All posts by admin

Doa Nabi Ayub AS Memohon Kesembuhan atas Penyakitnya


Jakarta

Doa Nabi Ayub AS dapat diamalkan oleh kaum muslimin agar sembuh dari penyakit. Bacaan ini dipanjatkan oleh sang nabi saat ia diuji oleh Allah SWT.

Mengutip dari Qashash al-Anbiyaa susunan Ibnu Katsir yang diterjemahkan Umar Mujtahid, Nabi Ayub AS diberi ujian berupa penyakit kulit yang membuatnya dikucilkan oleh masyarakat. Bahkan, saking parahnya penyakit Nabi Ayub AS, sang rasul sempat dibuang ke tempat sampah milik bani Israil hingga tubuhnya dipenuhi lalat dan berbagai serangga.

Tak ada seorang pun yang merasa kasihan terhadap Nabi Ayub AS selain sang istri. Penyakit kulit yang diderita Nabi Ayub AS ini bahkan membuat daging yang melekat di tubuhnya berjatuhan sampai timbul tulang belulang dan otot.


Kondisi tersebut, membuat istri Nabi Ayub AS terpaksa bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidup bersamanya. Suatu hari, sang istri menjual salah satu dari dua kepang rambutnya kepada putri seorang pejabat untuk ditukarkan dengan makanan yang banyak.

Hal itu membuat Nabi Ayub AS berdoa kepada Allah SWT sebagaimana termaktub dalam surah Al Anbiya ayat 83. Inilah ayat yang disebut sebagai doa Nabi Ayub AS memohon kesembuhan.

Doa Nabi Ayub AS Memohon Kesembuhan

وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥٓ أَنِّى مَسَّنِىَ ٱلضُّرُّ وَأَنتَ أَرْحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ

Arab latin: Wa ayyụba iż nādā rabbahū annī massaniyaḍ-ḍurru wa anta ar-ḥamur-rāḥimīn

Artinya: Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya, “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.”

Diangkatnya Penyakit Nabi Ayub AS oleh Allah SWT

Mengutip buku Mukjizat Doa-Doa yang terbukti Dikabulkan Allah tulisan Yoli Hemdi, Nabi Ayub AS tidak langsung meminta kesembuhan. Ia justru meminta untuk diperlihatkan bentuk Maha Penyayangnya Allah SWT.

Sosoknya yang seperti itu menjadikan Nabi Ayub AS sebagai manusia yang taat dan santun. Doa beliau didengar oleh Allah SWT, hal ini tertuang dalam surah Al Anbiya ayat 84,

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ ۖ وَآتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَذِكْرَىٰ لِلْعَابِدِينَ

Artinya: “Maka Kami kabulkan (doa)nya, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan (Kami lipat gandakan jumlah mereka) sebagai suatu rahmat dari Kami, dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Kami.”

Setelahnya, penyakit Nabi Ayub AS diangkat dan ia sembuh atas pertolongan Allah SWT. Saat itu, ia diperintahkan untuk menghentakkan kakinya ke tanah hingga terpancar air yang dapat digunakan untuk mandi serta minum.

Terkait hal ini turut disebutkan dalam Al-Qur’an, tepatnya pada surah Shad ayat 42,

ٱرْكُضْ بِرِجْلِكَ ۖ هَٰذَا مُغْتَسَلٌۢ بَارِدٌ وَشَرَابٌ

Artinya: (Allah berfirman): “Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.”

Air tersebut membuat Nabi Ayub AS sembuh total dari penyakit yang dideritanya. Badannya kembali sehat, wajahnya pun tampak lebih segar.

Wallahu’alam bishawab.

(aeb/erd)



Sumber : www.detik.com

Golongan Orang yang Didoakan 70 Ribu Malaikat, Apa Amalannya?


Jakarta

Ada sejumlah amalan yang mendatangkan doa malaikat, bahkan sampai 70 ribu malaikat yang melakukannya. Menurut riwayat, orang yang didoakan 70 ribu malaikat adalah orang yang menjenguk saudaranya yang tengah sakit.

Sakit adalah salah satu bentuk ujian yang diberikan Allah SWT. Ketika teman atau saudara sakit, hendaknya umat Islam menjenguk dan mendoakannya agar segera dikaruniai kesembuhan.

Keutamaan Menjenguk Orang Sakit: Didoakan 70 Ribu Malaikat

Dinukil dari buku Doa Harian Pengetuk Pintu Langit karya Hamdan Hamedan, keutamaan menjenguk orang sakit dijelaskan dalam salah satu hadits. Rasulullah SAW bersabda,


“Jika seseorang berkunjung kepada saudaranya yang muslim (yang sedang menderita sakit), maka seakan-akan dia berjalan-jalan di surga hingga duduk. Apabila sudah duduk, maka dituruni rahmat dengan deras. Jika dia berkunjung di pagi hari maka 70 ribu malaikat mendoakannya agar mendapat rahmat hingga sore hari. Jika dia berkunjung di sore hari, maka 70 ribu malaikat mendoakannya agar diberi rahmat hingga pagi hari.” (HR Ibnu Majah)

Dikutip dari buku Fiqih Ibadah bagi Orang Sakit dan Bepergian karya Enang Hidayat, keutamaan lain dari menjenguk orang sakit adalah mendapat tempat di sisi Allah SWT. Hal ini bersandar pada hadits qudsi berikut.

Allah Azza Wajalla berfirman, “Hai anak Adam! Aku sakit, mengapa kamu tidak menjenguk-Ku?” Anak Adam menjawab, “Wahai Rabbku, bagaimana menjenguk-Mu, padahal Engkau Tuhan semesta alam?”

Allah SWT pun berfirman, “Apakah kamu tidak tahu bahwa hamba-Ku si Fulan sakit, mengapa kamu tidak menjenguknya? Apakah kamu tidak tahu, seandainya kamu menjenguknya kamu akan mendapati-Ku di sisinya?” (HR Muslim dari Abu Hurairah)

Berikutnya, orang yang menjenguk saudaranya yang sakit akan dimasukkan ke surga. Hal ini bersandar pada hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah RA. Rasulullah SAW bersabda,

“Barang siapa yang menjenguk orang sakit atau mengunjungi saudaranya semata-mata karena Allah, maka seorang penyeru akan menyeru, ‘Engkau telah berbuat baik dan berjalanmu pun baik serta engkau telah memesan sebuah tempat di surga’.” (HR al-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Adab Menjenguk Orang Sakit

Mengutip Ringkasan Fikih Sunnah Sayyid Sabiq karya Syaikh Sulaiman Ahmad Yahya Al-Faifi, beberapa adab ketika menjenguk orang sakit adalah mendoakan kesembuhan dan kesehatannya, mengatakan perkataan yang baik lagi menentramkan jiwa, dan menguatkannya.

Orang yang menjenguk juga hendaknya mempersingkat kunjungan agar tidak mengganggu rehat orang yang sakit, kecuali jika ia sendiri yang menginginkan si penjenguk lebih lama.

Amalan Lain yang Didoakan Malaikat

Dalam kitab ‘Alam al-Mala’ikah al-Abrar & Alam al-Jinn wa asy-Syayathin karya Umar Sulaiman Abdullah al-Asyqar yang diterjemahkan Kaserun AS Rahman terdapat beberapa amalan yang didoakan malaikat sebagaimana disebutkan dalam hadits, selain menjenguk orang sakit. Berikut di antaranya.

1. Mengajarkan Kebaikan

Mengajarkan kebaikan akan mendatangkan doa dari malaikat. Sebagaimana diriwayatkan dari Abi Umamah, Rasulullah SAW bersabda,

“Sesungguhnya, Allah dan para malaikat, bahkan semut dalam sarangnya dan ikan di dalam laut mendoakan orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.” (HR Thabrani dan Tirmidzi)

2. Pergi ke Masjid untuk Salat

Menurut Shahih Muslim, para malaikat mendoakan orang yang datang ke masjid untuk salat. Malaikat berdoa, “Ya Allah, berilah anugerah kepadanya. Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepadanya selama ia tidak mengganggu dan tidak berhadas di dalam masjid.”

3. Salat di Barisan Terdepan

Malaikat juga akan mendoakan orang yang salat di barisan terdepan. Hal ini bersandar pada hadits yang diriwayatkan al-Barra RA. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya, Allah dan para malaikat-Nya bersalawat kepada barisan pertama.” (HR Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad)

4. Menetap di Tempat Salat setelah Salat

Keutamaan ini bersandar pada hadits riwayat Abu Hurairah RA. Rasulullah SAW bersabda,

“Malaikat itu mendoakan salah seorang dari kalian selama berada di tempat ia salat, selama tidak berhadas atau berdiri, ‘Ya Allah ampunilah ia! Ya Allah rahmatilah ia’!'” (HR Abu Dawud dan an-Nasa’i)

Merapatkan shaf juga akan mendatangkan doa malaikat. Diriwayatkan dari Aisyah RA, Rasulullah SAW bersabda,

“Sesungguhnya, Allah dan para malaikat-Nya bersholawat atas orang-orang yang menyambung barisan dan siapa yang menutup celah (dalam barisan) maka Allah menaikkannya satu derajat.” (HR Ibnu Majah, Ahmad, Hakim)

6. Makan Sahur

Hal ini bersandar pada hadits yang diriwayatkan Ibnu Umar RA. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya, Allah dan para malaikat-Nya bersalawat atas orang-orang yang makan sahur.” (HR Ibnu Hibban)

7. Membaca Sholawat atas Rasulullah SAW

Malaikat akan mendoakan orang-orang yang bersholawat atas Rasulullah SAW. Diriwayatkan dari Amir bin Rabiah, Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang hamba membaca salawat untukku, kecuali didoakan oleh para malaikat selama ia membaca salawat untukku. Karena itu, hendaklah ia mengucapkan atau memperbanyak salawat atas diriku.” (HR Ahmad dan adh-Dhiya)

Wallahu a’lam.

(kri/kri)



Sumber : www.detik.com

Doa Buka Puasa Dzulhijjah dalam Arab, Latin dan Artinya


Jakarta

Setelah menahan lapar dan dahaga setelah berpuasa Dzulhijjah, muslim dapat membatalkan puasa dengan berbuka. Berikut bacaan doa buka puasa Dzulhijjah.

Mengutip buku Inilah Alasan Rasulullah SAW Menganjurkan Puasa Sunah karya Amirulloh Syarbini dan Iis Nur’aeni Afgandi, Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk melakukan banyak amal saleh pada bulan Dzulhijjah, salah satunya puasa Dzulhijjah selama sembilan hari.

Hal ini seperti yang disampaikan dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada hari-hari yang mengerjakan amalan saleh pada hari-hari itu yang lebih baik dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini.” (HR Bukhari)


Bahkan dalam sebuah riwayat, disebutkan bahwa Rasulullah SAW tidak pernah meninggalkan puasa pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Dari Ummul Mukminin Hafsah RA, berikut bunyi haditsnya:

عَنْ حَفْصَةَ قَالَتْ أَرْبَعٌ لَمْ يَكُنْ يَدَعُهُنَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صِيَامَ عَاشُورَاءَ وَالْعَشْرَ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْغَدَاةِ

Artinya: Dari Hafshah RA, ia berkata, “Ada empat hal yang tidak pernah ditinggalkan Rasulullah SAW yaitu, puasa Asyura, puasa sepuluh hari di bulan Dzulhijjah, puasa tiga hari setiap bulan, dan dua rakaat sebelum Subuh.” (HR Ahmad dan An Nasa’i)

2 Bacaan Doa Buka Puasa Dzulhijjah

Merangkum buku Ta’wiidul Liththolab karya Siti Maslakhah dan 354 Sunnah Nabi Sehari-hari karya Raghib As-Sirjani, berikut dua versi doa buka puasa Dzulhijjah yang dapat diamalkan.

1. Doa Buka Puasa Dzulhijjah Versi Pertama

ذَهَبَ الظَّمَـأُ، وابْــتَلَّتِ العُرُوقُ، وثَــبَتَ الأَجْرُ إِن شَاءَ اللهُ

Dzahabaz zhama’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru, insyaallah

Artinya: “Rasa dahaga telah hilang, kerongkongan telah basah dan atas kehendak Allah pahala telah ditetapkan. Insya Allah.” (HR Abu Daud)

2. Doa Buka Puasa Dzulhijjah Versi Kedua

اَللّٰهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ

Allaahumma lakasumtu wabika aamantu wa’alaa rizqika afthortu birahmatika yaa arhamar-roohimiina

Artinya: “Ya Allah karena-Mu aku berpuasa, dengan-Mu aku beriman, kepada-Mu aku berserah dan dengan rezeki-Mu aku berbuka (puasa), dengan rahmat-Mu, Ya Allah yang Tuhan Maha Pengasih.” (HR Bukhari dan Muslim)

Adab dan Sunnah ketika Buka Puasa

Ketika berbuka puasa, muslim harus memperhatikan adab dan sunnahnya. Mengutip buku Memantaskan Diri Menyambut Bulan Ramadhan: Panduan Lengkap Menyambut Bulan Ramadhan dari Sebelum Ramadhan Sampai Setelahnya karya Abu Maryam Kautsar Amru, berikut di antaranya:

1. Menyegerakan Berbuka

Orang yang menyegerakan untuk berbuka puasa itu berada dalam kebaikan, sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang berbunyi:

لا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

Artinya: “Senantiasa manusia dalam kebaikan selama mereka menyegerakan al-fithro (berbuka).” (Muttafaqun ‘alaih)

Dan hendaklah buka puasa sekadarnya saja dengan kurma dan air, jangan terlalu lama, dan kemudian salat Magrib berjemaah setelah itu bagi laki-laki.

2. Berbuka dengan Kurma Muda

Jika tidak ada, baru tamr (kurma tua atau matang), dan air, sebelum menyelingi buka puasa dengan makanan lainnya. Dari Anas bin Malik RA beliau berkata:

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّي، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رطبات فَعَلَى ثَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسًا حَسَواتٍ . مِنْ مَاءٍ

Artinya: “Rasulullah SAW berbuka dengan ruthab (kurma muda) sebelum melaksanakan salat (Maghrib), maka jika tidak ada ruthab (beliau berbuka) dengan tamr, jika tidak ada (tamr) maka beliau berbuka dengan meneguk air.” (HR Abu Dawud)

3. Membaca Doa

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar RAma beliau berkata: Rasulullah SAW apabila berbuka beliau berdoa:

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

Artinya: “Rasa haus telah pergi dan urat-urat telah terbasahi serta mendapat pahala insya Allah.” (HR Abu Dawud)

4. Menyempatkan Berbuka

Dari Abu Darda’ RA sesungguhnya Nabi SAW bersabda:

ثلاث مِنْ أَخْلاقِ النُّبُوَّةَ تَعْجِيلُ الإِفْطَارِ وَتَأْخِيرُ السُّحُورِ وَوَضْعُ الْيَمِينِ عَلَى الشِّمَالِ فِي الصلاة

Artinya: “Tiga (perkara) termasuk akhlak kenabian (yaitu): menyegerakan berbuka, mengakhirkan sahur dan meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dalam salat.” (HR Ath-Thabrani, dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah, lihat Shahihul Jami Ish Shaghir)

5. Mengajak dan Menyediakan Makanan Berbuka

Seperti yang disampaikan dalam sebuah hadits, Nabi SAW bersabda:

مَنْ فَطْرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

Artinya: “Barang siapa memberi makanan berbuka seorang yang puasa maka baginya (orang yang memberi buka) semisal pahala (orang yang puasa) tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang puasa.” (HR. At-Tirmidzi dan lainnya)

Wallahu a’lam.

(rah/rah)



Sumber : www.detik.com

Allahumma Sholli Ala Sayyidina Muhammad Wa Ala Ali Sayyidina Muhammad dalam Arab dan Latin


Jakarta

Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad adalah sholawat pada Nabi Muhammad SAW. Sholawat berisi pujian dan permohonan agar mendapat syafa’at seperti yang diberikan Rasulullah SAW.

Sholawat ini dianjurkan dibaca tiap saat sebagai doa dan pastinya memberi pahala bagi muslim. Berikut tulisan Arab dan latin Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad, untuk memudahkan tiap muslim membacanya.

Allahumma Sholli Ala Sayyidina Muhammad Wa Ala Ali Sayyidina Muhammad dalam Arab dan Latin

Dilansir dari laman NU Online, pembacaan sholawat bisa mengingatkan umat muslim pada kemuliaan Nabi Muhammad SAW. Berikut tulisan Arab dan latin salah satu bacaan sholawat populer ini


اَللهم صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

Latin: Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad

Artinya: Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad dan kepada keluarga Nabi Muhammad.

Kata sayyidina dalam Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad bermakna pemimpin. Hal ini dijelaskan KH Sya’roni Ahmadi yang pernah menjabat sebagai muhtasyar PBNU.

Contoh makna sayyidina adalah pemimpin terdapat dalam surat Ali ‘Imran ayat 39

فَنَادَتْهُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَهُوَ قَاۤىِٕمٌ يُّصَلِّيْ فِى الْمِحْرَابِۙ اَنَّ اللّٰهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيٰى مُصَدِّقًا ۢ بِكَلِمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ وَسَيِّدًا وَّحَصُوْرًا وَّنَبِيًّا مِّنَ الصّٰلِحِيْنَ

Artinya: Lalu, Malaikat (Jibril) memanggilnya ketika dia berdiri melaksanakan salat di mihrab, “Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran) Yahya yang membenarkan kalimat dari Allah, (menjadi) panutan, menahan diri (dari hawa nafsu), dan seorang nabi di antara orang-orang saleh.”

Kata sayyidina termasuk lafaz kulli musytarak yang punya lebih dari satu makna. Selain pemimpin, makna sayyidina lainnya adalah Tuhan dan suami. Dalam sholawat, kata sayyidina bisa digunakan atau tidak tanpa menimbulkan perubahan makna.

Hukum Membaca Allahumma Sholli Ala Sayyidina Muhammad Wa Ala Ali Sayyidina Muhammad

Secara umum, hukum membaca sholawat adalah sunnah namun sangat dianjurkan bagi tiap muslim. Hal ini sesuai penjelasan Nabi Muhammad SAW dalam hadisnya

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْبَخِيلُ الَّذِي مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ

Artinya: “Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib, ia berkata, Rasulullah bersabda, Orang yang sangat pelit adalah orang yang ketika namaku disebut di sampingnya, ia tidak membaca shalawat kepadaku.” (HR Tirmidzi).

Hukum membaca sholawat menjadi wajib jika menjadi bagian dari bacaan. Misal ketika duduk tasyahud atau sholat jenazah. Sholawat Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad bisa dibaca umat Islam tiap saat.

Keutamaan Membaca Allahumma Sholli Ala Sayyidina Muhammad Wa Ala Ali Sayyidina Muhammad

Bacaan sholawat punya banyak versi dengan Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad sebagai salah satunya. Allah SWT menganjurkan membaca sholawat dalam surat Al Ahzab ayat 56 yang berbunyi.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Artinya: Sungguh Allah dan malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi Muhammad SAW. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk nabi. Ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.

Tentunya anjuran tersebut berkaitan dengan berbagai keutamaan sholawat ketika dibaca. Lantas apa saja keutamaan membaca sholawat?

Menurut hadis riwayat Imam Muslim, siapapun yang membaca sholawat kepada Nabi Muhammad 1 kali maka Allah akan bersholawat kepadanya sebanyak 10 kali.

مَنْ صَلَّى عَلَىَّ صَلاَةً وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرَ صَلَوَاتٍ وَحُطَّتْ عَنْهُ عَشْرُ خَطِيئَاتٍ وَرُفِعَتْ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ

Artinya: “Siapa saja yang membaca shalawat kepadaku sekali, niscaya Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali, menghapus sepuluh dosanya, dan mengangkat derajatnya sepuluh tingkatan.” (HR An Nasa’i).

Dalam Kitab Kifayatul Atqiya wa Minhajul Ashfiya karya Sayyid Bakri bin Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi, terdapat 10 keutamaan membaca sholawat yaitu:

  • Shalatul malikil ghaffar: mendapat rahmat dari Allah Yang Maha Kuasa dan Pengampun
  • Syafa’atun nabiyyil mukhtar: mendapat syafaat dan menjadi umat terpilih dari Nabi Muhammad
  • Al-iqtida bil mala’ikatil abrar: sesuai dengan anjuran malaikat abrar
  • Mukhalafatul munafiqin wal kuffar: membedakan dari kaum kafir dan munafik
  • Mahwul khathaya wal awzar: menghapus kesalahan dan dosa seseorang
  • Qadha’ul hawa’ij wal awthar: mengabulkan hajat dan harapan
  • Tanwiruz zawahir wal asrar: menjadi penerang lahir dan batin
  • An-najatu minan nar: mendapatkan keselamatan dari api neraka
  • Dukhulu daril qarar: mendapatkan surga Allah SWT
  • Salamul azizil jabbar: mendapatkan keselamatan dari Allah Yang Maha Mulia dan Berkuasa.

Demikian informasi tentang arti dan keutamaan lafadz Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad arab. Sholawat juga menjadi amal yang pasti diterima diantara ibadah yang lainnya.

(row/row)



Sumber : www.detik.com

Doa Memotong Hewan Kurban untuk Diri Sendiri dan Orang Lain


Jakarta

Setiap tanggal 10 Dzulhijjah, umat muslim di seluruh dunia akan merayakan Hari Raya Idul Adha. Selain melaksanakan sholat Id di pagi hari, ibadah yang paling dianjurkan saat Idul Adha adalah berkurban.

Sebelum memotong hewan kurban, dianjurkan membaca doa terlebih dahulu. Lantas, apa doa memotong hewan kurban untuk diri sendiri dan orang lain? Simak penjelasannya dalam artikel ini.

Bacaan Doa Memotong Hewan Kurban

Perlu diingat, bacaan doa memotong hewan kurban untuk diri sendiri atau orang lain terdapat sedikit perbedaan. Dilansir situs NU Online, berikut bacaan doa memotong hewan kurban secara lengkap.


Doa Memotong Hewan Kurban untuk Diri Sendiri

Berikut ini bacaan doa saat memotong hewan kurban yang diniatkan untuk diri sendiri.

1. Membaca Basmalah

بِسْمِ اللهِ

Bismillah

Artinya: “Dengan nama Allah.”

2. Membaca Sholawat untuk Rasulullah SAW

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

Allâhumma shalli alâ sayyidinâ muhammad, wa alâ âli sayyidinâ muhammad.

Artinya: “Tuhanku, limpahkan rahmat untuk Nabi Muhammad SAW dan keluarganya.”

3. Membaca Takbir 3 Kali dan Tahmid 1 Kali

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلهِ الْحَمْدُ

Allâhu akbar, Allâhu akbar, Allâhu akbar, walillâhil hamd

Artinya: “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, segala puji bagimu.”

4. Membaca Doa Menyembelih Hewan Kurban

Allâhumma hâdzihî minka wa ilaika, fataqabbal minnî yâ karîm

Artinya: “Ya Tuhanku, hewan ini adalah nikmat darimu. Dan dengan ini aku bertakarub kepadamu. Karenanya hai Tuhan Yang Maha Pemurah, terimalah takarubku.”

b. Doa Memotong Hewan Kurban Milik Orang Lain

Berikut ini bacaan doa saat memotong hewan kurban yang diniatkan untuk orang lain.

1. Membaca Basmalah

بِسْمِ اللهِ

Bismillah

Artinya: “Dengan nama Allah.”

2. Membaca Sholawat untuk Rasulullah SAW

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

Allâhumma shalli alâ sayyidinâ muhammad, wa alâ âli sayyidinâ muhammad.

Artinya: “Tuhanku, limpahkan rahmat untuk Nabi Muhammad SAW dan keluarganya.”

3. Membaca Takbir 3 Kali dan Tahmid 1 Kali

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلهِ الْحَمْدُ

Allâhu akbar, Allâhu akbar, Allâhu akbar, walillâhil hamd

4. Membaca Doa Sembelih Hewan Kurban Milik Orang Lain

(….) بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ اللَّهُمَّ مِنْكَ وَ إِلَيْكَ فَتَقَبَّلْ مِنْ

Bismillah wallahu akbar. Allahumma minka wa ilaika, fataqabbal min … (ucapkan nama pemilik hewan kurban)

Artinya: “Dengan nama Allah dan Allah Maha Besar, Ya Allah, kurban ini dari-Mu dan untuk-Mu, terimalah kurban (nama pemilik hewan kurban).”

Dalil tentang Memotong Hewan Kurban

Dalam Islam, kurban merupakan bentuk ibadah yang memiliki banyak keberkahan dan pahala. Hukum kurban termasuk ke dalam sunnah muakkadah, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan atau hampir mendekati wajib bagi orang yang mampu atau berkecukupan.

Di dalam Al-Quran surat Al-Hajj ayat 34, Allah SWT berfirman mengenai kurban:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنسَكًا لِّيَذْكُرُوا۟ ٱسْمَ ٱللَّهِ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُم مِّنۢ بَهِيمَةِ ٱلْأَنْعَٰمِ ۗ فَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَٰحِدٌ فَلَهُۥٓ أَسْلِمُوا۟ ۗ وَبَشِّرِ ٱلْمُخْبِتِينَ

Latin: Wa likulli ummatin ja’alnā mansakal liyażkurusmallāhi ‘alā mā razaqahum mim bahīmatil-an’ām, fa ilāhukum ilāhuw wāḥidun fa lahū aslimụ, wa basysyiril-mukhbitīn

Artinya: “Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah SWT).”

Syarat Berkurban

Berkurban hukumnya sunnah muakkad. Artinya, sunnah tersebut sangat dianjurkan bagi umat muslim yang memiliki kemampuan untuk berkurban.

Nah, ada sejumlah syarat dalam melaksanakan kurban sesuai ajaran Islam, yakni sebagai berikut:

1. Seorang Muslim

Syarat yang pertama adalah ia merupakan seorang muslim. Bagi orang kafir tidak diwajibkan untuk kurban.

2. Berkecukupan atau Mampu

Seperti yang telah dijelaskan di atas, kurban disunnahkan bagi yang mampu, yakni telah memiliki harta untuk berkurban. Seorang muslim dianggap mampu jika sudah bisa memberi nafkah kepada keluarga.

3. Balig dan Berakal

Kurban dilakukan oleh seorang muslim yang sudah balig atau cukup umur dan berakal. Sementara bagi anak-anak tidak dibebankan untuk berkurban.

Itu dia bacaan doa memotong hewan kurban untuk diri sendiri dan orang lain beserta landasan dalilnya. Semoga artikel ini dapat membantu detikers yang ingin menyembelih hewan kurban.

(ilf/inf)



Sumber : www.detik.com

Tidak Boleh Potong Kuku sebelum Idul Adha, Ini Haditsnya


Jakarta

Terdapat sebuah riwayat yang menyebutkan muslim tidak boleh potong kuku sebelum Idul Adha. Namun, apa maksud dari larangan tersebut?

Hukum memotong kuku dasarnya sunnah. Hal ini didasarkan dari riwayat hadits yang dikutip dari buku Fakta Ilmiah Amal Sunnah Rekomendasi Nabi karya Haviva AB,

Aisyah RA berkata, “Sepuluh dikira sebagai fitrah (sunnah), yaitu memotong kumis, memelihara jenggot, bersuci, memasukkan air ke dalam hidung, memotong kuku, membasuh sendi-sendi, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu ari-ari, bersuci dengan air (beristinja), dan berkumur.” (HR Muslim)


Memotong kuku dianjurkan bagi laki-laki maupun perempuan. Memotong kuku tujuannya adalah menghilangkan kotoran yang melekat di celah-celah kuku yang memungkinkan juga menghalangi air saat bersuci.

Selain itu, ada juga anjuran untuk memotong kuku pada hari-hari tertentu. Hal ini sesuai dengan hadits, “Barang siapa memotong kuku pada hari Jumat, Allah akan menyembuhkannya dari penyakit dan memberikannya keselamatan.” (HR Ibnu Mas’ud)

Dilansir dari sumber sebelumnya, Syekh Muhammad bin Ismail al-Muqaddam menyebutkan ada riwayat tentang tata cara memotong kuku. Memotong kuku ini bisa dilakukan pada Kamis, Jumat, atau hari lainnya.

Meski demikian, disebutnya, batasan waktu memotong kuku dengan hari tertentu tidak dijelaskan dalam hadits yang shahih. Namun, para ulama menganjurkan memotong kuku bersamaan pada Jumat.

Bila memotong itu hukumnya sunnah, lantas mengapa terdapat larangan memotong kuku sebelum Idul Adha?

Mengapa Tidak Boleh Potong Kuku sebelum Idul Adha?

Larangan memotong kuku sebelum Idul Adha didasarkan pada sebuah riwayat dari Ummu Salamah RA, ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

إِذَا دَخَلَ العَشْرُ وَاَرَادَ اَحَدُكُمْ أنْ يُضَعِيفَ يَأخُذُ مِنْ شَعَرِهِ وَلَا مِنْ أَظافِرِهِ حَتَّى يُضَ فلا

Artinya: “Jika telah masuk hari ke-10 dalam bulan Dzulhijjah dan salah seorang dari kamu hendak berkurban, janganlah dia memotong rambut atau kuku sebelum selesai menyembelih.” (HR Muslim)

Mengutip buku Cara Berkurban karya Abdul Muta’al Al-Jabry, menjelaskan adanya perbedaan pendapat terhadap larangan potong kuku sebelum Idul Adha.

Menurut sebagian ulama Hanafiah, juga Ibnu Mundzir dari Ahmad, Ishak, dan Sa’id bin Musayyab, larangan memotong rambut dan kuku dalam hadits tersebut mengandung arti pengharaman. Sementara itu, mazhab Maliki dan Syafi’ berpendapat larangan tersebut sebagai makruh.

Jika larangan diartikan sebagai pengharaman, hal itu bertentangan dengan hadits dari Aisyah RA yang mengatakan:

كنت افْتَرُ فَلَائِدَ هَذِي رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ يُقَلِّدُهَا بِيَدِهِ، ثُمَّ يَبْعَثُ بِهَا ، وَلَا يُحَرِّمُ عَلَيْهِ شَيْءٍ أَحَلَّهُ اللَّهُ حَتَّى يَنْحَرَ الهدي

Artinya: “Aku menuntun tali hadyu (sembelihan) Rasulullah SAW, lalu beliau mengalungkan di tangannya dan mengirim hadyu itu dengannya. Beliau tidak mengharamkan atas sesuatu yang dihalalkan oleh Allah sehingga hadyu itu disembelih.” (HR Bukhari dan Muslim)

Kedua hadits tersebut sama-sama bersanad shahih. Untuk itu, diperlukan jama’ atau sinkronisasi hukum karena tidak boleh ada dua hukum syariat yang saling bertentangan. Menurut syariat, kedudukan hadits yang berupa perkataan Rasulullah SAW lebih kuat daripada hadits yang merupakan fi’il (perbuatan) beliau.

Dengan demikian, dalam masalah ini, hadits Ummu Salamah harus diprioritaskan karena merupakan perkataan langsung Rasulullah SAW. Hadits Aisyah RA hanya menerangkan perbuatan Rasulullah SAW sehingga hadits tersebut wajib ditakwilkan. Untuk itu, afdalnya muslim untuk mematuhi larangan tersebut.

Lebih lanjut, Ammi Nur Baits dalam buku Panduan Qurban dari A sampai Z: Mengupas Tuntas Seputar Fiqh Qurban menyebutkan larangan potong kuku hanya berlaku untuk kepala keluarga (shahibul kurban) dan tidak berlaku bagi anggota keluarganya. Sebab, hadits larangan tersebut ditujukan kepada orang yang hendak berkurban.

Nabi SAW sering berkurban untuk dirinya dan keluarganya. Meski demikian, belum ditemukan riwayat bahwa Rasulullah SAW melarang anggota keluarganya untuk memotong kuku atau rambutnya. (Syarhul Mumti’ 7/529)

Bagaimana jika Melanggar Larangan Potong Kuku?

Masih merujuk sumber yang sama, Syekh Abdul Aziz Ibn Baz dalam kitab Fatawa Islamiyah mengatakan, “Siapa yang memotong rambut atau kukunya, setelah masuk bulan Dzulhijjah, karena lupa atau tidak tahu hukumnya, sementara dia hendak berkurban maka tidak ada kewajiban apapun untuk menebusnya. Karena Allah SWT melepaskan beban bagi hamba-Nya yang tidak sengaja atau lupa.”

Bila kondisinya memang mengharuskan seseorang untuk memotong kukunya (kondisi darurat) maka tidak masalah dilakukan. Hal yang dasar dalam kaidah Islam adalah sesuatu yang darurat membuat hal yang terlarang menjadi boleh sampai kondisi daruratnya hilang.

Sementara itu, orang yang melakukannya dengan sengaja maka dia harus bertobat kepada Allah SWT, tetapi tidak ada kewajiban membayar kafarat.

Wallahu a’lam.

(rah/rah)



Sumber : www.detik.com

Doa Buka Puasa Tarwiyah dan Arafah serta Keutamaan Mengamalkannya


Jakarta

Doa buka puasa Tarwiyah dan Arafah dapat dipanjatkan kaum muslimin yang menjalankan ibadah sunnah tersebut. Pada dasarnya, kedua amalan itu dianjurkan bagi umat Islam yang sedang tidak haji.

Mengutip buku Panduan Muslim Kaffah Sehari-hari dari Kandungan hingga Kematian susunan Muh Hambali, puasa Tarwiyah artinya puasa yang dilakukan saat hari Tarwiyah. Tepatnya ketika jemaah haji menyiapkan perbekalan untuk wukuf di Arafah.

Sementara itu, puasa Arafah merupakan amalan sunnah ketika hari Arafah tiba. Ini bertepatan dengan muslim yang sedang berhaji wukuf di Arafah. Dalil terkait puasa Tarwiyah dan Arafah merujuk pada hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik, Nabi Muhammad SAW bersabda:


“Siapa saja yang berpuasa di hari Tarwiyah (8 Dzulhijjah), maka Allah akan memberikannya pahala seperti pahalanya kesabaran Nabi Ayyub AS atas penyakit yang menimpanya. Siapa yang berpuasa pada hari Arafah (9 Dzulhijjah), maka Allah akan memberikannya pahala Nabi Isa bin Maryam (dalam mengerjakan puasa Arafah). Jika seseorang tersebut belum makan apa-apa di hari raya kurban sampai terlaksananya salat ld, maka ia diberikan pahala orang yang mengerjakan salat itu. Apabila ia meninggal di tanggal berapa pun itu hingga sampai tanggal 30 Dzulhijjah, maka ia tergolong orang yang mati syahid.”

Ketika akan berbuka, muslim bisa membaca doa buka puasa Tarwiyah dan Arafah. Bacaannya sama seperti doa berbuka pada umumnya.

Doa Buka Puasa Tarwiyah dan Arafah: Arab, Latin dan Artinya

Mengutip buku 99 Doa dan Zikir Harian untuk Muslimah yang disusun Wulan Mulya Pratiwi, ada dua versi doa buka puasa Tarwiyah dan Arafah yang dapat dilafalkan. Doa ini didasarkan dari hadits Nabi Muhammad SAW.

1. Doa Buka Puasa Tarwiyah dan Arafah Versi Pertama

اَللّٰهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ

Arab latin: Allaahumma lakasumtu wabika aamantu wa’alaa rizqika afthortu birahmatika yaa arhamar-roohimiina.

Artinya: “Ya Allah karena-Mu aku berpuasa, dengan-Mu aku beriman, kepada-Mu aku berserah dan dengan rezeki-Mu aku berbuka (puasa), dengan rahmat-Mu, Ya Allah yang Tuhan Maha Pengasih.” (HR Imam Bukhari dan Muslim)

2. Doa Buka Puasa Tarwiyah dan Arafah Versi Kedua

ذَهَبَ الظَّمَـأُ، وابْــتَلَّتِ العُرُوقُ، وثَــبَتَ الأَجْرُ إِن شَاءَ اللهُ

Arab latin: Dzahabaz zhama’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru, insyaallah

Artinya: “Rasa dahaga telah hilang, kerongkongan telah basah dan atas kehendak Allah pahala telah ditetapkan. Insya Allah.” (HR Abu Daud)

Keutamaan Membaca Doa Buka Puasa Tarwiyah dan Arafah

Ahmad Sarwat Lc dalam bukunya yang berjudul Puasa Bukan Hanya saat Ramadhan menjelaskan bahwa terdapat keutamaan dari mengamalkan doa buka puasa. Apa saja? Berikut bahasannya.

1. Doa yang Tidak Tertolak

Waktu berbuka termasuk momen mustajab bagi muslim. Hal ini dijelaskan oleh Abdullah bin Amr bin al-Ash, Nabi SAW bersabda:

“Bagi orang yang berpuasa ketika sedang berbuka ada doa yang tak akan tertolak.” (HR Tirmidzi)

2. Ungkapan Syukur atas Nikmat

Membaca doa termasuk salah satu bentuk syukur muslim terhadap nikmat yang Allah SWT berikan. Terlebih, Allah SWT memerintahkan hamba-Nya untuk senantiasa berdoa kepada-Nya.

3. Salah Satu Adab Sunnah Puasa

Dalam buku Dahsyatnya 7 Puasa Wajib, Sunnah & Thibbun Nabawi tulisan Maryam Kinanthi N, salah satu adab puasa adalah menyegerakan berbuka dan berdoa. Karenanya, muslim dianjurkan membaca doa buka puasa Tarwiyah dan Arafah saat berbuka.

Keistimewaan Puasa Tarwiyah dan Arafah

Terdapat keutamaan yang terkandung dari puasa Tarwiyah dan Arafah. Diterangkan dalam buku Siapa Berpuasa Dimudahkan Urusannya karya Khalifa Zain Nasrullah, keutamaannya tercantum dalam sebuah hadits.

“Tidak ada hari di mana suatu amal saleh lebih dicintai Allah melebihi amal saleh yang dilakukan di sepuluh hari ini (sepuluh hari pertama Dzulhijjah).”

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, termasuk lebih utama dari jihad di jalan Allah?”

Rasulullah SAW bersabda, “Termasuk lebih utama dibanding jihad di jalan Allah, kecuali orang-orang yang berangkat berjihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada seorang pun yang kembali” (HR Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)

Puasa Tarwiyah termasuk ke dalam puasa 10 hari pertama Dzulhijjah. Sementara itu, mengenai keutamaan puasa Arafah turut disebutkan dalam hadits lainnya, “Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” (HR Muslim)

Itulah doa buka puasa Tarwiyah dan Arafah beserta pembahasan terkaitnya. Jangan lupa diamalkan, ya!

(aeb/kri)



Sumber : www.detik.com

Doa Menyembelih Hewan Kurban Arab-Latin Sesuai Sunnah


Jakarta

Bagi muslim yang ingin berkurban saat Idul Adha dapat membaca doa menyembelih hewan kurban sebelum prosesi kurban. Adapun bacaan doanya sebagai berikut.

Membaca doa menyembelih hewan kurban Idul Adha sebelum prosesi kurban merupakan sunnah yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Hal ini dinukil dari salah satu riwayat dari Aisyah RA, ia berkata:

“Nabi Muhammad SAW memerintahkan untuk dibawakan dua ekor kambing gibas bertanduk dengan kaki, perut, dan sekitar matanya berwarna hitam. Maka kambing itu diberikan kepada beliau untuk dijadikan kurban. Beliau lalu berkata kepada Aisyah, ‘Wahai Aisyah, asahlah pisau,’


Nabi Muhammad SAW kemudian memegang pisau tersebut kemudian membaringkan dan menyembelih kambing tersebut sambil berkata, “Bismillah (dengan nama Allah). Ya Allah, terimalah (kurban ini) dari Muhammad, keluarganya, dan umatnya’.” (HR Muslim)

Bacaan Doa Menyembelih Hewan Kurban Sesuai Sunnah

Mengutip buku Fikih Madrasah Ibtidaiyah karya H. Muhaemin Nur Idris, M.Ag,, H. A. Nurzaman, MA, berikut doa menyembelih hewan kurban:

  • Doa Menyembelih Kurban Sendiri

بِسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُاَللَّهُمَّ هَذِهِ مِنْكَ وَإِلَيْكَ فَتَقَبَّلْ مِنِّيْ يَا كَرِيْمُ

Bismillahi wallahu akbaru Allahumma hadzihi minka wa ilaika, fataqabbal minni ya karim.

“Dengan menyebut nama Allah dan Allah Maha Besar. Ya Allah kurban ini adalah dari-Mu dan untuk-Mu, maka terimalah kurban dariku.”

Adapun bacaan doa versi panjangnya yang dikutip dari Syekh Wahbah Al-Zuhaili dalam Kitab Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu, sebagai berikut.

وجهت وجهي لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ، إِن صَلاتِي ونسكي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ. بِسْمِ اللهِ الرّحمنِ الرَّحِيمِ. اللهم صل على سيدنا محمدٍ وَعَلَى آلِ سيدنا محمد. الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد. اللهُم هَذِهِ مِنْكَ وَإِلَيْكَ اللهم تقبل مني مِنْ فَلَان كَمَا تَقَبلْتَ مِنْ إِبْرَاهِيمَ خَلِيْلكَ.

Wajjahtu wajhii lilladzii fatharos samaawaati wal ardho haniifaw wamaa ana minal musyrikiin, inna sholaatii wa nusukii wa mahyaaya wa mamaati lillaahi robbil ‘aalamiin, laa syariikalahuu wa bidzaalika umirtu wa ana minal muslimin.

Bismillaahir rahmaanir rohoim, allohumma sholli ‘alaa sayyidinaa muhammadin wa ‘alaa aali sayyidinaa muhammad. Alloohu akbar, alloohu akbar, alloohu akbar, wa lillaahil hamd. Allohumma haadzihii minka wa ilaika fataqobbal minnii/min fulan, kamaa taqobbalta min ibroohim kholiilika.

Artinya: “Aku menghadapkan wajahku (hatiku) kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan keadaan lurus dan menyerahkan diri, dan aku bukanlah dari golongan kaum musyrikin. Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan seluruh alam, tiada sekutu bagi-Nya dan dengan itu aku diperintahkan untuk tidak menyekutukanNya, dan aku termasuk golongan orang muslimin.

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Ya Allah, curahkanlah sholawat kepada Nabi Muhammad dan keluarganya. Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, hanya bagi Allah segala puji. Ya Allah, hewan ini adalah nikmat dari-Mu, dan melalui hewan ini pula mendekatkan diri kepada-Mu. Ya Allah, terimalah dariku (sebut nama orang yang berqurban), sebagaimana Engkau menerima dari Nabi Ibrahim, kekasih-Mu.”

  • Doa Menyembelih Hewan Kurban Orang Lain

بِسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ. اَللَّهُمَّ هَذِهِ مِنْكَ وَإِلَيْكَ فَتَقَبَّلْ مِنْ

Bismillah wallahu akbar. Allahumma minka wa ilaika, fataqabbal min … (ucapkan nama pemilik hewan kurban)

Artinya: “Dengan menyebut nama Allah dan Allah Mahabesar. Ya Allah kurban ini adalah dari-Mu dan untuk-Mu, maka terimalah kurban dari…. (sebutkan nama orang yang kurban).”

Hukum Baca Basmalah sebelum Menyembelih Kurban

Muslim diwajibkan untuk mengucapkan basmalah sebelum menyembelih hewan kurban. Ustaz Abu Abdil Aʼla Hari Ahadi dalam Buku Fiqih Kurban menjelaskan alasan wajib mengucapkan basmalah ialah agar kurbannya diterima Allah SWT dan daging kurbannya halal untuk dikonsumsi.

Allah SWT memerintahkan hal tersebut dalam surah Al An’am ayat 121 yang berbunyi,

وَلَا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ ۗ وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَىٰ أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ ۖ وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ

Artinya: “Janganlah kamu memakan sesuatu dari (daging hewan) yang (ketika disembelih) tidak disebut nama Allah. Perbuatan itu benar-benar suatu kefasikan. Sesungguhnya setan benar-benar selalu membisiki kawan-kawannya agar mereka membantumu. Jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu benar-benar musyrik.”

Mayoritas ulama pun menyetujui hal tersebut, salah satunya Imam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ al Fatawa juga berpendapat jika membaca basmalah sebelum hewan disembelih itu hal yang wajib.

Tata Cara Menyembelih Hewan Kurban

1. Tidak Asah Alat Potong di Depan Hewan

Ketika menyembelih hewan kurban pastikan kita tidak mengasah alat untuk memotong di depan hewan kurban sebagaimana dikatakan dalam sebuah riwayat yang berbunyi, “Rasulullah SAW memerintahkan untuk mengasah pisau, tanpa memperlihatkannya kepada hewan.” (HR Ahmad dan Ibnu Majah)

2. Alat Harus Tajam

Sebelum menyembelih hewan kurban, pastikan alat untuk menyembelih tajam dan tidak tumpul. Sebagaimana yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Diriwayatkan oleh Syaddad ibn Aus RA Beliau bersabda,

“Allah memerintahkan untuk berbuat kebaikan dalam segala hal. Ketika kamu menyembelih, maka lakukanlah dengan cara yang baik, dan ketika kamu menyembelih, maka lakukanlah dengan cara yang baik, serta pastikan pisau yang digunakan tajam, dan tenangkan hewan yang akan disembelih.” (HR Muslim)

Agar memastikan hewan kurban tidak merasakan sakit ketika disembelih, pastikan untuk memotong tenggorokan dan dua urat nadinya yang ada di leher hewan kurban sampai putus.

3. Menyembelih Sendiri

Dianjurkan untuk orang yang berkurban memotong hewan kurbannya sendiri dengan catatan jika orang yang berkurban mampu. Namun, jika tidak mampu, bisa diwakilkan kepada orang lain yang telah memenuhi persyaratan. Orang yang kurban juga disyariatkan untuk ikut menyaksikan prosesi kurban.

4. Hadapkan Hewan ke Arah Kiblat

Usahkana untuk meghadapt kan hewan kurban ke arah kiblat. Hal ini seperti yang disebutkan dalam hadits yang berbunyi sebagai berikut, “Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Dzat yang telah menciptakan langit dan bumi dengan ketulusan dan menyerahkan diri, dan aku bukanlah golongan musyrik. Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku untuk Allah semata, Tuhan seluruh alam. Tiada sekutu bagi-Nya, dan aku diperintahkan demikian, dan aku termasuk golongan orang Muslim. Dengan menyebut nama Allah, Allah Maha Besar, Allah (kurban ini) adalah darimu, untuk-Mu, atas nama Muhammad serta umatnya.” (HR Abu Dawud)

5. Letakkan Kaki di Leher Hewan

Kaki orang yang menyembelih disunahkan untuk ditumpangkan pada leher hewan kurban. Hal ini seperti yang disampaikan oleh Rasulullah SAW, dari Anas bin Malik, ia berkata:

“Rasulullah SAW berkurban dengan dua ekor domba. Aku melihat beliau meletakkan kaki beliau di leher hewan tersebut, lalu membaca basmalah dan takbir.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Wallahu a’lam.

(rah/rah)



Sumber : www.detik.com

Doa Hari Tasyrik, Bisa Dibaca pada 11, 12 dan 13 Zulhijah


Jakarta

Hari tasyrik yaitu sebutan untuk tiga hari setelah Idul Adha. Hari tasyrik jatuh pada 11, 12, 13 Zulhijah pada kalender Islam.

Hari tasyrik bisa dimanfaatkan dengan memperbanyak amalan, salah satunya doa. Terdapat doa khusus yang dianjurkan dibaca di hari tasyrik.

Merangkum buku Rahasia Dahsyat Energi Sapu Jagat oleh M. Ghofur Khalil dijelaskan hari tasyrik merupakan salah satu hari, di mana umat Islam dilarang berpuasa.


Dalam hadits, Rasulullah SAW bersabda “Hari-hari tasyrik adalah hari makan, minum, dan berzikir kepada Allah.” (HR. Muslim).

Hadits ini menjelaskan bahwa pada hari tasyrik, umat Islam dilarang untuk berpuasa.

Beberapa dzikir yang dianjurkan oleh ajaran Islam pada hari tasyrik, yaitu berdzikir kepada Allah SWT dengan bertakbir.

Dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 200, Allah SWT berfirman tentang amalan di hari tasyrik,

فَإِذَا قَضَيْتُم مَّنَٰسِكَكُمْ فَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَذِكْرِكُمْ ءَابَآءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا ۗ فَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَقُولُ رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِى ٱلدُّنْيَا وَمَا لَهُۥ فِى ٱلْءَاخِرَةِ مِنْ خَلَٰقٍ

Artinya: Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat.

Dilanjutkan dengan urat ayat 201,

وَمِنْهُم مَّن يَقُولُ رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِى ٱلدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى ٱلْءَاخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

Artinya: Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”.

Doa Sapu Jagat Hari Tasyrik

Doa sapu jagad merupakan salah satu doa yang dijadikan untuk berdzikir di hari tasyrik. Doa ini juga merupakan doa yang paling banyak dibaca Rasulullah SAW.

Dari Anas bin Malik mengatakan,

“Doa yang paling banyak dibaca oleh Nabi Muhammad SAW, “Allahumma Robbana aatina fid dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qina adzaban naar.”

Berikut bacaan doa sapu jagat:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Bacaan latin: Rabbanā, ātinā fid dunyā hasanah, wa fil ākhirati hasanah, wa qinā ‘adzāban nār

Artinya: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.”

Bacaan doa sapu jagat terbilang ringkas namun sarat akan keutamaan yang mencakup kebaikan segala urusan dunia dan akhirat.

(dvs/lus)



Sumber : www.detik.com

Urutan Lengkap Doa Ziarah Kubur: Arab, Latin dan Artinya


Jakarta

Doa ziarah kubur bisa diamalkan ketika mengunjungi makam keluarga atau kerabat. Ziarah kubur menjadi amalan yang diperbolehkan bagi muslim. Salah satu hikmah dari ziarah adalah untuk mengingatkan pada kematian.

Ziarah kubur merupakan hal yang disyariatkan dalam agama Islam. Hal ini dijelaskan Mutmainah Afra Rabbani S. Ag dalam buku yang berjudul Adab Berziarah Kubur Untuk Wanita, ziarah kubur menjadi amalan yang bisa menjadi pengingat adanya akhirat.

Ziarah kubur termasuk ibadah yang mulia bila dilandasi dengan bimbingan dari Rasulullah SAW.


Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda, “Dahulu aku melarang kalian berziarah kubur, maka (sekarang) berziarahlah. Karena dengannya, akan bisa mengingatkan pada hari akhirat dan akan menambah kebaikan bagi kalian. Maka barang siapa yang ingin berziarah maka lakukanlah, dan jangan kalian mengatakan hujr (ucapan yang buruk).” (HR. Muslim)

Urutan Doa Ziarah Kubur

Berikut doa yang dapat dibacakan ketika melakukan ziarah kubur.

1. Mengucapkan Salam kepada Ahli Kubur

السَّلامُ على أهْلِ الدّيارِ مِنَ المُؤْمنينَ وَالمُسْلمينَ وَيَرْحَمُ اللَّهُ المُسْتَقْدِمِينَ مِنْكُمْ وَمِنَّا وَالمُسْتأخِرِين وَإنَّا إنْ شاءَ اللَّه بِكُمْ لاحِقُونَ

Arab latin: Assalâmu ‘alâ ahlid diyâr minal mu’minîna wal muslimîn wa yarhamullâhul-mustaqdimîn minkum wa minnâ wal musta’khirîn, wa innâ insyâ-Allâhu bikum lâhiqûn

Artinya: Assalamu’alaikum, hai para mukmin dan muslim yang bersemayam dalam kubur. Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada mereka yang telah mendahului dan yang akan menyusul kalian dan (yang telah mendahului dan akan menyusul) kami. Sesungguhnya kami insya allah akan menyusul kalian.

2. Membaca Surat Al Fatihah

Ayat 1

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Latin: bismillâhir-raḫmânir-raḫîm

Artinya: Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Ayat 2

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ

Latin: al-ḫamdu lillâhi rabbil-‘âlamîn

Artinya: Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam

Ayat 3

الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ

Latin: ar-raḫmânir-raḫîm

Artinya: Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,

Ayat 4

مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ

Latin: mâliki yaumid-dîn

Artinya: Pemilik hari Pembalasan.

Ayat 5

اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ

Latin: iyyâka na’budu wa iyyâka nasta’în

Artinya: Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.

Ayat 6

اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ

Latin: ihdinash-shirâthal-mustaqîm

Artinya: Bimbinglah kami ke jalan yang lurus,

Ayat 7

صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَࣖ

Latin: shirâthalladzîna an’amta ‘alaihim ghairil-maghdlûbi ‘alaihim wa ladl-dlâllîn

Artinya: (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) orang-orang yang sesat.

3. Membaca Al Baqarah ayat 1-5

Ayat 1

الٓمٓ
Arab-latin: alif lām mīm
Artinya: “Alif laam miim.”

Ayat 2

ذَٰلِكَ ٱلْكِتَٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ
Arab-latin: żālikal-kitābu lā raiba fīh, hudal lil-muttaqīn
Artinya: “Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,”

Ayat 3

ٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِٱلْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ يُنفِقُونَ
Arab-latin: allażīna yu`minụna bil-gaibi wa yuqīmụnaṣ-ṣalāta wa mimmā razaqnāhum yunfiqụn
Artinya: “(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.”

Ayat 4

وَٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَآ أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ وَبِٱلْءَاخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ
Arab-latin: wallażīna yu`minụna bimā unzila ilaika wa mā unzila ming qablik, wa bil-ākhirati hum yụqinụn
Artinya: “dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.”

Ayat 5

أُو۟لَٰٓئِكَ عَلَىٰ هُدًى مِّن رَّبِّهِمْ ۖ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ
Arab-latin: ulā`ika ‘alā hudam mir rabbihim wa ulā`ika humul-mufliḥụn
Artinya: “Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.”

4. Membaca Ayat Kursi

اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ اَلْحَيُّ الْقَيُّوْمُ ەۚ لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌۗ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗٓ اِلَّا بِاِذْنِهٖۗ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْۚ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖٓ اِلَّا بِمَا شَاۤءَۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَۚ وَلَا يَـُٔوْدُهٗ حِفْظُهُمَاۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ

Arab-latin: allāhu lā ilāha illā huw, al-ḥayyul-qayyụm, lā ta`khużuhụ sinatuw wa lā na`ụm, lahụ mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, man żallażī yasyfa’u ‘indahū illā bi`iżnih, ya’lamu mā baina aidīhim wa mā khalfahum, wa lā yuḥīṭụna bisyai`im min ‘ilmihī illā bimā syā`, wasi’a kursiyyuhus-samāwāti wal-arḍ, wa lā ya`ụduhụ ḥifẓuhumā, wa huwal-‘aliyyul-‘aẓīm

Artinya: “Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mahahidup lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak dilanda oleh kantuk dan tidak (pula) oleh tidur. Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun dari ilmu-Nya, kecuali apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya (ilmu dan kekuasaan-Nya) meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dialah yang Mahatinggi lagi Maha Agung.” (QS. Al-Baqarah: 255)

5. Membaca Al Baqarah ayat 284-286

لِّلَّهِ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۗ وَإِن تُبْدُوا۟ مَا فِىٓ أَنفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُم بِهِ ٱللَّهُ ۖ فَيَغْفِرُ لِمَن يَشَآءُ وَيُعَذِّبُ مَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ
Arab-Latin: lillāhi mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, wa in tubdụ mā fī anfusikum au tukhfụhu yuḥāsibkum bihillāh, fa yaghfiru limay yasyā`u wa yu’ażżibu may yasyā`, wallāhu ‘alā kulli syai`ing qadīr

Artinya: Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

ءَامَنَ ٱلرَّسُولُ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِۦ وَٱلْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِۦ ۚ وَقَالُوا۟ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ ٱلْمَصِيرُ
Arab-Latin: āmanar-rasụlu bimā unzila ilaihi mir rabbihī wal-mu`minụn, kullun āmana billāhi wa malā`ikatihī wa kutubihī wa rusulih, lā nufarriqu baina aḥadim mir rusulih, wa qālụ sami’nā wa aṭa’nā gufrānaka rabbanā wa ilaikal-maṣīr

Artinya: Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat”. (Mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali”.

لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا ٱكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ إِن نَّسِينَآ أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُۥ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِۦ ۖ وَٱعْفُ عَنَّا وَٱغْفِرْ لَنَا وَٱرْحَمْنَآ ۚ أَنتَ مَوْلَىٰنَا فَٱنصُرْنَا عَلَى ٱلْقَوْمِ ٱلْكَٰفِرِينَ
Arab-Latin: lā yukallifullāhu nafsan illā wus’ahā, lahā mā kasabat wa ‘alaihā maktasabat, rabbanā lā tu`ākhiżnā in nasīnā au akhṭa`nā, rabbanā wa lā taḥmil ‘alainā iṣrang kamā ḥamaltahụ ‘alallażīna ming qablinā, rabbanā wa lā tuḥammilnā mā lā ṭāqata lanā bih, wa’fu ‘annā, wagfir lanā, war-ḥamnā, anta maulānā fanṣurnā ‘alal-qaumil-kāfirīn

Artinya: Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”.

6. Membaca Surat Al Ikhlas 3x

1. قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ

Arab-Latin: qul huwallāhu aḥad

Artinya: “Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.”

2. اَللّٰهُ الصَّمَدُۚ

Arab-Latin: allāhuṣ-ṣamad

Artinya: “Allah tempat meminta segala sesuatu.”

3. لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْۙ

Arab-Latin: lam yalid wa lam yụlad

Artinya: “(Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.”

4. وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ

Arab-Latin: wa lam yakul lahụ kufuwan aḥad

Artinya: “Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.”

7. Membaca Surat Al Falaq 3x

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ

1. Qul a’udzu birabbil-falaq
Artinya: Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh (fajar).

مِن شَرِّ مَا خَلَقَ
2. Min syarri ma khalaq
Artinya: dan kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan,

وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ
3. Wa min syarri ghasiqin iza waqab
Artinya: dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,

وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ
4. Wa min syarrin-naffasati fil-‘uqad
Artinya: dan dari kejahatan(perempuan-perempuan) penyihir yang meniup pada buhul-buhul (talinya),

وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ
5. Wa min syarri hasidin idza hasad
Artinya: dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.

8. Membaca Surat An Nas 3x

بسم الله الرحمن الرحيم

Bacaan latin: Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Artinya: Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Ayat 1
قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِۙ – ١

Bacaan latin: Qul a’ụżu birabbin-nās

Artinya: Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhannya manusia,”

Ayat 2
مَلِكِ النَّاسِۙ – ٢

Bacaan latin: Malikin-nās

Artinya: Raja manusia,

Ayat 3
اِلٰهِ النَّاسِۙ – ٣

Bacaan latin: Ilāhin-nās

Artinya: Sembahan manusia,

Ayat 4
مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ ەۙ الْخَنَّاسِۖ – ٤

Bacaan latin: Min sharril-waswāsil-khannās

Artinya: dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi,

Ayat 5
الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِۙ – ٥

Bacaan latin: Allażī yuwas wisu fī ṣudụrin-nās

Artinya: yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,

Ayat 6
مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ ࣖ – ٦

Bacaan latin: Minal-jinnati wan-nās

Artinya: dari (golongan) jin dan manusia.

9. Perbanyak dzikir seperti membaca istighfar dan tahlil

Bacaaan istighfar:

أَسْتَغْفِرُ الله

Astaghfirullah

Artinya: “Aku memohon ampun kepada Allah.”

Bacaan tahlil:

لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ

Artinya, “Tiada tuhan yang layak disembah kecuali Allah. Allah maha besar.”

10. Membaca Doa untuk Jenazah

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَاعْفُ عَنْهُ وَعَافِهِ وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِمَاءٍ وَثَلْجٍ وَبَرَدٍ وَنَقِّهِ مِنْ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَسِ وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِههِ وَقِهِ فِتْنَةَ الْقَبْرِ وَعَذَابَ النَّارِ

Arab latin: Allahummaghfirlahu war hamhu wa’fu ‘anhu wa ‘aafìhii, wa akrim nuzuulahu wawassi’ mudkholahu, waghsilhu bimaa’i wats-tsalji wal baradi, wa naqqihi minal khathaaya kamaa yunaqqatssaubul abyadhu minad danasi. Wa abdilhu daaran khairan min daarihi wa ahlan khairan min ahlihi wa zaujan khairan min zaujihi. Wa qihi fitnatal qabri wa ‘adzaban naar.

Artinya: “Ya Allah, berilah ampunan dan rahmat kepadanya. Berikanlah keselamatan dan berikanlah maaf kepadanya. Berikanlah kehormatan untuknya, luaskanlah tempat masuknya. Mandikanlah dia dengan air, es, dan embun. Bersihkanlah dia dari kesalahan sebagaimana Engkau bersihkan baju yang putih dari kotoran. Gantikanlah untuknya rumah yang lebih baik dari rumahnya, keluarga yang lebih baik dari keluarganya (di dunia), istri yang lebih baik dari isterinya. Dan jagalah ia dari fitnah kubur dan azab neraka.” (HR Muslim).

(dvs/lus)



Sumber : www.detik.com