Tag: zulkarnain

  • Watak Pemimpin jadi Panutan



    Jakarta

    Dzul Qarnain ditanya, “Apa yang paling membuat anda senang?

    Jawabnya,”Dua hal. Pertama, adil dan jujur. Kedua, membalas kebaikan seseorang lebih besar dari kebaikannya.”
    Siapakah dia ? Dalam surat Al-Kahfi. Zulkarnain ( Dzul Qarnain ) adalah seorang raja Romawi dan Persia. Dirinya dinamai demikian sebab memiliki dua tanduk di kepalanya. Sebagian percaya, nama ini didapat karena ia sudah berhasil menguasai bumi bagian timur dan barat.

    Jujur merupakan syarat utama bagi seorang pemimpin, karena ia semestinya menjalankan amanah dengan kejujuran. Adapun sikap jujur ini menjadikan seorang pemimpin menuju adil. Kejujuran berarti memberikan bimbingan yang benar kepada orang yang memerlukannya. Islam memerintahkan kita sebagai umat Islam untuk jujur kepada orang lain dan diri kita sendiri . Seorang muslim diperintahkan oleh Allah SWT. untuk jujur dalam perkataan dan perbuatannya, baik secara pribadi maupun di depan umum. Jujur pada diri sendiri tersirat dengan menaati hukum dan perintah-Nya.


    Inilah perintah bersikap jujur sebagaimana firman-Nya dalam surah al-Ahzab ayat 70 yang terjemahannya, “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.”

    Bagi orang-orang yang beriman kepada Allah SWT. dan Rasulullah SAW, bertakwalah kepada-Nya dalam segala urusan kalian dan selalu berusahalah berkata benar, niscaya Allah SWT. akan memperbaiki dan menerima amalan kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan barangsiapa yang senantiasa mentaati Allah SWT dan Rasul-Nya maka dia akan meraih kemenangan yang besar.

    Orang yang jujur pada dirinya ( yaitu menaati perintah dan larangan-Nya ) adalah orang-orang yang selalu berkata dalam hatinya, “Tiada Tuhan selain Allah SWT.” Ia telah menjadi orang yang ikhlas. Pemimpin yang akan membawa masyarakat menuju kebaikan adalah pemimpin yang adil. Keadilan itu tidak memandang tingkatan status sosial, kekerabatan dan golongan. Jika ikatan-ikatan itu lepas, maka pemimpin tersebut dengan mudahnya menerapkan keadilan dalam menjalankan amanah.

    Adapun perintah adil dalam firman-Nya surah al-Maidah ayat 8 yang terjemahannya, “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, membuatmu berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

    Menurut orang bijak, “Watak dan perangai rakyat merupakan buah atau hasil dari watak dan perangai para pemimpinnya. Sebab kebaikan dan keburukan yang dilakukan orang awam hanyalah meniru dan mengikuti perbuatan para pemimpinnya. Orang awam belajar dari mereka dan meniru watak serta kebiasaan mereka.

    Diceritakan bahwa Walid ibn Abdul Malik, salah seorang Khalifah Daulah Umawiyah, memusatkan perhatiannya dibidang pembangunan dan kemajuan pertanian. Sedangkan Sulaiman ibn Abdul Malik hanya mementingkan soal makan dan memenuhi segala kebutuhan dan kepentingan hawa nafsu. Sementara pusat perhatian Umar ibn Abdul Aziz adalah ibadah dan kehidupan zuhud.

    Muhammad ibn Ali ibn Fadhal berkata,” Aku kurang yakin watak rakyat akan bekerja sama sebagaimana watak para pemimpinnya sampai aku melihat bahwa masa Walid orang yang begitu sibuk dengan persawahan dan perkebunan. Mereka juga mementingkan pembangunan gedung-gedung dan perumahan.”

    “Sedang pada masa Sulaiman ibn Abdul Malik, aku melihat orang-orang hanya mementingkan soal makan, dan mencari makan yang paling lezat. Sampai-sampai seseorang bertanya-tanya kepada rekannya, jenis makanan apa yang harus aku buat dan makan. Sementara pada masa Umar ibn Abdul Aziz, kulihat orang-orang menyibukkan diri beribadah membaca Al-Qur’an hingga khatam, melakukan amal kebajikan dan memberikan sedekah. Dalam masa pemerintahannya yang relatif singkat telah menjadikan rakyatnya makmur, hingga tidak ditemukan orang meminta-minta ( miskin ).

    Penulis berharap setiap ada pergantian Pemerintahan dijalankan dengan amanah dari rakyat dengan jujur dan adil. Dengan sikap tersebut, semoga Allah SWT. memberikan hidayah taufiq agar masa pemerintahan ke depan bisa memberikan kecukupan pangan melalui swasembada, ekonomi nasional tumbuh dg baik, orang miskin turun drastis dan kehidupan yang harmonis.

    Aunur Rofiq

    Ketua DPP PPP periode 2020-2025
    Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. (Terima kasih – Redaksi)

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Sosok Zulkarnain dalam Al-Qur’an, Pembuat Benteng Penahan Ya’juj dan Ma’juj



    Jakarta

    Sosok Zulkarnain dalam Al-Qur’an dijelaskan dalam surah Al-Kahfi ayat 83-99. Allah SWT berfirman bahwa ia berhasil mengurung Ya’juj Ma’juj di balik tembok tembaga antara dua gunung.

    Kisah tentang Zulkarnain tertera pada surah al-Kahfi ayat 83-99. Ibnu Katsir juga menjelaskan kejadian ini dalam kitabnya yang berjudul Lubaabut Tafsiir Min Ibni Katsiir.

    Dalam surat Al-Kahfi

    Zulkarnain adalah seorang raja Romawi dan Persia. Dirinya dinamai demikian sebab memiliki dua tanduk di kepalanya. Sebagian percaya, nama ini didapat karena ia sudah berhasil menguasai bumi bagian timur dan barat.


    Allah SWT telah memberikan kepadanya kekuasaan yang amat besar. Ia memiliki bala tentara yang banyak, alat perang yang dahsyat, dan benteng-benteng yang kuat pula.

    Oleh sebab itu, banyak negeri yang tunduk kepada Zulkarnain. Bahkan raja di seluruh dunia pun juga hormat kepadanya, baik raja dari Arab maupun non-Arab. Mereka semua mengabdi kepadanya.

    Suatu hari, dirinya menempuh sebuah perjalanan ke barat sampai menemui sebuah kaum dari Bani Adam yang besar. Ia pun mengajak mereka tentang untuk menyembah Allah SWT.

    Kemudian Zulkarnain kembali melanjutkan sebuah perjalanan ke arah matahari terbit di negeri bagian timur. Setiap melewati segolongan umat, Zulkarnain dapat mengalahkan dan menguasai mereka serta menyeru kepada Allah SWT.

    Lalu sampailah Zulkarnain ke negeri di belahan bumi bagian paling timur, daerah di mana terbitnya matahari. Di sana terdapat sebuah kaum yang tidak memiliki bangunan apa pun untuk dijadikan sebagai tempat tinggal.

    Bahkan pepohonan yang digunakan untuk berlindung dari sinar matahari saja tidak ada. Sehingga Sa’id bin Jubair mengatakan, mereka ini berkulit merah, bertubuh pendek, tinggal di gua, dan pemakan ikan.

    Zulkarnain lalu melanjutkan perjalanannya ke arah timur lagi sampai menemui dua buah gunung dengan satu lubang di antaranya. Pada celah itu, keluarlah Ya’juj Ma’juj menuju negeri Turki untuk berbuat kerusakan, termasuk pada tanaman dan keturunan.

    Di depan gunung tadi, tinggallah sebuah kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan. Mereka keterasingan bahasa sebab tinggal terlalu jauh dari umat manusia.

    Kaum tersebut meminta kepada Zulkarnain untuk membuatkan sesuatu sebagai penghalang antara mereka dengan Ya’juj Ma’juj sang pembuat onar. Mereka bahkan sudah berniat membalas jasa Zulkarnain dengan harta mereka.

    Namun dengan penuh kesucian, ketulusan, perbaikan dan tujuan baik, Zulkarnain berkata, “Apa yang telah dikuasakan oleh Rabbku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik.” Artinya, Zulkarnain tidak meminta imbalan dari mereka, melainkan ikhlas karena Allah SWT.

    Kemudian, Zulkarnain meminta kaum tersebut untuk mengumpulkan potongan-potongan besi dan tembaga. Ia menumpuk besi-besi itu hingga tingginya sama dengan kedua puncak gunung tadi.

    Zulkarnain lalu meminta penduduk kaum tersebut untuk meniup atau memanaskan besi tadi hingga luluh dan membentuk sebuah tembok penghalang yang besar.

    Atas izin Allah SWT, kerja keras Zulkarnain dan kaum tersebut untuk membuat tembok pembatas dengan Ya’juj Ma’juj berhasil.

    Dinding ini sangat kuat hingga Ya’juj dan Ma’juj tidak akan sanggup memanjat bagian atas dinding tembaga tersebut dan tidak pula dapat melubanginya di bagian bawahnya. Ya’juj Ma’juj tidak akan pernah bisa keluar tanpa izin Allah SWT.

    Lalu kapan mereka akan keluar? Yaitu ketika janji Allah SWT sudah datang. Allah SWT akan merobohkan dinding itu dengan bumi sehingga Ya’juj dan Ma’juj bisa keluar dan bercampur dengan umat manusia sambil membawa kerusakan di mana-mana.

    As-Suddi mengatakan, “Yang demikian itu adalah pada saat mereka keluar ke tengah-tengah umat manusia. Semuanya itu terjadi sebelum hari Kiamat tiba dan sesudah munculnya Dajjal.

    Sebagaimana yang ada dalam firman Allah:

    حَتَّىٰٓ إِذَا فُتِحَتْ يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ وَهُم مِّن كُلِّ حَدَبٍ يَنسِلُونَ

    Arab-Latin: ḥattā iżā futiḥat ya`jụju wa ma`jụju wa hum ming kulli ḥadabiy yansilụn

    Artinya: Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya’juj dan Ma’juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. (QS. Al-Anbiyaa ayat 96)

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com