih kemerah-merahan. Ia akan turun mengenakan dua lapis pakaian yang dicelup berwarna merah, dan kepalanya terlihat seperti meneteskan air meskipun sebenarnya tidak basah.” (HR Abu Dawud)

    Nabi Isa AS Jadi Makmum Imam Mahdi

    Masih merujuk buku yang sama, turunnya Nabi Isa AS ke bumi untuk menyerukan manusia agar mengikuti ajaran Rasulullah SAW. Bahkan disebutkan dalam sebuah hadits bahwa hal pertama yang dilakukan Nabi Isa AS setelah turun dari langit ialah menunaikan salat.

    Nabi Isa AS akan melaksanakan salat yang dipimpin oleh Imam Mahdi. Sebagaimana yang dijelaskan oleh hadits-hadits berikut.

    Rasulullah SAW bersabda, “Sekelompok dari umatku akan terus berperang demi kebenaran secara terang-terangan hingga hari kiamat. Saat Isa Ibn Maryam turun, pemimpin mereka (Al Mahdi) akan berkata, ‘Datanglah dan pimpinlah salat kami.’ Namun, Isa akan menjawab, ‘Tidak, sesungguhnya sebagian dari kalian adalah pemimpin bagi sebagian yang lain, sebagai kehormatan yang diberikan Allah kepada umat ini (umat Islam)’.” (HR Muslim dan Ahmad)

    Lalu, diterangkan dalam hadits serupa yang berbunyi,

    “Tiba-tiba Isa AS sudah berada di antara mereka dan panggilan salat dikumandangkan. Kemudian, seseorang berkata kepadanya, ‘Majulah dan pimpinlah salat, wahai ruh Allah.’ Isa menjawab, ‘Biarlah pemimpin kalian yang maju dan mengimami salat’.” (HR Muslim & Ahmad)

    Kedua hadits tersebut menunjukkan bahwa Nabi Isa AS menolak menjadi imam salat dan mempersilahkan Imam Mahdi memimpin salat karena kemuliaan yang diberikan Allah SWT kepadanya.

    Misi Nabi Isa AS di Bumi

    Ustaz Khalillurrahman El-Mahfani dalam buku Kemunculan Dajjal & Imam Mahdi Semakin Dekat menjelaskan bahwa misi Nabi Isa AS turun ke bumi ialah untuk membunuh Dajjal dan menumpas Ya’juj dan Ma’juj.

    Setelah misi tersebut tuntas, Nabi Isa AS akan tetap tinggal di bumi selama empat puluh tahun. Sebagaimana riwayat dari Abu Hurairah berikut,

    Rasulullah SAW bersabda, “Para nabi bersaudara karena beberapa alasan. Agama mereka sama, tetapi ibu mereka berbeda-beda. Aku adalah orang yang lebih berhak bersaudara dengan Isa bin Maryam karena tidak ada nabi di antara aku dan ia, dan ia akan turun. Jika kalian melihatnya, kenalilah bahwa ia memiliki tubuh sedang, kulitnya kemerah-merahan, berambut lurus, seolah-olah kepalanya meneteskan air meskipun tidak basah, dan mengenakan pakaian berwarna kekuning-kuningan. Ia akan menghancurkan salib, memusnahkan babi, menghapuskan pajak, dan mengajak orang-orang masuk dalam agama Islam.

    Pada zaman Isa, Allah akan menghapuskan semua agama selain Islam. Ia juga akan membunuh Al-Masih Dajjal. Dunia akan menjadi aman dan tenteram sehingga unta bisa hidup berdampingan dengan singa, harimau dengan sapi, serigala dengan domba, dan anak-anak bisa bermain dengan ular tanpa bahaya. Isa akan tinggal di bumi selama empat puluh tahun sebelum meninggal, dan umat muslim akan menyalati jenazahnya.” (HR Ahmad dalam musnadnya)

    Wallahu a’lam.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Ada 11 Bintang yang Sujud pada Nabi Yusuf, Apa Saja Nama-namanya?


    Jakarta

    Nabi Yusuf AS adalah salah satu putra Nabi Yakub dari istrinya yang bernama Rahiel. Di antara putra-putra Yakub, Nabi Yusuflah yang memiliki kedudukan paling mulia dan agung.

    Nabi Yusuf AS adalah satu-satunya anak Nabi Yakub yang mendapatkan tugas kenabian. Salah satu tanda kenabian yang dianugerahkan Allah SWT kepada Nabi Yusuf AS adalah melalui mimpinya, di mana beliau menyaksikan matahari, bulan, dan bintang yang sujud pada Nabi Yusuf AS. Berikut kisah lengkapnya.

    Mimpi Nabi Yusuf AS Melihat 11 Bintang Bersujud Padanya

    Ibnu Katsir dalam kitab Qashash Al-Anbiya yang diterjemahkan oleh Umar Mujtahid, mengutip sebuah pendapat dari para mufassir dan kalangan lain, yang menuturkan bahwa saat masih kecil dan belum baligh, Nabi Yusuf AS bermimpi seolah-olah sebelas bintang, matahari, serta bulan bersujud kepadanya. Menyaksikan mimpinya tersebut, Nabi Yusuf AS pun tercengang seakan-akan hal ini nyata.


    Ketika bangun, Nabi Yusuf AS menceritakan mimpi itu kepada ayahnya. Ayahnya, Nabi Yakub AS, memahami bahwa kelak Nabi Yusuf AS akan meraih kedudukan tinggi, baik di dunia maupun akhirat, dan ayahnya serta seluruh saudaranya akan tunduk padanya dalam kedudukan tersebut.

    Namun, Nabi Yakub AS memerintahkan Nabi Yusuf AS untuk menyembunyikan mimpi itu dan tidak menceritakannya kepada saudara-saudaranya, agar mereka tidak merasa hasad, berbuat zalim, dan melakukan tipu daya terhadapnya.

    Allah SWT berfirman dalam surah Yusuf ayat 4-6,

    اِذْ قَالَ يُوْسُفُ لِاَبِيْهِ يٰٓاَبَتِ اِنِّيْ رَاَيْتُ اَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَّالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَاَيْتُهُمْ لِيْ سٰجِدِيْنَ ۝٤ قَالَ يٰبُنَيَّ لَا تَقْصُصْ رُءْيَاكَ عَلٰٓى اِخْوَتِكَ فَيَكِيْدُوْا لَكَ كَيْدًاۗ اِنَّ الشَّيْطٰنَ لِلْاِنْسَانِ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ ۝٥ وَكَذٰلِكَ يَجْتَبِيْكَ رَبُّكَ وَيُعَلِّمُكَ مِنْ تَأْوِيْلِ الْاَحَادِيْثِ وَيُتِمُّ نِعْمَتَهٗ عَلَيْكَ وَعَلٰٓى اٰلِ يَعْقُوْبَ كَمَآ اَتَمَّهَا عَلٰٓى اَبَوَيْكَ مِنْ قَبْلُ اِبْرٰهِيْمَ وَاِسْحٰقَۗ اِنَّ رَبَّكَ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ

    Artinya: “(Ingatlah) ketika Yusuf berkata kepada ayahnya (Ya’qub), “Wahai ayahku, sesungguhnya aku telah (bermimpi) melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan. Aku melihat semuanya sujud kepadaku. Dia (ayahnya) berkata, ‘Wahai anakku, janganlah engkau ceritakan mimpimu kepada saudara-saudaramu karena mereka akan membuat tipu daya yang sungguh-sungguh kepadamu. Sesungguhnya setan adalah musuh yang jelas bagi manusia. Demikianlah, Tuhan memilihmu (untuk menjadi nabi), mengajarkan kepadamu sebagian dari takwil mimpi, serta menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu dan kepada keluarga Ya’qub, sebagaimana Dia telah menyempurnakannya kepada kedua kakekmu sebelumnya, (yaitu) Ibrahim dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana’.”

    Dikutip dari Syarah Shahih Al-Bukhari karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin terbitan Darus Sunnah, sebelas bintang yang sujud pada Nabi Yusuf AS tersebut melambangkan sebelas saudara Nabi Yusuf AS, karena beliau adalah yang kedua belas. Sedangkan matahari dan rembulan melambangkan kedua orang tuanya.

    Ada sebuah pendapat yang mengatakan bahwa sang ayah dilambangkan dengan Al-Qamar (rembulan), karena bentuk mudzakkar dari kata Al-Qamar. Sementara ibu dilambangkan dengan Asy-Syams (matahari), berdasarkan bentuk muannats dari kata Asy-Syams.

    Sementara itu, pendapat lain menyebutkan bahwa justru sebaliknya, ayah dilambangkan dengan matahari, dan ibu dengan rembulan.

    Nama-nama Bintang yang Sujud pada Nabi Yusuf

    Dalam mimpinya, sebelas bintang yang sujud pada Nabi Yusuf AS ternyata memiliki nama masing-masing. Mengutip kembali Qashash Al-Anbiya, Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim, Abu Ya’la, dan Bazzar meriwayatkan dalam kitab Musnadnya masing-masing, dari Jabir, yang menuturkan bahwa, “Seorang Yahudi bernama Bustanah datang menemui Nabi SAW, lalu berkata, ‘Hai Muhammad! Beritahukan padaku tentang bintang-bintang yang sujud pada Yusuf seperti dalam mimpinya, apa saja nama-namanya?”

    Nabi SAW diam tidak menjawab, lalu Jibril turun memberitahukan nama bintang-bintang itu. Nabi kemudian mendatangi si Yahudi itu dan berkata, ‘Apakah kau akan beriman kepadaku jika aku beritahukan nama bintang-bintang itu kepadamu?’ ‘Ya.’ Jawabnya. Nabi SAW kemudian menyebutkan nama-namanya, ‘(Nama-namanya adalah) Jaryan, Thariq, Dzayyal, Dzul Katifan, Qabis, Watstsab, Amudan, Faliq, Mushbih, Dharuh, Dzul Furu’, Dhiya’ dan Nur.’

    Si Yahudi itu kemudian mengatakan, ‘Demi Allah, itulah nama-namanya.’ “

    Riwayat Abu Ya’la menambahkan, saat Yusuf mengisahkan mimpi itu kepada ayahnya, ayahnya berkata, “Ini adalah urusan yang tercerai berai yang disatukan Allah. ‘Matahari takwilnya ayah dan bulan takwilnya ibu’.”

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com